Akurat

Rupiah Berbalik Naik Tipis 6,5 Poin ke Rp16.213,5

M. Rahman | 23 Juli 2024, 16:33 WIB
Rupiah Berbalik Naik Tipis 6,5 Poin ke Rp16.213,5

AKURAT.CO Rupiah ditutup menguat tipis 6,5 poin ke level Rp16.213,5 pada perdagangan Selasa, 23 Juli 2024. Pengamat Komoditas dan Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi mengatakan rupiah ditopang sentimen eksternal dan internal.

Dari eksternal, ketidakpastian mengenai pemilihan presiden AS meningkat minggu ini setelah Presiden Joe Biden menarik diri dari pencalonannya kembali, dan malah mendukung Wakil Presiden Kamala Harris. Harris terlihat mendapatkan cukup banyak delegasi dari Partai Demokrat untuk menjadi calon presiden dari partai tersebut, meskipun dia belum dicalonkan secara resmi.

Meski begitu, Trump terlihat unggul dalam jajak pendapat dibandingkan Biden dan Harris, menurut data jajak pendapat CBS dan HarrisX minggu lalu. Namun jajak pendapat belum mencerminkan dampak mundurnya Biden.

"Meskipun ketidakpastian politik ini memicu aliran dana safe-haven ke dalam emas, ketahanan dolar membatasi aliran ini. Namun, emas tetap memperoleh keuntungan yang kuat tahun ini, di tengah meningkatnya optimisme bahwa Federal Reserve akan mulai menurunkan suku bunga mulai bulan September," ujar Ibrahim dikutip Selasa (23/7/2024).

Baca Juga: Joe Biden Undur Diri, Rupiah Melemah 29 Poin ke Rp16.220

Bank sentral akan mengadakan pertemuan minggu depan dan diperkirakan akan mempertahankan suku bunga tetap stabil pada saat itu. Data dari China menunjukkan pertumbuhan ekonomi melambat pada kuartal kedua, dengan penurunan suku bunga yang tidak terduga pada hari Senin tidak banyak mengangkat semangat.

Sidang Pleno Ketiga Partai Komunis China hanya menghasilkan sedikit rincian dari Beijing mengenai rencana untuk memberikan lebih banyak dukungan ekonomi. Kekhawatiran terhadap kebijakan moneter AS yang lebih ketat, yang berasal dari kemungkinan Trump menjadi presiden, juga membuat para pedagang waspada terhadap aset-aset yang terekspos di China.

Sentimen Internal

Dari internal, ambisi Presiden Terpilih Prabowo Subianto yang menginginkan pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa mencapai 8% selama lima tahun masa kepemimpinannya akan sulit tercapai, bila permasalahan struktural ekonomi Indonesia tak dibenahi.

Karena permasalahan ini, selama dua periode Presiden Joko Widodo menjabat, pertumbuhan ekonomi Indonesia stagnan di kisaran 5%. Target Jokowi saat masa kampanye Pilpres pada 2014 silam pun tak pernah tercapai, yakni membuat ekonomi Indonesia tumbuh 7%.

Stagnannya pertumbuhan ekonomi Indonesia di level 5% dipicu oleh tak terjaganya daya beli masyarakat Indonesia, khususnya kelas menengah. Untuk diketahui, pada 2015 atau tahun pertama Jokowi efektif menjalankan roda pemerintahan, pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya 4,8% secara tahunan atau year on year (yoy), melambat dibandingkan 5,02% pada 2014, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS).

Pada 2016, pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya mampu kembali ke level 5,03%, lalu pada 2017 sebesar 5,07%, 2018 mencapai 5,17%, dan 2019 kembali ke level 5,02%. Pada 2020 atau saat merebaknya Pandemi Covid-19 ekonomi Indonesia terkontraksi hingga minus 2,07%.

Saat 2021, ekonomi Indonesia mulai kembali bergeliat dengan pertumbuhan sebesar 3,7%. Lalu, pada 2022 naik menjadi 5,31%, dan pada 2023 hanya mampu bergerak ke level 5,05%. Pada kuartal pertama 2024 pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya mencapai 5,11%.

Sumber pertumbuhan ekonomi Indonesia mayoritas memang ditopang oleh konsumsi rumah tangga. Hingga 2023, porsi konsumsi masyarakat terhadap laju pertumbuhan ekonomi mencapai 53,18%. Pada kuartal pertama 2024 bahkan porsinya membengkak menjadi 54,93%.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
M. Rahman
Yosi Winosa