Akurat Logo

Rupiah Naik 41 Poin ke Rp15.484 Usai Rilis Data Pertumbuhan Ekonomi Kuartal III-2023 AS Melambat

M. Rahman | 22 Desember 2023, 16:55 WIB
Rupiah Naik 41 Poin ke Rp15.484 Usai Rilis Data Pertumbuhan Ekonomi Kuartal III-2023 AS Melambat

AKURAT.CO Rupiah ditutup menguat 41 poin ke level Rp15.484 pada perdagangan Jumat, 22 Desember 2023 usai pertumbuhan ekonomi kuartal III-2023 AS melambat ke 4,9%.

Pengamat Pasar Uang dan Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi mengatakan rupiah didorong sentimen eksterna dan internal. Dari eksternal, dolar berada pada titik terendah dalam 4 bulan dengan fokus pada inflasi PCE Indeks dolar dan indeks dolar berjangka sedikit bergerak di perdagangan Asia pada hari Jumat setelah tenggelam ke level terlemahnya sejak awal Agustus.

Sedikit revisi ke bawah pada PDB AS kuartal ketiga membuat para pedagang menjadi lebih optimis terhadap penurunan suku bunga pada tahun 2024, meskipun angka tersebut masih mencerminkan pertumbuhan yang kuat dalam perekonomian AS.

Baca Juga: Rupiah Turun Lagi 14 Poin Usai BI Rate Ditahan

"Fokus saat ini tertuju pada data indeks harga PCE – ukuran inflasi pilihan The Fed – yang akan dirilis pada hari Jumat. Angka tersebut diperkirakan akan menunjukkan kekakuan inflasi AS yang terus-menerus – sebuah skenario yang memberi The Fed lebih banyak dorongan untuk mempertahankan suku bunga lebih tinggi dalam jangka waktu lebih lama," kata Ibrahim dikutip Jumat (22/12/2023).

Sementara inflasi AS masih berada dalam tren yang jauh di atas target tahunan The Fed sebesar 2%, dengan tanda-tanda kekakuan yang lebih besar menunjukkan bahwa The Fed akan mengambil langkah-langkah yang kurang dovish pada tahun 2024.

Skenario seperti itu dapat memicu kemunduran pada mata uang Asia, yang sejauh ini telah mengalami kenaikan yang kuat pada tahun 2024. Desember. Pasar masih bersiap untuk penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Maret 2024, menurut harga berjangka Dana Fed.

Di Asia, kekhawatiran atas lambatnya pemulihan ekonomi di negara tersebut membuat sebagian besar pedagang khawatir untuk berinvestasi di sebagian besar aset China, dan saham-sahamlah yang menanggung beban terbesar dari keengganan ini.

Sentimen Internal Rupiah

Dari internal, Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) menyatakan optimistis terhadap outlook perekonomian Indonesia 2024. Menurutnya, Indonesia memiliki modal ekonomi dan politik. Memasuki tahun 2024 ini kita tidak punya alasan untuk tidak optimis.

Ada beberapa indikator ekonomi Indonesia yang membuat pertumbuhan ekonomi optimis diatas 5%. Misalnya, pertumbuhan ekonomi masih di kisaran 5% atau lebih tinggi dari rata-rata global yang hanya 2,9%.Kemudian, inflasi masih di angka 2,86% atau masih di bawa tingkat inflasi global 7,2%.

Di samping itu, beberapa indikator lain menjadi alasan di balik optimisme pemerintah, seperti naiknya tingkat penyerapan tenaga kerja nasional, yakni 4,5 juta orang dari Agustus 2022 ke Agustus 2023, PMI manufaktur di level ekspansif yakni 51,7, surplus neraca dagang 43 bulan berturut-turut, serta Indeks Keyakinan Konsumen November 2023 di angka 123,6.

Kendati demikian, Jokowi mengaku masih khawatir mengenai harga komoditas. Hal itu dilatarbelakangi oleh ketidakpastian global dan konflik timur tengah. Misalnya, harga minyak. Namun, Jokowi menyebut Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan bahwa urusan harga minyak tidak akan bergejolak lagi. Kekhawatiran justru terletak pada komoditas pangan, hal tersebut membuat sedikit khawatir terlebih akibat dampak super el nino.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
M. Rahman
Yosi Winosa