Tak Kunjung Usai, Rusia Kembali Dihajar Sanksi Ekonomi AS
AKURAT.CO Babak baru sanksi ekonomi yang dijatuhkan kembali kepada Rusia nampaknya masih belum menemukan benang merahnya, dari Uni Eropa hingga Amerika Serikat sanksi beruntun pun terus diberikan kepada Rusia. Akibat dari sanksi ekonomi yang diberikan tersebut menyebabkan berhentinya perdagangan dolar dan euro di Bursa Moskow.
Usut punya usut, sanksi tersebut bertujuan untuk memotong aliran dana dan barang yang mendukung perang Rusia di Ukraina. Karena penerapan sanksi oleh Amerika Serikat terhadap Moscow Exchange Group, perdagangan dan penyelesaian instrumen yang dapat diserahkan dalam dolar AS dan euro ditangguhkan.
Hal tersebut menandakan bahwa baik bank, perusahaan maupun para investor tidak lagi dapat memperdagangkan mata uang tersebut melalui bursa sentral, yang menawarkan keuntungan dalam hal likuiditas, kliring, dan pengawasan. Mau tidak mau mereka harus beralih ke perdagangan over-the-counter (OTC), dimana transaksi dilakukan langsung antara dua pihak.
Baca Juga: Mantap, Rusia Kian Jauhi Dolar AS
Bank sentral Rusia pun menjelaskan akan menggunakan data OTC untuk menetapkan nilai tukar resmi. Sebab saat ini banyak warga Rusia yang menyimpan sebagian tabungan mereka dalam bentuk dolar atau euro, mengingat krisis berkala selama beberapa dekade terakhir ketika nilai rubel anjlok. Bank sentral meyakinkan masyarakat bahwa simpanan ini aman.
"Perusahaan dan individu dapat terus membeli dan menjual dolar AS dan euro melalui bank-bank Rusia. Semua dana dalam dolar AS dan euro di rekening dan simpanan warga dan perusahaan tetap aman," tulis statement tersebut dikutip Jumat (14/6/2024).
Bahkan salah satu eksportir komoditas besar Rusia yang tidak terkena sanksi mengatakan kepada Reuters bahwa pihaknya tidak peduli sebab pemakaian mata uang yuan masih berlaku.
Tentunya hal tersebut dapat terjadi karena Moskow menjalin hubungan perdagangan dan politik yang sangat erat dengan Beijing, sehingga yuan China dapat mampu menggantikan dolar sebagai mata uang yang paling banyak diperdagangkan di MOEX (Bursa saham Rusia), mencapai 53,6% dari seluruh mata uang asing yang diperdagangkan pada bulan Mei.
Menurut data LSEG, volume perdagangan rubel-dolar di MOEX sekitar USD11 juta per hari, sementara perdagangan rubel-euro berkisar sekitar 300 juta rubel setiap hari. Untuk perdagangan yuan-rubel, volume hariannya kini mencapai RUB8 miliar. Menjelang hari libur nasional, rubel ditutup pada 89,10 terhadap dolar dan 95,62 terhadap euro. Namun setelah berita sanksi tersebut, beberapa bank segera menaikkan nilai tukar dolarnya.
Merespon hal tersebut, Norvik Bank mengatakan pihaknya menawarkan untuk membeli dolar hanya dengan RUB50 tetapi menjualnya seharga RUB200, meskipun kemudian menyesuaikan tarifnya menjadi 88,20/97,80.
Tak hanya Norvik, Tsifra Bank membeli dollar dengan harga 89 rubel dan menjualnya dengan harga RUB120. Bank-bank besar lainnya mengutip spread yang lebih sempit yaitu RUB6-7 antara harga beli dan jual.
Seperti yang diketahui, Departemen Keuangan AS mengatakan pihaknya menargetkan arsitektur sistem keuangan Rusia, yang telah diorientasikan untuk memfasilitasi investasi dalam industri pertahanan dan perolehan barang-barang yang diperlukan untuk melanjutkan agresi terhadap Ukraina.
Meskipun begitu, Bank sentral Rusia dikabarkan sudah bersiap menghadapi sanksi tersebut selama sekitar dua tahun. Pada Juli 2022, bank tersebut menyatakan sedang membuat model berbagai skenario sanksi dengan pelaku pasar valas dan organisasi infrastruktur.
Bahkan Forbes Rusia melaporkan pada tahun 2022 bank sentral sedang mendiskusikan mekanisme untuk mengelola nilai tukar dolar-rubel jika perdagangan bursa dihentikan jika terjadi sanksi terhadap MOEX dan Pusat Kliring Nasionalnya, yang juga terkena dampak sanksi baru tersebut. MOEX dalam pernyataannya menjelaskan bahwa perdagangan saham dan pasar uang yang diselesaikan dalam dolar dan euro juga akan dihentikan. Meskipun, sanksi tersebut akan merugikan keuntungan bursa karena memangkas volume perdagangan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










