Akurat

Ekonomi Melambat, Anak Muda China Banyak Yang Tunda Pernikahan

Demi Ermansyah | 7 Agustus 2024, 12:36 WIB
Ekonomi Melambat, Anak Muda China Banyak Yang Tunda Pernikahan

AKURAT.CO Jumlah pasangan yang menikah di China pada paruh pertama tahun ini mencapai titik terendah sejak 2013. Di mana fenomena tersebut mencerminkan tren di mana semakin banyak anak muda menunda pernikahan dan menjomblo atau single di tengah perlambatan ekonomi dan kenaikan biaya hidup yang signifikan.

Seperti yang diketahui, saat ini pertumbuhan ekonomi China yang melambat telah menciptakan ketidakpastian finansial, membuat banyak anak muda merasa tidak siap untuk mengambil komitmen besar seperti pernikahan. Diketahui angka pernikahan di China memiliki keterkaitan erat dengan jumlah kelahiran, dan penurunan ini kemungkinan besar akan mengecewakan para pembuat kebijakan yang berusaha meningkatkan populasi yang telah menurun selama dua tahun berturut-turut.

Melansir dari Reuters dan beberapa laman lainnya, penurunan jumlah pernikahan ini juga dapat berdampak negatif pada dinamika sosial dan ekonomi di China, termasuk penurunan tingkat kelahiran yang bisa memperburuk masalah populasi menua yang sudah dihadapi negara tersebut.

Baca Juga: China Gelontorkan USD20 Miliar Stimulus Fiskal

Menurut data pendaftaran pernikahan yang dikutip dari Reuters, sebanyak 3,43 juta pasangan menikah dalam enam bulan pertama tahun ini. Angka ini mengalami penurunan sebesar 498.000 dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Penurunan ini menandakan adanya perubahan signifikan dalam sikap dan prioritas generasi muda China terhadap pernikahan.

Pernikahan di China dipandang sebagai prasyarat untuk memiliki anak karena berbagai insentif dan kebijakan yang diberlakukan oleh pemerintah. Misalnya, banyak kebijakan negara yang mensyaratkan orang tua untuk menunjukkan surat nikah saat mendaftarkan anak mereka dan menerima tunjangan negara.

Tanpa surat nikah, banyak hak dan manfaat yang tidak dapat diakses oleh pasangan dan anak mereka, sehingga menunda pernikahan juga berarti menunda hak-hak tersebut. Penurunan angka pernikahan ini juga mencerminkan tantangan yang dihadapi oleh pemerintah China dalam mendorong warganya untuk menikah dan memiliki anak.

Meskipun berbagai insentif telah ditawarkan, banyak anak muda yang tetap enggan menikah karena beban finansial dan tekanan hidup yang semakin tinggi. Kenaikan biaya hidup, termasuk harga rumah yang melambung tinggi di kota-kota besar, turut menjadi faktor yang membuat anak muda ragu untuk menikah.

Selain itu, perubahan nilai-nilai sosial dan budaya juga berperan dalam penurunan angka pernikahan ini. Generasi muda China semakin mengedepankan karir dan kebebasan pribadi, serta cenderung menunda pernikahan hingga merasa lebih mapan secara finansial dan emosional.

Kondisi ini menuntut para pembuat kebijakan untuk terus mencari cara yang lebih efektif dalam menangani masalah demografis ini dan menciptakan lingkungan yang lebih kondusif bagi anak muda untuk menikah dan membentuk keluarga. Dengan demikian, penurunan angka pernikahan di China tidak hanya mencerminkan tantangan ekonomi, tetapi juga perubahan sosial yang signifikan.

Upaya untuk meningkatkan angka pernikahan dan kelahiran memerlukan pendekatan yang komprehensif, yang tidak hanya mencakup insentif finansial tetapi juga kebijakan yang mendukung kesejahteraan dan stabilitas bagi generasi muda.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.