Inflasi Uni Eropa Merosot, ECB Siap Pangkas Suku Bunga Lagi

AKURAT.CO Inflasi di zona euro mengalami penurunan yang lebih cepat dari perkiraan sebelumnya, memberikan dorongan kuat bagi European Central Bank (ECB) untuk melanjutkan kebijakan pemotongan suku bunga yang kedua kalinya secara berturut-turut.
Penurunan ini menunjukkan bahwa tekanan harga konsumen mulai berkurang lebih signifikan, memberikan ruang bagi ECB untuk melonggarkan kebijakan moneter guna mendukung ekonomi yang tengah melemah.
Dalam laporan terbaru yang dirilis oleh Eurostat melalui lansiran Bloomberg, inflasi konsumen di kawasan euro tercatat turun menjadi 1,7% pada bulan September, dibandingkan dengan 2,2% di bulan sebelumnya.
Angka ini juga lebih rendah dibandingkan dengan estimasi awal yang memperkirakan inflasi berada di level 1,8%. Penurunan ini menunjukkan bahwa upaya pengendalian inflasi yang dilakukan oleh ECB mulai membuahkan hasil, meskipun inflasi di sektor-sektor tertentu masih menunjukkan angka yang lebih tinggi dari target.
Baca Juga: Target Inflasi 2 Persen Bisa Tercapai, ECB Tetap Waspadai Ini
Data tersebut muncul hanya beberapa jam sebelum ECB diperkirakan akan menurunkan suku bunga deposito sebesar 25 basis poin menjadi 3,25%. Penurunan inflasi yang lebih cepat dari yang diperkirakan, dikombinasikan dengan kondisi ekonomi yang memburuk, menjadi faktor utama dibalik ekspektasi keputusan pemotongan suku bunga ini.
Penurunan suku bunga bertujuan untuk mendorong pinjaman dan investasi, sekaligus meredakan tekanan terhadap sektor-sektor yang terdampak oleh tingginya biaya pinjaman dalam beberapa bulan terakhir.
Namun, meskipun pemotongan suku bunga pada hari Kamis (17/10/2024) hampir pasti terjadi, arah kebijakan moneter selanjutnya masih penuh ketidakpastian. Sejumlah pejabat ECB yang dikenal lebih dovish, atau lebih mendukung pelonggaran kebijakan moneter, mendorong langkah-langkah yang lebih agresif dalam menurunkan suku bunga di masa mendatang. Mereka berpendapat bahwa kondisi ekonomi zona euro memerlukan dukungan yang lebih cepat dan lebih signifikan untuk mencegah risiko perlambatan yang lebih dalam.
Di sisi lain, sejumlah pejabat yang lebih hawkish, atau cenderung lebih berhati-hati terhadap kebijakan pelonggaran moneter, mengingatkan bahwa inflasi domestik di beberapa sektor masih berada di atas target. Mereka berargumen bahwa penurunan suku bunga yang terlalu cepat dapat memicu inflasi kembali naik di masa depan, terutama jika inflasi inti, yang mengecualikan harga energi dan makanan, tetap stabil atau meningkat.
Inflasi inti saat ini bertahan di level 2,7%, menunjukkan adanya tekanan harga yang masih signifikan di sektor-sektor tertentu, seperti jasa dan komoditas non-energi.
Menariknya, inflasi sektor jasa, yang sebelumnya menjadi salah satu pendorong utama kenaikan inflasi secara keseluruhan, turun menjadi 3,9% pada bulan September. Ini menandai kali kedua dalam dua tahun terakhir inflasi di sektor tersebut berada di bawah 4%. Penurunan ini memberikan indikasi bahwa tekanan harga dalam sektor jasa mulai mereda, meskipun angka tersebut masih jauh di atas target inflasi ECB yang berada di sekitar 2%.
Meskipun demikian, penurunan inflasi di sektor jasa belum cukup untuk mengurangi kekhawatiran tentang stabilitas inflasi secara keseluruhan. Inflasi inti yang tetap stabil pada 2,7% menunjukkan bahwa ada risiko kenaikan inflasi yang masih mengintai, terutama jika harga energi dan komoditas global kembali naik.
Oleh karena itu, meskipun langkah pemotongan suku bunga diperkirakan akan dilakukan, ECB harus mempertimbangkan dinamika inflasi yang lebih luas dalam memutuskan kebijakan moneter selanjutnya. Dalam jangka pendek, fokus utama ECB adalah menjaga keseimbangan antara mendorong pertumbuhan ekonomi melalui pelonggaran moneter dan mencegah inflasi kembali melonjak di masa mendatang.
Keputusan kebijakan suku bunga berikutnya akan sangat tergantung pada data ekonomi terbaru, termasuk perkembangan inflasi, pertumbuhan ekonomi, dan dampak dari kebijakan suku bunga yang telah diterapkan. Dalam lingkungan ekonomi yang penuh ketidakpastian seperti saat ini, ECB harus siap menyesuaikan kebijakannya dengan cepat untuk menjaga stabilitas ekonomi zona euro.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









