Rupiah Tembus Rp16.000 per Dolar AS, Ini Yang Harus Dilakukan Importir

AKURAT.CO Nilai rupiah dibuka melemah 1,33% menjadi Rp16.050 per dolar AS pada Selasa, 16 April 2024. Ini merupakan level terendah sejak tahun 2020 lalu ketika mencapai Rp16.000 per dolar AS.
Pada pekan lalu, pasar keuangan global menyaksikan sejumlah peristiwa signifikan yang mengakibatkan perubahan berarti. Faktor utama yang mempengaruhi pasar adalah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah dan penguatan dollar AS.
Menurut analisis Chief Economist PermataBank Josua Pardade, kombinasi dari dua faktor ini telah memberikan dampak yang kuat terhadap nilai tukar mata uang dan pasar keuangan secara keseluruhan.
"Kedua sentimen tersebut telah berdampak besar terhadap nilai tukar dan pasar keuangan secara keseluruhan," kaya Josua kepada Akurat.co, Selasa (16/4/2024).
Pertama, ketegangan di Timur Tengah semakin meruncing sebagai akibat dari insiden yang terjadi pada tanggal 10 April di Gaza Strip. Serangan yang dilakukan oleh Israel menyebabkan tewasnya 3 putra dan 4 cucu pemimpin Hamas.
Baca Juga: 10 Mata Uang Terendah di Dunia, Termasuk Rupiah
Reaksi terhadap peristiwa ini tidak hanya mempengaruhi wilayah tersebut tetapi juga memicu kekhawatiran di pasar keuangan global.
Sementara itu, di sisi lain, data ekonomi AS merilis berita yang cukup positif. Angka-angka terbaru menunjukkan penurunan tingkat pengangguran AS menjadi 3,8%, dari 3,9% bulan sebelumnya.
Selain itu, Non-Farm Payroll untuk bulan Maret mencatatkan peningkatan signifikan, mencapai 303.000, dibandingkan dengan 270.000 bulan sebelumnya. Ini merupakan indikator yang solid bagi kesehatan ekonomi AS.
Dampak dari kedua faktor ini terasa kuat dalam penguatan dolar AS terhadap mata uang utama dunia. Indeks dolar menguat hingga 1,7% dalam satu minggu, mencapai level tertinggi sejak November 2023. Kenaikan nilai dolar ini juga mempengaruhi nilai tukar rupiah, yang terdepresiasi sebesar 1,5% terhadap dolar AS.
"Penguatan dolrar index hingga 1,7 persen dalam sepekan mencapai level tertinggi sejak November 2023," ucapnya.
Bank Indonesia (BI) langsung bertindak untuk mengendalikan pelemahan nilai tukar rupiah. BI melakukan intervensi di pasar spot dan pasar derivatif, mencoba untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
Josua menambahkan bahwa meskipun nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menembus level Rp16.000, kondisi ekonomi Indonesia saat ini jauh berbeda dari krisis ekonomi sebelumnya. Fundamental ekonomi Indonesia masih solid, dengan pertumbuhan ekonomi yang stabil, inflasi terkendali, dan neraca perdagangan yang surplus.
Para pelaku usaha, terutama yang memiliki ketergantungan pada impor, disarankan untuk menggunakan transaksi lindung nilai untuk mengurangi risiko akibat fluktuasi nilai tukar.
Sementara itu, masyarakat umum diingatkan bahwa dampak pelemahan rupiah terhadap daya beli mereka cenderung terbatas, karena mayoritas pendapatan dan pengeluaran mereka masih dalam mata uang rupiah.
Selanjutnya, Josua menegaskan bahwa prospek nilai tukar rupiah ke depannya masih sangat dipengaruhi oleh kebijakan suku bunga AS. Jika suku bunga AS mengalami penurunan, ini dapat menguntungkan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Oleh karena itu, para pelaku pasar perlu memperhatikan dengan cermat kebijakan suku bunga AS dalam merencanakan strategi investasi mereka.
"Meskipun nilai tukar rupiah saat ini terdampak oleh penguatan dolar AS, prospek ke depannya masih dipengaruhi oleh kebijakan suku bunga AS. Penurunan suku bunga AS dapat menguatkan mata uang negara berkembang termasuk rupiah," ujarnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









