Akurat

Akhiri Pekan, Rupiah Nanjak 102 Poin ke Rp16.083

M. Rahman | 3 Mei 2024, 17:11 WIB
Akhiri Pekan, Rupiah Nanjak 102 Poin ke Rp16.083

AKURAT.CO Rupiah ditutup menguat 102 poin ke level Rp16.083 pada perdagangan Jumat, 3 Mei 2024 jelang rilis data nonfarm payrolls AS nanti malam.

Pengamat Pasar Uang dan Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi mengatakan rupiah ditopang sentimen eksternal dan internal.

Dari eksternal, pelemahan dolar memberikan ruang bernapas bagi mata uang regional, meskipun mata uang tersebut masih mengalami penurunan besar karena prospek suku bunga AS tetap tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama.

"Data nonfarm payrolls yang akan dirilis pada hari Jumat diperkirakan akan menjadi faktor lebih lanjut dalam prospek suku bunga. Tanda-tanda kekuatan yang terus-menerus di pasar tenaga kerja memberi The Fed lebih banyak ruang untuk mempertahankan suku bunga tetap tinggi lebih lama," ujarnya dikutip Jumat (3/5/2024).

Baca Juga: Rupiah Menguat 74 Poin ke Rp16.185

Bank sentral baru-baru ini memperingatkan bahwa hal ini kemungkinan akan tetap terjadi dalam jangka pendek, dengan inflasi yang tinggi juga memberi sedikit alasan bagi The Fed untuk menurunkan suku bunga. Namun The Fed juga mengisyaratkan bahwa pihaknya tidak berniat menaikkan suku bunga lebih lanjut.

Para pedagang dan analis mengaitkan penurunan ini sebagian besar dengan intervensi pasar mata uang oleh pemerintah Jepang. Pasangan USDJPY telah melonjak ke 160 awal pekan ini. Para pedagang mengatakan level ini adalah batasan baru untuk intervensi pasar mata uang. Pasar domestik Jepang tutup pada hari Jumat.

Namun volume yang lebih rendah juga membantu yen. Namun, faktor-faktor yang mendorong pelemahan yen baru-baru ini masih berpengaruh, terutama prospek suku bunga AS yang tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama.

Sentimen Internal

Bank Indonesia melaporkan bahwa Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada April 2024 tetap terjaga dalam kisaran sasaran 2,5±1%. Inflasi IHK April 2024 tercatat sebesar 0,25 persen (mtm), sehingga secara tahunan menjadi 3 persen (yoy).

Hal ini akibat Kerjasama yang apik antara pemerintah dan BI yang telah menjaga inflasi melalui kebijakan moneter yang konsisten dan sinergi yang erat. Konsistensi ini didukung oleh Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan di berbagai daerah.

Inflasi inti juga tetap terkendali, meskipun mengalami sedikit peningkatan. Data menunjukkan bahwa inflasi inti pada April 2024 mencapai 0,29% (mtm), dengan kontribusi utama dari komoditas emas perhiasan, minyak oreng dan gula pasir.

Namun, kelompok volatile food mengalami deflasi sebesar 0,31% (mtm) pada bulan yang sama, terutama disebabkan oleh penurunan harga cabai merah, beras, dan telur ayam ras. Sementara itu, kelompok administered prices mengalami kenaikan inflasi, terutama dipengaruhi oleh kenaikan tarif angkutan udara dan antarkota, serta sigaret kretek mesin.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
M. Rahman
Yosi Winosa