Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2023 Melambat ke 5,05 Persen, Ini Sebabnya

AKURAT.CO Pertumbuhan ekonomi atau Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada kuartal IV-2023 mencapai 5,04% secara tahunan.
Dari sisi pengeluaran, komponen PK-LNPRT mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 18,11%. Sementara dari sisi produksi, lapangan usaha transportasi dan pergudangan mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 10,33%.
Adapun secara kuartalan, PDB kuartal IV-2023 tumbuh 0,45%. Dari sisi pengeluaran, komponen Pengeluaran Konsumsi Pemerintah (PK-P) mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 39,13%. Dari sisi produksi, lapangan usaha administrasi pemerintahan, pertahanan, dan jaminan sosial wajib mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 19,81%.
Baca Juga: ICAEW Taksir PDB RI Tumbuh 5,1 Persen Di Penghujung 2023
Plt Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Amalia A. Widyasanti mengatakan, dengan demikian pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2023 lalu mencapai 5,05%, melambat dibanding capaian tahun 2022 yang tumbuh sebesar 5,31%.
Perlambatan ini, menurutnya lantaran high base effect dan siklus commodity boom. Misalnya meski dari sisi produksi ekonomi tahun 2023 disumbang oleh industri manufaktur perdagangan dan transportasi informasi dan komunikasi, namun sektor-sektor tersbeut juga sejatinya mengalami perlambatan
Kondisi ini salah satunya dipicu melambatnya ekonomi global dan selain itu juga ada fenomena El Nino yang berdampak pada pertumbuhan lapangan usaha pertanian yang tumbuhnya melambat terutama paruh kedua 2023.
Dari catatan BPS, pertumbuhan ekonomi global tumbuh tapi melambat dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu negara mitra dagang utama seperti China, AS dan Jepang serta India membaik pada kuartal IV-2023.
"Kinerja perdagangan global baik barang dan jasa, berdasarkan data UNCTAD, mengalami kontraksi pada 2023. Penurunan terdalam terjadi pada kuartal IV-2023. Lalu juga masih terjadi tren penurunan komoditas unggulan Indonesia seperti CPO dan batu bara," ujarnya di Jakarta, Senin (5/2/2024).
Diketahui, perekonomian Indonesia 2023 yang diukur berdasarkan PDB atas dasar harga berlaku mencapai Rp20.892,4 triliun dan PDB per kapita mencapai Rp75 juta atau USD4.919,7.
Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi terjadi pada lapangan usaha transportasi dan pergudangan sebesar 13,96%. Sementara dari sisi pengeluaran pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Pengeluaran Konsumsi Lembaga Nonprofit yang Melayani Rumah Tangga (PK-LNPRT) sebesar 9,83%.
Dari sisi spasial, kelompok provinsi dengan pertumbuhan tertinggi adalah Maluku dan Papua, Sulawesi, serta Kalimantan dengan pertumbuhan (c-to-c) masing-masing sebesar 6,94%, 6,37% dan 5,43%. Sedangkan kelompok provinsi di Pulau Jawa yang berkontribusi sebesar 57,05% terhadap ekonomi nasional dan mencatat pertumbuhan 4,96% (c-to-c).
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Demo BEM UI 28 Oktober 2026: Cek Lokasi, Jadwal, dan Informasi Terbaru
- 2Cara Daftar BLT Kesra Rp900 Ribu Akhir Oktober 2026, Cek Tahapannya
- 3UMKM Indonesia Bidik Pasar Global, LPEI Tawarkan Pembiayaan hingga Konsultasi Ekspor
- 4Lineup Jazz Goes to Campus 2026 Lengkap, Ada Kahitna hingga Maliq & D'Essentials
- 5Survei IPO: Gerindra Memimpin, PSI yang Diperkuat Jokowi di Posisi Sembilan
- 6Link Live Streaming Garudayaksa vs Persib Bandung Malam Ini, Klik di Sini!
- 7KPK Tegaskan Tak Sita atau Terima Pengembalian Rp40 Juta dari PCNU Terkait Muktamar NU
- 8Prediksi Skor Roma vs Cagliari 28 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan Menang
- 9Auditor BPK Ungkap Enam Penyimpangan Yaqut Cholil Qoumas dalam Penetapan Kuota Haji Tambahan
- 10KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Nusron Wahid di Kasus Suap HGB Summarecon








