Soal Stunting, Bappenas: Sedikit Sekali Penurunannya Padahal Anggaran Cukup Besar

AKURAT.CO Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) menyatakan bahwa target Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk menurunkan angka prevalensi stunting menjadi 14% masih sulit dicapai.
Meskipun berbagai upaya telah dilakukan, data menunjukkan bahwa prevalensi stunting hanya turun dari 21,6% pada 2022 menjadi 21,5% pada 2023. "Sedikit sekali penurunannya, padahal anggarannya sudah cukup besar yang digelontorkan," kata Menteri PPN/Kepala Bappenas, Suharso Monoarfa, dikutip Senin (10/6/2024).
Pada 2022, anggaran yang dikeluarkan untuk percepatan pencegahan stunting mencapai Rp44,8 triliun. Anggaran tersebut terdiri dari belanja pada 17 kementerian dan lembaga (K/L) senilai Rp34,1 triliun, dana alokasi khusus (DAK) fisik Rp8,9 triliun, dan DAK nonfisik senilai Rp1,8 triliun. Namun, Suharso mencatat bahwa salah satu sebab kurang efektifnya program ini adalah tersebarnya belanja terkait program di beberapa K/L.
Baca Juga: Menkes Dorong Pelatihan SDM Untuk Optimalkan Pengukuran Data Stunting
"Sering saya sampaikan biasanya kita melakukan program-program seperti itu dengan program multi tagging di beberapa K/L. Akhirnya seakan-akan anggarannya besar, tetapi efektivitasnya tidak sesuai sebagaimana anggaran yang tersedia itu. Nah, kami ingin itu dirasionalkan," ujarnya.
Selain itu, kapabilitas pemerintah daerah (pemda) dalam melaksanakan program penanganan stunting juga menjadi kendala. Meskipun anggaran dari pemerintah pusat sudah disalurkan ke daerah melalui DAK, kapasitas pemda dalam mengelola dan melaksanakan program tersebut masih terbatas.
"Daerah anggarannya terbatas, anggaran dari nasional digelontorkan ke daerah itu juga terbatas. Lalu, tidak semua daerah yang diintervensi, kami hanya intervensi ke daerah yang stunting-nya tinggi," ujar Suharso.
Intervensi yang hanya dilakukan pada daerah dengan angka stunting tinggi membuat penurunan prevalensi stunting secara nasional tidak terlalu signifikan. Namun, Suharso menegaskan bahwa terdapat penurunan prevalensi stunting yang signifikan khusus di daerah-daerah yang mendapatkan intervensi dari pemerintah pusat.
Dalam rangka mencapai target penurunan prevalensi stunting, perlu adanya perbaikan dalam alokasi anggaran dan peningkatan kapabilitas pemerintah daerah. Langkah-langkah ini diharapkan dapat meningkatkan efektivitas program penanganan stunting sehingga target yang telah ditetapkan oleh Presiden Jokowi dapat tercapai.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kecelakaan Maut di Afrika Selatan, 21 Orang Tewas dalam Tabrakan Tiga Kendaraan
- 2Terpukau Atmosfer Persija vs Persib di SUGBK, John Herdman: Belum Pernah Saya Rasakan
- 3Apa Itu Gempa Megathrust? Ini Wilayah Indonesia yang Berpotensi Terdampak
- 4Tokoh Partai Reformasi Britania Raya Balas Trump soal Irlandia Bersatu: Jangan Campuri Politik Inggris!
- 5Soal Kabar Jokowi-Megawati Bakal Bertemu, Said Abdullah: Kartunya Mati, Jangan Dihidupkan Lagi
- 6Suahasil Nazara Jadi Menkeu Baru, Ini Sosok dan Perjalanan Kariernya
- 7ACL Two: FC Seoul Siapkan Pemain SMA Lawan Persib Bandung, Anggap Remeh?
- 8Ismed Sofyan Puji Shin Tae-yong Usai Persija Kalahkan Persib, Putuskan Kebuntuan 3 Tahun
- 9Sidang Korupsi Kuota Haji Ungkap Marwan Dasopang Mendorong Kuota Tambahan Tidak Seluruhnya untuk Jemaah Reguler
- 10Fahd A Rafiq Bersama Tujuh Tersangka OTT Summarecon Digiring ke Mobil Tahanan KPK








