BI Taksir Pertumbuhan Ekonomi RI Tembus 5,7 Persen di 2026
Hefriday | 21 Januari 2026, 23:17 WIB

AKURAT.CO Bank Indonesia (BI) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 berada di kisaran 4,9–5,7%, seiring menguatnya permintaan domestik dan berlanjutnya dampak positif kebijakan ekonomi nasional.
Proyeksi ini menjadi sinyal optimisme di tengah ketidakpastian global yang masih membayangi perekonomian dunia.
Gubernur BI, Perry Warjiyo, menegaskan bahwa arah pertumbuhan tersebut ditopang oleh konsumsi rumah tangga, investasi, serta sinergi kebijakan moneter dan fiskal.
Dalam konteks ini, efektivitas program stimulus pemerintah 2026 dinilai menjadi kunci untuk menjaga momentum pemulihan sekaligus memperluas penyerapan tenaga kerja.
Baca Juga: Fokus ke Rupiah dan Pertumbuhan Ekonomi, BI Rate Ditahan di 4,75 Persen pada Januari 2026
Di sisi lain, proyeksi ini juga relevan dengan agenda prioritas pemerintah, termasuk hilirisasi sumber daya alam (SDA) dan penguatan sektor industri.
Dengan kombinasi kebijakan yang tepat, BI menilai ekonomi nasional memiliki ruang untuk tumbuh lebih tinggi dan lebih tahan terhadap tekanan eksternal.
BI Dorong Penguatan Stimulus demi Konsumsi dan Lapangan Kerja
Bank Indonesia menilai penguatan stimulus fiskal perlu menjadi fokus utama pada 2026, khususnya untuk mendorong konsumsi rumah tangga dan penyerapan tenaga kerja.
“Efektivitas berbagai program stimulus pemerintah pada tahun 2026 perlu diperkuat untuk mendorong konsumsi rumah tangga dan penyerapan tenaga kerja,” ujar Perry Warjiyo dalam konferensi pers daring di Jakarta, Rabu (21/1/2026).
Langkah ini dinilai strategis karena konsumsi domestik masih menjadi kontributor terbesar terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia.
Investasi Dipacu Hilirisasi dan Program Prioritas Pemerintah
Dari sisi investasi, BI memprakirakan pertumbuhan yang lebih tinggi seiring berlanjutnya program prioritas pemerintah, terutama hilirisasi SDA. Kebijakan ini diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah, produktivitas, serta kapasitas perekonomian nasional dalam jangka menengah.
Investasi yang lebih kuat juga berpotensi menciptakan efek berganda (multiplier effect) terhadap sektor industri pengolahan dan lapangan kerja.
Bauran Kebijakan BI Perkuat Daya Tahan Ekonomi
Bank Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran. Kebijakan ini disinergikan secara erat dengan stimulus fiskal dan sektor riil pemerintah.
Langkah tersebut ditujukan untuk menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan berdaya tahan di tengah dinamika global.
Kinerja Ekonomi Akhir 2025 Menguat Ditopang Permintaan Domestik
Pertumbuhan ekonomi pada triwulan IV 2025 diprakirakan lebih tinggi, didorong meningkatnya permintaan domestik seiring membaiknya keyakinan pelaku ekonomi dan penguatan stimulus fiskal.
Berdasarkan lapangan usaha, sektor utama seperti industri pengolahan, perdagangan besar dan eceran, serta informasi dan komunikasi menunjukkan kinerja yang solid.
Bali-Nusa Tenggara Catat Pertumbuhan Tertinggi
Secara spasial, pertumbuhan ekonomi tertinggi tercatat di wilayah Bali–Nusa Tenggara (Balinusra), disusul Jawa dan Kalimantan. Kinerja ini dipacu oleh peningkatan aktivitas ekonomi dan konsumsi domestik di masing-masing wilayah. Untuk keseluruhan 2025, BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi berada di kisaran 4,7–5,5%.
Tantangan Global Masih Membayangi 2026
Dari sisi global, BI mencermati tren perlambatan ekonomi dunia. Pertumbuhan global pada 2026 diprakirakan turun menjadi 3,2%, lebih rendah dibandingkan 2025 sebesar 3,3%.
Faktor utama tekanan global antara lain dampak lanjutan tarif resiprokal Amerika Serikat, kerentanan rantai pasok global, serta eskalasi ketegangan geopolitik.
Ruang penurunan Fed Funds Rate (FFR) dinilai semakin terbatas, diiringi masih tingginya yield US Treasury akibat defisit fiskal AS. Kondisi ini menahan aliran modal ke emerging market dan mendorong penguatan dolar AS.
Optimisme dengan Kewaspadaan
Meski dihadapkan pada tantangan global, Bank Indonesia menilai prospek ekonomi Indonesia 2026 tetap solid dengan dukungan permintaan domestik, stimulus pemerintah, dan investasi berbasis hilirisasi.
“Kondisi tersebut memerlukan kewaspadaan dan penguatan respons kebijakan untuk memperkuat daya tahan ekonomi domestik serta mendorong pertumbuhan yang lebih tinggi,” tegas Perry Warjiyo.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










