Akurat

Seperti RI, China Berjuang Dorong Konsumsi Domestik

Demi Ermansyah | 12 Oktober 2024, 21:55 WIB
Seperti RI, China Berjuang Dorong Konsumsi Domestik

AKURAT.CO Dalam upaya untuk memulihkan perekonomian yang lesu, China merencanakan paket stimulus fiskal baru senilai CNY2 triliun.

Namun, tantangan terbesar yang dihadapi oleh pemerintah China saat ini adalah bagaimana mengarahkan stimulus tersebut untuk mendorong konsumsi domestik, yang masih sangat lemah pasca-pandemi.

Salah satu alasan mengapa konsumsi domestik China tetap tertekan adalah rendahnya kepercayaan konsumen. Setelah beberapa tahun mengalami ketidakpastian ekonomi, ditambah dengan pandemi yang memperburuk kondisi, banyak rumah tangga di China cenderung menahan pengeluaran mereka.

Baca Juga: China Bersiap Jual Obligasi CNY2 Triliun Untuk Stimulus Ekonomi

Menurut data terbaru yang dilansir dari Bloomberg menunjukkan bahwa deflasi mulai meningkat, namun masih lemahnya permintaan domestik, meskipun pemerintah telah mengumumkan berbagai langkah dukungan.

Stimulus fiskal yang baru diharapkan dapat membantu memperbaiki situasi ini dengan meningkatkan daya beli konsumen. Beberapa langkah yang mungkin diambil oleh pemerintah termasuk memberikan lebih banyak subsidi kepada kelompok rentan seperti lansia dan keluarga miskin, serta mendistribusikan voucher konsumsi yang dapat digunakan untuk membeli barang-barang kebutuhan.

Selain itu, dukungan untuk keluarga dengan anak-anak, serta insentif untuk membeli mobil dan barang konsumsi lainnya, juga menjadi bagian dari rencana ini.

Namun, tantangan besar lainnya yang dihadapi oleh pemerintah China adalah bagaimana menyeimbangkan kebutuhan untuk mendorong konsumsi dengan risiko utang yang terus meningkat. China selama bertahun-tahun mengandalkan investasi besar di sektor real estate dan infrastruktur untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

Tetapi dengan kelebihan kapasitas yang ada, strategi ini mungkin tidak lagi efektif. Sebaliknya, stimulus yang ditujukan untuk mendorong konsumsi dapat membantu menyeimbangkan kembali perekonomian China, mengurangi ketergantungan pada ekspor dan investasi yang berlebihan.

Beijing telah berhati-hati dalam memberikan bantuan langsung yang besar kepada masyarakat, karena khawatir hal ini akan menimbulkan ketergantungan pada apa yang mereka sebut "kesejahteraan." Namun, dalam situasi ekonomi yang goyah seperti sekarang, pemerintah mungkin tidak punya pilihan lain selain meningkatkan intervensi fiskal untuk mendorong konsumsi.

Selain itu, kebijakan fiskal China selama ini cenderung fokus pada pengeluaran infrastruktur. Namun, seperti yang dijelaskan oleh Chang Shu dan analis dari Bloomberg Economics, pemerintah China kini harus berpikir di luar cara-cara konvensional dan mulai mengeksplorasi alat-alat kebijakan baru untuk mengatasi tantangan ekonomi yang unik.

Dengan berbagai tantangan yang dihadapi, masa depan ekonomi China akan sangat bergantung pada seberapa baik pemerintah mampu mengelola stimulus fiskal ini. Mengarahkan stimulus ke konsumsi domestik, sambil menjaga risiko utang dalam batas yang wajar, akan menjadi kunci untuk memastikan pertumbuhan ekonomi yang lebih berkelanjutan di masa depan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.