Tantangan Obligasi Khusus China, Sulitnya Mencari Proyek Infrastruktur Yang Menguntungkan
Demi Ermansyah | 26 Desember 2024, 18:30 WIB

AKURAT.CO Obligasi khusus pemerintah daerah telah menjadi tumpuan utama China untuk mendanai proyek infrastruktur selama lebih dari satu dekade.
Namun, di tengah perlambatan ekonomi dan menurunnya tingkat pengembalian investasi, pemerintah daerah menghadapi tantangan besar dalam memanfaatkan instrumen pendanaan ini.
Meski kebijakan baru memungkinkan pemerintah daerah menyetujui proyek secara mandiri, realisasinya tidak semudah yang dibayangkan. Banyak daerah kesulitan menemukan proyek yang memenuhi kriteria ketat Beijing.
Dilansir Bloomberg, Kamis (26/12/2024), ada beberapa list proyek yang dilarang menggunakan Obligasi khusus tersebut seperti pembangunan tanpa keuntungan finansial atau konstruksi simbolis, menjadi kendala utama dalam mencari peluang investasi baru.
Baca Juga: Danai Proyek Pemda, China Terbitkan Obligasi Khusus
Penjualan obligasi pemerintah daerah juga menunjukkan tanda-tanda perlambatan tahun ini. Kondisi ini mencerminkan lemahnya dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi di beberapa wilayah. Padahal, investasi pemerintah selama ini menjadi salah satu penggerak utama ekonomi China, terutama di tengah ancaman perang dagang dan melambatnya ekspor.
Tantangan lainnya adalah rendahnya minat masyarakat untuk meningkatkan konsumsi. Meski pemerintah berusaha menggeser fokus ekonomi ke arah konsumsi domestik, keengganan masyarakat untuk membelanjakan uang mereka menambah tekanan pada pemerintah daerah untuk mencari proyek-proyek strategis yang benar-benar menguntungkan.
Namun, ada secercah harapan. Pedoman baru dari Dewan Negara memungkinkan obligasi ini mencakup porsi yang lebih besar dari total investasi proyek jika digunakan sebagai modal ekuitas. Selain itu, sektor seperti teknologi informasi, perawatan lansia, dan perawatan anak kini memenuhi syarat untuk menerima pendanaan dari obligasi ini.
China kini menghadapi ujian besar: bagaimana menjaga keseimbangan antara mendorong pertumbuhan ekonomi melalui investasi pemerintah tanpa mengorbankan keberlanjutan fiskal.
Penjualan obligasi pemerintah daerah juga menunjukkan tanda-tanda perlambatan tahun ini. Kondisi ini mencerminkan lemahnya dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi di beberapa wilayah. Padahal, investasi pemerintah selama ini menjadi salah satu penggerak utama ekonomi China, terutama di tengah ancaman perang dagang dan melambatnya ekspor.
Tantangan lainnya adalah rendahnya minat masyarakat untuk meningkatkan konsumsi. Meski pemerintah berusaha menggeser fokus ekonomi ke arah konsumsi domestik, keengganan masyarakat untuk membelanjakan uang mereka menambah tekanan pada pemerintah daerah untuk mencari proyek-proyek strategis yang benar-benar menguntungkan.
Namun, ada secercah harapan. Pedoman baru dari Dewan Negara memungkinkan obligasi ini mencakup porsi yang lebih besar dari total investasi proyek jika digunakan sebagai modal ekuitas. Selain itu, sektor seperti teknologi informasi, perawatan lansia, dan perawatan anak kini memenuhi syarat untuk menerima pendanaan dari obligasi ini.
China kini menghadapi ujian besar: bagaimana menjaga keseimbangan antara mendorong pertumbuhan ekonomi melalui investasi pemerintah tanpa mengorbankan keberlanjutan fiskal.
Dengan semakin sulitnya menemukan proyek menguntungkan, pemerintah daerah perlu berinovasi dalam memilih investasi yang tidak hanya memberikan dampak ekonomi jangka pendek tetapi juga keberlanjutan di masa depan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 6Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK









