Akurat

Menkeu Pertama Jokowi Sebut Kelas Menengah Turun Karena Pandemi

Hefriday | 14 Oktober 2024, 16:39 WIB
Menkeu Pertama Jokowi Sebut Kelas Menengah Turun Karena Pandemi

AKURAT.CO Pandemi Covid-19 telah membawa perubahan besar di berbagai sektor kehidupan, termasuk dampak signifikan terhadap perekonomian global dan nasional. Salah satu kelompok yang merasakan dampaknya adalah kelas menengah.

Menurut Ekonom Senior yang juga Menteri Keuangan Periode 2014-2016, Bambang Brodjonegoro, pandemi telah mengakibatkan pergeseran signifikan dalam status ekonomi banyak individu di Indonesia. Bambang menjelaskan bahwa pandemi mengubah komposisi kelas menengah secara drastis.

"Tepat sekali, apabila dikatakan secara statistik, jumlah orang yang termasuk golongan kelas menengah itu menurut jumlahnya sebelum dan sesudah Covid-19 signifikan," ujarnya dalam sebuah channel Youtube, dipantau Senin (14/10/2024).

Banyak yang sebelumnya berada di kelas menengah kini jatuh menjadi bagian dari aspiring middle class, sedangkan kelompok aspiring middle class turun menjadi hampir miskin atau rawan miskin. Kondisi ini disebabkan oleh beberapa faktor yang masih berkaitan langsung dengan dampak pandemi itu sendiri.

Selama puncak pandemi, banyak orang yang mengalami pemotongan pendapatan, terutama di sektor-sektor yang terimbas langsung oleh pembatasan aktivitas ekonomi. "Ketika terjadi Covid, kita tahu banyak orang yang terkena dikurangi," kata Bambang.

Baca Juga: Pulihkan Ekonomi, Prabowo Jangan Abaikan Kelas Menengah

Selain itu, banyak pelaku usaha terpaksa menutup bisnis mereka, sehingga pendapatan mereka pun menyusut drastis. Meskipun di tahun 2022 ekonomi mulai pulih, Bambang mencatat bahwa inflasi global turut memberikan tekanan baru, terutama dengan kenaikan suku bunga di Amerika Serikat.

Hal ini memicu pelemahan nilai tukar rupiah, yang pada akhirnya berdampak pada kenaikan harga barang-barang yang masih bergantung pada impor. Menurut Bambang, salah satu dampak yang dirasakan langsung oleh kelas menengah adalah peningkatan biaya kebutuhan pokok, termasuk harga pangan.

"Inflasi harga pangan yang barangkali tidak banyak itu cukup tinggi, pernah 8, pernah 10 persen dan kita tahu kalau harga barang-barang ini sudah naik biasanya sulit untuk turun," tegasnya. Harga barang-barang impor yang terus meningkat menambah tekanan bagi kelompok ini, terutama karena pendapatan mereka tidak lagi stabil pasca pandemi.

Bambang juga menyoroti bahwa penurunan daya beli kelas menengah semakin diperburuk oleh kebijakan yang kurang mendukung industri lokal. Industri tekstil, misalnya, sangat terdampak oleh banjir produk impor, terutama dari China.

"Banyak produk dari China yang membanjiri Indonesia. Dan memang karena secara alami produk China itu lebih murah dari produk Indonesia, ini tentunya sangat memukul industri yang kemudian melahirkan PHK," jelas Bambang.

Secara keseluruhan, pandemi telah memberikan dampak jangka panjang bagi kelas menengah. Penurunan pendapatan, peningkatan harga kebutuhan pokok, dan kebijakan perdagangan internasional yang tidak kondusif bagi industri lokal, semuanya menjadi faktor yang memperparah kondisi mereka.

Bambang menyimpulkan bahwa meskipun ada pemulihan ekonomi, tekanan-tekanan ini masih terus dirasakan hingga sekarang, sehingga menghambat proses pemulihan penuh bagi kelompok kelas menengah di Indonesia.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Yosi Winosa