Akurat Logo

Ekonomi AS 2024 Diramal Melambat Signifikan, Rupiah Naik 54 Poin ke Rp15.484

M. Rahman | 27 Desember 2023, 16:31 WIB
Ekonomi AS 2024 Diramal Melambat Signifikan, Rupiah Naik 54 Poin ke Rp15.484

AKURAT.CO Rupiah ditutup menguat 54 poin ke level Rp15.484 pada perdagangan Rabu, 27 Desember 2023 usai proyeksi ekonomi AS yang melambat secara signifikan di 2024.

Pengamat Pasar Uang dan Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi mengatakan rupiah ditopan sentimen eksternal dan internal.

Dari eksternal, The Fed mengisyaratkan pihaknya telah selesai menaikkan suku bunga dan akan mempertimbangkan penurunan pada tahun 2024.

Baca Juga: Rupiah Naik 41 Poin ke Rp15.484 Usai Rilis Data Pertumbuhan Ekonomi Kuartal III-2023 AS Melambat

Pasar sekarang memperkirakan The Fed akan menurunkan suku bunga antara tiga hingga lima kali pada tahun 2024, meskipun bank tersebut hanya memberikan sedikit sinyal mengenai luasnya rencana penurunan suku bunga. Pejabat Fed juga baru-baru ini memperingatkan bahwa spekulasi penurunan suku bunga lebih awal tidak berdasar, terutama karena inflasi masih tetap stabil.

"Selain itu, Banyak analis memperkirakan perekonomian AS akan melambat secara signifikan pada tahun 2024, namun The Fed juga diperkirakan akan bertindak untuk memastikan bahwa kesenjangan antara suku bunga The Fed dan realisasi inflasi tidak melebar terlalu jauh," kata Ibrahim dikutip Rabu (29/12/2023).

Ditambahkan, jika inflasi turun jauh lebih cepat dibandingkan suku bunga acuan The Fed, maka hal ini dapat memperketat kondisi moneter lebih dari yang diharapkan oleh para pembuat kebijakan The Fed dan meningkatkan risiko terjadinya hard economic landing.

Guna untuk mengetahui kondisi ekonomi China, pasar saat ini fokus pada data indeks manajer pembelian untuk bulan Desember, yang akan dirilis minggu depan, setelah serangkaian laporan yang lemah selama tiga bulan terakhir.

Sentimen Internal Rupiah

Dari internal, pasar optimis perekonomian Indonesia akan tumbuh lebih kuat pada 2024, sebesar 5,2%, dibandingkan dengan tahun ini yang diproyeksikan tumbuh 5%. Sedangkan membaiknya pertumbuhan ekonomi akan didukung oleh permintaan domestik yang kuat sejalan dengan kepercayaan konsumen yang tinggi dan dorongan dari pengeluaran terkait Pemilu.

Selain itu, pembangunan proyek strategis nasional, termasuk Ibu Kota Nusantara (IKN), juga pemulihan permintaan eksternal secara bertahap, diperkirakan akan mendukung pertumbuhan ekonomi domestik. Seyogyanya, sinergi kebijakan yang kuat di antara  para pembuat kebijakan tetap harus dijaga untuk menjaga stabilitas dan mendukung kegiatan ekonomi.

Kemudian, Bank Indonesia terus memperkuat bauran kebijakan ekonomi dengan meningkatkan suku bunga kebijakan, mengelola volatilitas nilai tukar, dan meningkatkan pendalaman pasar keuangan, terutama guna menjaga ekspektasi inflasi dan mendukung stabilitas nilai tukar rupiah. 

BI juga melanjutkan implementasi kebijakan makroprudensial yang akomodatif dengan memperkuat Kebijakan Likuiditas Makroprudensial (KLM) dan menurunkan persyaratan Penyangga Likuiditas Makroprudensial (PLM) untuk mendorong penyaluran kredit perbankan kepada dunia usaha. 

Di sisi lain, pemerintah mencatat penerimaan yang lebih baik, sejalan dengan belanja yang ditingkatkan. Pemerintah juga menjaga defisit fiskal pada tingkat yang rendah. Serta penerapan awal paket reformasi perpajakan yang komprehensif berdasarkan UU Harmonisasi Peraturan Perpajakan (HPP) berkontribusi pada konsolidasi fiskal yang lebih cepat dari yang diperkirakan dalam 2 tahun terakhir.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
M. Rahman
Yosi Winosa