Akurat

Mantap, Rusia Kian Jauhi Dolar AS

Demi Ermansyah | 10 Juni 2024, 14:45 WIB
Mantap, Rusia Kian Jauhi Dolar AS

AKURAT.CO Rusia tetap dalam komitmennya dalam menjalankan rencana meninggalkan penggunaan dolar AS. Dimana Vladimir Putin selaku Presiden Rusia menegaskan bahwa Dollar AS merupakan mata uang beracun.

Dilansir Business Insider, dalam pidatonya di Forum Ekonomi Internasional St. Petersburg, Putin mengomentari penurunan penggunaan mata uang Barat di Rusia dan meningkatkan penggunaan rubel dalam perdagangan meskipun di akhir tahun 2023 lalu nilainya sempat anjlok.

"Tahun lalu, porsi pembayaran ekspor Rusia dalam mata uang Dolar oleh negara-negara yang tidak bersahabat berkurang setengahnya. Sementara porsi rubel dalam transaksi ekspor dan impor meningkat, saat ini mendekati 40 persen," papar Putin.

Baca Juga: Bank Sentral Rusia Tahan Suku Bunga di 16 Persen

Lebih lanjut dirinya menyatakan bahwa Rusia akan meningkatkan penggunaan mata uang nasional dalam perdagangan internasional untuk meningkatkan keamanan dan efisiensi, termasuk melalui kerjasama dengan BRICS.

Tak hanya itu saja. Rusia juga akan mendorong penggunaan mata uang BRICS dalam perdagangan dan menetapkan beberapa tujuan ekonomi ambisius untuk tahun 2030 seperti mengurangi impor, meningkatkan investasi dalam aset tetap sebesar 60%, dan menggandakan nilai pasar saham Rusia.

Seperti yang diketahui, semenjak konflik Rusia ke Ukraina pada tahun 2022 hingga terkena sanksi dari negara-negara Barat, Rusia dengan mantap mulai menjauh dari dolar. Putin mengkritik pembatasan perdagangan, seperti pembatasan harga minyak Rusia, sebagai tindakan yang bodoh.

Meskipun berkomitmen pada de-dolarisasi, Rusia menghadapi tantangan besar karena dominasi dolar AS dalam perdagangan global dan keuangan serta perannya sebagai investasi safe-haven. Ketegangan geopolitik yang berkelanjutan antara Rusia dan Barat juga menghambat kemajuan de-dolarisasi.

Namun, komitmen Rusia untuk mengurangi ketergantungannya pada dolar AS mencerminkan tren global yang lebih luas, di mana negara-negara mencoba mendiversifikasi kepemilikan mata uang mereka dan mengurangi risiko geopolitik.

Meski dampaknya terhadap status dolar AS mungkin terbatas, upaya Rusia untuk mempromosikan mata uang alternatif menunjukkan perubahan signifikan dalam lanskap moneter global dan menyoroti dinamika kekuatan ekonomi yang terus berkembang di abad ke-21.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.