Neraca Perdagangan RI Surplus USD2,02 M di Januari 2024

AKURAT.CO Neraca perdagangan Indonesia Januari 2024 tercatat surplus USD2,02 miliar, didorong surplus sektor nonmigas USD3,32 miliar namun tereduksi oleh defisit sektor migas USD1,30 miliar.
Surplus tersebut didapat dari ekspor sebesar USD20,52 miliar dan impor senilai USD18,51 miliar.
Plt. Kepala BPS, Amalia Adininggar mengatakan surplus neraca perdagangan tersebut melambat dibanding bulan sebelumnya yang tercatat sebesar USD3,31 miliar, terutama lantaran lesunya mitra dagang utama seperti China dan India.
Baca Juga: Neraca Perdagangan RI Januari 2024 Diramal Surplus USD3 M
"Ekspor batu bara ke China turun, kemudian ke India juga turun. Namun neraca perdagangan Indonesia Januari 2024 mengalami surplus USD2,02 miliar terutama berasal dari sektor nonmigas," kata Amalia saat jumpa Pers, di Kantor BPS Pusat, Jakarta, Kamis (15/2/2024).
Terkait impor, Amalia merinci impor Januari 2024 turun sebesar 3,13% dibandingkan dengan Desember 2023, tetapi menunjukkan kenaikan sebesar 0,36% jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Kemudian, Amalia mengungkapkan bahwa impor migas pada Januari 2024 mencapai USD2,70 miliar, mengalami penurunan signifikan sebesar 19,99% dari bulan sebelumnya atau turun 7,15% dibandingkan dengan Januari 2023.
"Impor migas Januari 2024 senilai USD2,70 miliar, turun 19,99 persen dibandingkan Desember 2023 atau turun 7,15 persen dibandingkan Januari 2023," rinci Amalia.
Sementara itu, impor nonmigas pada bulan yang sama mencapai USD15,81 miliar, mengalami kenaikan sebesar 0,48% dari Desember 2023 atau naik 1,76% dibandingkan dengan Januari 2023.
Selanjutnya, Amalia juga menyoroti peningkatan terbesar dalam impor nonmigas pada bulan Januari 2024, khususnya pada pada mesin/perlengkapan elektrik dan bagiannya, meningkat sebesar USD349,9 juta atau 17,89%. Sementara penurunan impor terbesar terjadi pada bahan bakar mineral sebesar USD184,9 juta atau 35,24%.
Dalam konteks pemasok barang impor nonmigas, China masih menjadi yang terbesar dengan nilai USD5,95 miliar (37,64%), diikuti oleh Jepang USD1,08 miliar (6,81%) dan Thailand USD0,88 miliar (5,53%). Impor nonmigas dari ASEAN mencapai USD2,64 miliar (16,70%) dan Uni Eropa USD1,07 miliar (6,78%).
Selaint itu, ia mencatat bahwa terjadi peningkatan pada golongan barang modal sebesar USD300,8 juta (10,16%) dan barang konsumsi sebesar USD176,2 juta (11,03%). Lebih menggembirakan, impor golongan bahan baku/penolong mengalami penurunan sebesar USD410,9 juta (2,96%).
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










