Waspadai Risiko Tarif Tinggi, The Fed: Inflasi Tak Kunjung Reda, Investasi Kian Terhambat

AKURAT.CO Federal Reserve Amerika Serikat kembali menyoroti dampak jangka panjang dari kebijakan tarif perdagangan yang tinggi, terutama terhadap produktivitas dan daya saing ekonomi nasional.
Dalam pernyataan yang disampaikan di Dublin, Deputi Gubernur The Fed, Adriana Kugler, menilai bahwa tarif tinggi tidak hanya berisiko menimbulkan inflasi, tapi juga menghambat investasi dan merusak efisiensi sektor usaha.
“Kebijakan tarif kemungkinan akan menimbulkan guncangan pasokan negatif, yang berujung pada melambatnya pertumbuhan dan berkurangnya permintaan konsumen karena harga-harga yang meningkat,” ujar Kugler dikutip dari laman The Washington Post.
Pernyataan ini mengacu pada konteks baru pengurangan tarif antara AS dan China, yang diumumkan akhir pekan lalu. Meskipun tampak positif, Kugler menegaskan bahwa tarif rata-rata AS masih jauh lebih tinggi dibandingkan beberapa dekade terakhir dan belum cukup untuk membalikkan dampak negatif yang telah terjadi.
Baca Juga: Ekspektasi Pasar Bergeser, Pemangkasan Suku Bunga The Fed Makin Tidak Pasti
Kebijakan tarif yang tinggi dinilai mendorong perusahaan untuk mengambil langkah-langkah yang kurang efisien, seperti mengalihkan rantai pasokan atau membangun fasilitas produksi baru di lokasi yang lebih mahal. Hal ini berdampak langsung terhadap produktivitas nasional dan biaya produksi yang lebih tinggi.
Menurut Kugler, dalam jangka menengah, investasi bisa menurun drastis karena pelaku usaha memilih menahan ekspansi hingga situasi perdagangan lebih pasti. “Penurunan investasi berarti penurunan produktivitas. Ini memperburuk daya saing jangka panjang,” katanya.
Di sisi lain, tingginya tarif membuat harga barang-barang impor menjadi lebih mahal, yang berkontribusi terhadap inflasi yang masih belum kembali ke target The Fed. Kugler menyebutkan bahwa laju penurunan inflasi telah melambat sejak musim panas lalu, dan kini berada dalam fase stagnan.
Sementara itu, Gubernur The Fed Chicago, Austan Goolsbee, dalam wawancara terpisah, mengatakan bahwa tarif tinggi menambah beban bagi pelaku bisnis dan konsumen. Ia juga menyoroti sifat sementara dari kesepakatan tarif AS-China, yang dinilai belum mampu mengembalikan kepercayaan pasar sepenuhnya.
“Lingkungan tarif yang masih tinggi akan terus membebani harga dan mengaburkan prospek pertumbuhan,” ujarnya.
Baca Juga: The Fed Tahan Suku Bunga, Ketidakpastian Ekonomi AS Meningkat Akibat Tarif
Oleh karena itu, Kugler menggarisbawahi pentingnya stabilitas kebijakan perdagangan sebagai fondasi utama iklim usaha. Ia menyebut bahwa volatilitas kebijakan tarif yang bisa berubah dalam hitungan hari membuat perencanaan bisnis menjadi sangat sulit. Hal ini bisa menurunkan kepercayaan investor dan mendorong pelaku bisnis untuk mengambil keputusan jangka pendek yang tidak efisien.
“Tarif saat ini masih sangat tinggi, dan hal ini menimbulkan ketidakpastian yang menyulitkan dunia usaha membuat proyeksi jangka panjang,” katanya.
Pihak Federal Reserve sendiri belum mengubah suku bunga acuan dalam tiga pertemuan terakhir, dengan alasan risiko inflasi masih cukup tinggi.
Namun Kugler menegaskan bahwa arah kebijakan ke depan akan bergantung pada bagaimana tarif dan variabel eksternal lainnya memengaruhi perekonomian domestik.
“Dengan inflasi dan ketenagakerjaan berpotensi bergerak ke arah berlawanan, saya akan terus memantau dengan seksama untuk menentukan arah kebijakan ke depan,” tegasnya
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Update Medali Asian Games 2026 Hari Ini: Indonesia Raih 20 Medali, Cek Klasemennya!
- 2Kenapa Massa Geruduk Rumah Doa GKPI Tangerang? Ini Kronologi dan Duduk Perkaranya
- 3Dua Land Cruiser Disebut Bawa Rp480 Miliar ke Muktamar NU, Gus Lilur Kaitkan Rp180 Miliar dengan Nusron
- 4Prediksi Skor Norwegia vs Denmark di Nations League 25 September 2026
- 5Prediksi Skor Serbia vs Yunani di UEFA Nations League 2026-27: Starting XI, H2H, dan Semua Prediksi
- 6Jubir KPK: Kepala Kantor BPN Mojokerto adalah Istri dari Dirjen Kementerian ATR/BPN Lampri
- 7Presiden Suriah Bercanda dengan Trump: Kenapa Tak Beri New Jersey ke Israel?
- 8Prediksi Skor Belanda vs Jerman 25 September 2026: Debut Xavi dan Klopp
- 9Prabowo Undang Pakar dan Akademisi ke Istana, Diskusi Pengelolaan Gambut hingga Pencegahan Karhutla
- 10Aliran Dana Rp3,5 Miliar Waskita Karya ke Mantan Ketum Hipmi Akbar Himawan Sudah Masuk Gelar Perkara KPK









