4 Pemicu Deindustrialisasi di Era Jokowi
Hefriday | 1 Oktober 2024, 23:08 WIB

AKURAT.CO Sektor industri manufaktur mengalami kemunduran atau dikenal sebagai fenomena deindustrialisasi di era Jokowi. Padahal sektor ini telah lama menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia.
Kontribusinya yang signifikan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) menjadikan sektor ini sebagai penentu utama pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja.
Alih-alih berkembang, sektor manufaktur justru terus mengalami penurunan kontribusi terhadap PDB. Pada 2014, sektor ini masih menyumbang 21,02% terhadap PDB, namun di Semester-I 2024 angkanya telah turun menjadi 18,52%.
Fenomena ini semakin mencolok selama dua periode kepresidenan Joko Widodo, di mana narasi hilirisasi upaya untuk memproses bahan mentah di dalam negeri guna meningkatkan nilai tambah justru tidak sejalan dengan pertumbuhan sektor industri manufaktur.
Fenomena ini semakin mencolok selama dua periode kepresidenan Joko Widodo, di mana narasi hilirisasi upaya untuk memproses bahan mentah di dalam negeri guna meningkatkan nilai tambah justru tidak sejalan dengan pertumbuhan sektor industri manufaktur.
Pertumbuhan sektor ini di periode kedua Jokowi hanya mencapai 2,81% per tahun, lebih rendah dibandingkan periode I yang tercatat sebesar 4,19% per tahun. Kedua angka ini berada di bawah laju rata-rata pertumbuhan ekonomi, yang menandakan bahwa sektor industri mulai tertinggal dari sektor lainnya.
Mengutip berbagai sumber, Selasa (1/10/2024), berikut 4 faktor yang mendorong deindustrialisasi Tanah Air.
1. Kebijakan Industri yang Tidak Efektif
Mengutip berbagai sumber, Selasa (1/10/2024), berikut 4 faktor yang mendorong deindustrialisasi Tanah Air.
1. Kebijakan Industri yang Tidak Efektif
Kebijakan hilirisasi yang diterapkan pemerintah dalam beberapa tahun terakhir memang terdengar menjanjikan. Namun, implementasi di lapangan tidak seefektif yang diharapkan. Salah satu masalah utamanya adalah minimnya investasi di sektor-sektor manufaktur berteknologi tinggi.
Padahal, hilirisasi memerlukan ekosistem industri yang terintegrasi dan didukung oleh teknologi mutakhir. Tanpa itu, upaya untuk memaksimalkan nilai tambah dari hilirisasi justru terbatas pada beberapa sektor saja, seperti pertambangan dan perkebunan, sementara sektor manufaktur berbasis teknologi masih tertinggal.
2. Penurunan Daya Beli Masyarakat
2. Penurunan Daya Beli Masyarakat
Perlambatan sektor manufaktur ini diperparah oleh penurunan daya beli masyarakat. Pandemi Covid-19 menyebabkan kontraksi ekonomi yang signifikan, memaksa banyak perusahaan untuk melakukan efisiensi besar-besaran, termasuk pengurangan tenaga kerja.
Akibatnya, daya beli masyarakat menurun, yang berdampak langsung pada permintaan produk-produk manufaktur. Dengan rendahnya permintaan domestik, sektor ini semakin sulit untuk bertumbuh, terlebih di saat kondisi global juga tidak mendukung ekspansi pasar ekspor.
3. Masifnya PHK dan Krisis Ketenagakerjaan
3. Masifnya PHK dan Krisis Ketenagakerjaan
Selama lima tahun terakhir, sektor manufaktur di Indonesia dihadapkan pada gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang masif. Kondisi ini terjadi karena banyak perusahaan yang terpaksa mengurangi kapasitas produksinya, atau bahkan tutup total, akibat tekanan biaya produksi yang meningkat dan permintaan pasar yang melemah.
Ini bukan hanya masalah ketenagakerjaan, tetapi juga menunjukkan bahwa struktur industri di Indonesia semakin tidak kompetitif. Krisis ketenagakerjaan ini semakin memperburuk situasi ekonomi secara keseluruhan dan berkontribusi pada penurunan kelas menengah.
4. Penurunan Nilai PMI Manufaktur
4. Penurunan Nilai PMI Manufaktur
Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur, sebagai indikator aktivitas industri, telah mencerminkan kondisi sektor manufaktur yang terus melemah. Nilai PMI Manufaktur Indonesia selama beberapa tahun terakhir terus berfluktuasi di bawah angka 50, yang menandakan kontraksi.
Penurunan ini menunjukkan bahwa aktivitas produksi menurun, baik dari sisi permintaan maupun suplai bahan baku. Kondisi ini memperlihatkan betapa rapuhnya sektor manufaktur di tengah gempuran deindustrialisasi.
Deindustrialisasi bukan hanya fenomena sektor manufaktur semata, tetapi juga berdampak luas pada perekonomian nasional. Pertumbuhan ekonomi yang tidak berkualitas menjadi salah satu akibat langsung dari fenomena ini.
Deindustrialisasi bukan hanya fenomena sektor manufaktur semata, tetapi juga berdampak luas pada perekonomian nasional. Pertumbuhan ekonomi yang tidak berkualitas menjadi salah satu akibat langsung dari fenomena ini.
Meskipun Indonesia mencatat pertumbuhan ekonomi, laju tersebut tidak cukup untuk meningkatkan kualitas hidup secara signifikan. Banyak sektor ekonomi lainnya masih bergantung pada ekspor komoditas mentah, yang cenderung kurang stabil dan berisiko tinggi terhadap fluktuasi harga global.
Dengan melemahnya sektor manufaktur, kemampuan Indonesia untuk menciptakan lapangan kerja yang layak dan berkelanjutan juga terancam. Tanpa sektor industri yang kuat, Indonesia akan semakin sulit untuk mencapai visi menjadi negara maju pada 2045, apalagi dengan target pertumbuhan ekonomi yang dipatok sebesar 8% oleh pemerintahan Prabowo-Gibran.
Dengan melemahnya sektor manufaktur, kemampuan Indonesia untuk menciptakan lapangan kerja yang layak dan berkelanjutan juga terancam. Tanpa sektor industri yang kuat, Indonesia akan semakin sulit untuk mencapai visi menjadi negara maju pada 2045, apalagi dengan target pertumbuhan ekonomi yang dipatok sebesar 8% oleh pemerintahan Prabowo-Gibran.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










