Target Inflasi 2 Persen Bisa Tercapai, ECB Tetap Waspadai Ini

AKURAT.CO Para pembuat kebijakan bank sentral Eropa European Central Bank (ECB) harus tetap waspada bahkan dengan pertumbuhan inflasi yang diperkirakan akan melambat hingga 2% pada akhir 2025, kata Joachim Nagel yang merupakan Gubernur Bundesbank, bank sentral Jerman.
"Jika kita melihat gambaran inflasi tahun ini dan tahun depan, kami berasumsi bahwa kami akan mencapai target kami paling lambat pada akhir tahun 2025," katanya pada acara open day lembaganya di Frankfurt.
"Namun saya juga tahu, sayangnya, begitulah inflasi, bahwa kami harus tetap fokus karena sebagai bank sentral, ada banyak hal, seperti harga energi, yang tidak dapat kami kendalikan." Bankir sentral Jerman itu berbicara dua hari setelah ECB memangkas suku bunga untuk kedua kalinya sejak Juni dan mengkonfirmasi proyeksi ekonomi yang memperkirakan pertumbuhan harga konsumen rata-rata 2,2% pada 2025 dan 1,9% pada 2026.
Nagel, yang termasuk Anggota Dewan Gubernur ECB yang lebih agresif, mengatakan inflasi dulunya merupakan "binatang rakus", tetapi sekarang tidak lagi dapat digambarkan seperti itu.
Baca Juga: Ini Sebab ECB Pangkas Suku Bunga Secara Agresif
Sebelumnya, Bank Sentral Eropa (ECB) baru saja menurunkan suku bunga lagi tahun ini karena inflasi mulai mendekati target 2% dan kekhawatiran tentang kondisi ekonomi semakin besar. Suku bunga deposito utama dipangkas 25 basis poin jadi 3,5% pada Kamis, 12 September 2024, sesuai prediksi banyak analis. ECB mengatakan mereka belum bisa memastikan akan ada pemangkasan bunga lebih lanjut atau tidak.
Menurut ECB melalui lansiran Bloomberg, langkah ini diambil karena mereka melihat tren inflasi, kebijakan moneter, dan kondisi ekonomi membutuhkan sedikit pelonggaran agar ekonomi bisa tetap bergerak. Trader kini memprediksi akan ada tambahan pemotongan bunga 36 basis poin lagi hingga akhir tahun.
Seperti bank sentral lainnya, ECB mulai lebih optimis bahwa inflasi mulai terkendali. Namun, di sisi lain, ekonomi di zona euro yang terdiri dari 20 negara ini kehilangan momentum. Rumah tangga belum mampu mendorong pemulihan ekonomi, sementara sektor manufaktur lesu karena permintaan luar negeri yang rendah.
ECB pun menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi untuk 2024, 2025, dan 2026. Sekarang, mereka memperkirakan pertumbuhan ekonomi tahun ini hanya sebesar 0,8%, turun sedikit dari proyeksi sebelumnya di 0,9%. Sementara itu, proyeksi inflasi tetap stabil.
Pemotongan suku bunga ini terjadi tak lama sebelum bank sentral AS, The Fed, diprediksi akan mulai melonggarkan kebijakan moneter. Bank of England juga sudah menurunkan suku bunga sekali tahun ini.
Gubernur ECB, Christine Lagarde, kemungkinan akan ditanya tentang berapa banyak lagi pemotongan suku bunga yang akan mereka lakukan pada konferensi pers setelah pengumuman tersebut.
Inflasi yang turun ke 2,2% pada Agustus dan lambatnya kenaikan upah membuat ECB lebih percaya diri, meski ada kekhawatiran pertumbuhan harga di sektor jasa yang justru naik 4,2%.
Beberapa pejabat, seperti Isabel Schnabel, mengatakan bahwa pemotongan suku bunga tidak bisa dilakukan secara otomatis, harus berdasarkan data. Sementara, Philip Lane, kepala ekonom ECB, memperingatkan bahwa suku bunga yang terlalu tinggi bisa memperlambat ekonomi.
Analis memprediksi akan ada pemotongan suku bunga setiap kuartal hingga September 2025, namun dengan ekonomi yang masih lemah, beberapa bank seperti Goldman Sachs memprediksi pemotongan bisa terus berlanjut hingga suku bunga deposito mencapai 2% pada Juli tahun depan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









