Akurat

RI Merapat ke BRICS, Menlu Sugiono: Partisipasi Aktif di Setiap Forum Global

Hefriday | 25 Oktober 2024, 19:13 WIB
RI Merapat ke BRICS, Menlu Sugiono: Partisipasi Aktif di Setiap Forum Global

AKURAT.CO Indonesia baru-baru ini menyampaikan niatnya untuk bergabung dengan BRICS, sebuah kelompok ekonomi utama yang sedang berkembang dan menyumbang sekitar 35% dari output ekonomi global.

Langkah ini diambil untuk memperkuat posisi negara-negara berkembang di kancah internasional, sebagaimana disampaikan Kementerian Luar Negeri dalam pernyataannya.

Dikutip dari reuters, pada pertemuan para pemimpin BRICS yang diadakan di Kazan minggu ini, Indonesia melalui Menteri Luar Negeri, Sugiono mengonfirmasi bahwa proses untuk bergabung dengan kelompok tersebut telah dimulai.

Baca Juga: Menlu Sugiono Ungkap Indonesia Ingin Gabung BRICS, Apa Itu?

Sugiono, yang merupakan menteri luar negeri baru, menegaskan bahwa keinginan Indonesia untuk bergabung dengan BRICS adalah cerminan dari kebijakan luar negeri yang independen dan aktif. 

"Bergabungnya Indonesia dengan BRICS tidak berarti kita menjadi bagian dari blok tertentu, tetapi lebih sebagai partisipasi aktif dalam setiap forum global," ujar Sugiono dikutip Jumat (25/10/2024).

Sebagai negara dengan penduduk terbesar keempat di dunia, Indonesia menerapkan kebijakan luar negeri yang non-blok.
 
Presiden Prabowo Subianto, yang baru saja menjabat, telah menegaskan bahwa Indonesia tidak akan bergabung dengan aliansi militer mana pun. Prabowo menyatakan bahwa ia berkomitmen untuk membangun hubungan baik dengan semua negara, baik itu China maupun Amerika Serikat.

Sugiono juga menjelaskan bahwa BRICS sejalan dengan program utama pemerintahan Prabowo, khususnya dalam hal keamanan pangan dan energi, pengentasan kemiskinan, dan pengembangan sumber daya manusia.
 
Menurutnya, Indonesia melihat kelompok ini sebagai "wadah" untuk memperjuangkan kepentingan negara-negara selatan secara global, terutama di tengah tantangan ekonomi dan ketidakpastian internasional.

Di tingkat global, ketertarikan terhadap BRICS semakin meningkat. Presiden Rusia, Vladimir Putin, menyebutkan bahwa lebih dari 30 negara telah menyatakan minat untuk bergabung dengan BRICS, meskipun belum ada kejelasan tentang mekanisme ekspansi kelompok ini.
 
Saat ini, anggota BRICS mencakup Brasil, China, Mesir, Ethiopia, India, Iran, Rusia, Afrika Selatan, dan Uni Emirat Arab.

Namun, beberapa pihak masih mempertanyakan manfaat dari langkah Indonesia ini. Yohanes Sulaiman, seorang profesor hubungan internasional di Universitas Jenderal Achmad Yani, menilai bahwa keuntungan Indonesia bisa jadi sudah dapat dicapai melalui hubungan bilateral dengan negara-negara anggota BRICS. 
 
"Lebih baik mengikuti daripada tertinggal," ujar Sulaiman, seraya menambahkan bahwa bergabung dengan BRICS tidak serta merta menunjukkan orientasi politik luar negeri Indonesia lebih condong ke timur atau barat.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Yosi Winosa