Akurat Logo

Rupiah Merosot 76 Poin ke Rp15.713 Jelang Rilis Data PMI AS Nanti Malam

M. Rahman | 24 Januari 2024, 18:05 WIB
Rupiah Merosot 76 Poin ke Rp15.713 Jelang Rilis Data PMI AS Nanti Malam

AKURAT.CO Rupiah ditutup turun 76 poin ke level Rp15.713 pada perdagangan Rabu, 24 Januari 2024 jelas rilis data Indeks Manajer Pembelian (PMI) AS nanti malam.

Pengamat Pasar Uang dan Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi mengatakan rupiah tertekan sentimen eksternal dan internal. 

Dari eksternal, greenback menandai awal yang kuat di tahun 2024 karena data inflasi dan pasar tenaga kerja yang kuat membuat para pedagang sebagian besar mengurangi ekspektasi penurunan suku bunga lebih awal oleh The Fed. Gagasan ini diperburuk oleh serangkaian komentar hawkish dari pejabat Fed selama seminggu terakhir.

Baca Juga: Rupiah Bergeming di Kisaran Rp15.637

"Pelaku pasar sangat menantikan rilis PMI awal hari ini dan laporan Produk Domestik Bruto (PDB) yang akan dirilis besok," ujarnya dikutip Rabu (24/1/2024).

Indikator-indikator ini diharapkan dapat memberikan wawasan mengenai kesehatan perekonomian AS dan berpotensi mempengaruhi sikap Federal Reserve terhadap kebijakan suku bunga. Menurut FedWatch Tool CME, diperkirakan tidak ada perubahan langsung terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve pada pertemuan akhir Januari mendatang.

Ditambahkan, tanda-tanda ketahanan pertumbuhan ekonomi dan inflasi memberi The Fed lebih banyak dorongan untuk mempertahankan suku bunga lebih tinggi dalam jangka waktu lebih lama.  

"Data tersebut juga dikeluarkan hanya beberapa hari sebelum pertemuan pertama The Fed pada tahun 2024, di mana bank tersebut diperkirakan akan mempertahankan suku bunga pada level tertinggi dalam 23 tahun, imbuhnya.

Sementara itu Bloomberg melaporkan bahwa pemerintah China merencanakan paket dukungan besar-besaran sebesar 2 triliun yuan (USD278 miliar) untuk pasar saham lokal. Laporan tersebut memicu optimisme bahwa pemerintah akan memberikan lebih banyak dukungan bagi perekonomian.

Namun sentimen yang lebih luas terhadap China tetap tidak terdengar di tengah kekhawatiran yang terus-menerus mengenai lambatnya pemulihan ekonomi pasca Covid-19.

Kekhawatiran terhadap China membuat sebagian besar mata uang Asia berada di bawah tekanan, terutama mata uang yang memiliki eksposur perdagangan terhadap negara tersebut.

Sentimen Internal Rupiah 

Dari internal, sentimen datang dari para ekonom yang optimis dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2023 diprediksi sebesar 5% dan pada 2024 berada di kisaran 4,9-5%. Secara rinci, terdapat 5 sektor yang menjadi pendorong perekonomian di tahun 2023 sebesar 5 persen, yakni sektor industri pengolahan, pertanian, perdagangan, pertambangan, dan konstruksi. yang membentuk dua pertiga dari PDB.

Meski demikian, dari lima sektor tersebut, sektor perdagangan mengalami pelemahan. Kemudian, sektor lainnya masih cukup resilien termasuk pertanian, pertambangan dan manufaktur. Memang ada beberapa di luar lima sektor ini yang perlambatannya cukup signifikan terutama di 2023 dan 2024, misalnya di sektor transportasi

Sebagai informasi, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal III-2023 berada pada level 4,94% secara tauhuan (yoy). Pertumbuhan ekonomi pada kuartal III-2023 secara yoy menurut lapangan usaha, didorong oleh sektor transportasi dan pergudangan yang tumbuh 14,74%, jasa lainnya 11,14%, dan akomodasi makanan minuman 10,90%.

Semantara, menurut pengeluaran pertumbuhan ekonomi secara yoy di kuartal III-2023, didorong oleh konsumsi rumah tangga yang tumbuh sebesar 5,06%, PMTB 5,77%, dan konsumsi LNPRT 6,21%.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
M. Rahman
Yosi Winosa