Neraca Perdagangan RI Januari 2024 Diramal Surplus USD3 M

AKURAT.CO Neraca perdagangan Indonesia diperkirakan kembali surplus pada Januari 2024.
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede menaksir surplus neraca perdagangan pada Januari 2024 mencapai USD3 miliar, sedikit turun dari surplus sebelumnya yang mencapai USD3,31 miliar pada bulan Desember 2023.
Penurunan ini diprediksi dipengaruhi oleh turunnya harga batu bara akibat menurunnya permintaan di China dan sikap menunggu dan melihat dari pelaku bisnis terkait pemilihan umum yang akan berlangsung pada bulan Februari, yang membatasi aktivitas investasi dan ekspansi.
Baca Juga: Neraca Perdagangan RI Surplus USD3,31 M di Desember 2023
"Neraca perdagangan pada Januari 2024 diperkirakan surplus sebesar USD3 miliar. Laju ekspor dan impor secara bulanan diperkirakan akan menurun, dipengaruhi oleh penurunan harga batu bara karena berkurangnya permintaan di China dan sentiment wait and see oleh bisnis dalam menanggapi pemilihan umum di bulan Februari, yang menyebabkan kendala pada kegiatan investasi dan ekspansi," kata Josua kepada Akurat.co, Selasa (13/2/2024).
Kemudian, Joshua juga memperkirakan bahwa ekspor akan terus mengalami kontraksi sekitar 2,29% year-on-year (yoy) dibandingkan dengan kontraksi 5,85% yoy pada Desember 2023.
Penurunan ini utamanya disebabkan oleh penurunan harga batu bara dan permintaan yang menurun dari China. Di sisi lain, laju impor diperkirakan akan meningkat sebesar 2,00% yoy, dibandingkan dengan -3,81% yoy pada Desember 2023.
"Selain itu, Baltic Dry Index menunjukkan tren penurunan di Januari 2024. Sebaliknya, laju impor pada bulan Januari 2024 diperkirakan meningkat, dengan estimasi kenaikan sebesar 2 persen yoy (dibanding -3,81 persen yoy di Desember 2023)," jelasnya.
Selanjutnya, menurutnya pertumbuhan impor ini didorong oleh permintaan domestik yang kuat di Indonesia, yang tercermin dari kenaikan Indeks Pembelian Manufaktur (PMI) menjadi 52,9 pada Januari 2024 dari 52,2 pada Desember 2023.
Selain itu, Joshua juga menambahkan bahwa proyeksi defisit transaksi berjalan untuk tahun 2023 dan 2024 terkendali. Defisit transaksi berjalan diperkirakan mencapai 0,14% dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada tahun 2023, dibandingkan dengan surplus sebesar 0,98% pada tahun 2022.
"Kami memperkirakan defisit transaksi berjalan yang terkendali untuk tahun 2023 dan 2024. Untuk tahun 2023, kami memproyeksikan sedikit defisit pada neraca transaksi berjalan sebesar 0,14% dari PDB, dibandingkan dengan surplus PDB sebesar 0,98% pada tahun 2022," sambungnya.
Dia juga mengantisipasi bahwa defisit transaksi berjalan akan tetap terkendali, dengan ekspansi moderat menjadi sekitar -0,7% dari PDB. Pada sisi lain, penurunan suku bunga kebijakan global diharapkan dapat memperkuat sentimen risk-on di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, yang mendukung peningkatan arus modal masuk.
"Bank Indonesia akan merilis Neraca Pembayaran, termasuk neraca transaksi berjalan untuk kuartal-IV 2023 dan full year 2023 pada 22 Februari 2024. Kami mengantisipasi peningkatan ekonomi di tahun 2024, terutama di paruh kedua 2024, karena kecenderungan wait and see dari investor cenderung berkurang pasca pemilu," ungkapnya.
Dalam proyeksinya, ia juga memperkirakan penguatan nilai tukar Rupiah pada semester II-2024, dari Rp15.397 per dolar AS pada akhir 2023 menjadi kisaran Rp15.000 - Rp15.300 per dolar AS pada akhir 2024.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










