Akurat Logo

Rupiah Turun 24 Poin Ke Rp15.294 Jelang Pidato Pejabat Fed

M. Rahman | 6 September 2023, 17:05 WIB
Rupiah Turun 24 Poin Ke Rp15.294 Jelang Pidato Pejabat Fed

AKURAT.CO - Rupiah ditutup melemah 24 poin ke level Rp15.294 pada perdagangan Rabu, 6 September 2023 jelang pidato beberapa pejabat The Fed pekan ini.

Pengamat pasar uang dan Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi mengatakan sentimen rupiah datang dari eksternal dan internal.

Dari eksternal, pasar saat ini menunggu isyarat lebih lanjut mengenai kebijakan moneter AS dari beberapa pejabat Fed minggu ini, dimulai dari Presiden Fed Dallas Lorie Logan pada hari Rabu nanti. Presiden Fed Chicago Austan Goolsbee, bersama dengan anggota komite pasar terbuka Fed John Williams dan Michelle Bowman akan berbicara pada hari Kamis.

"Pidato tersebut disampaikan tepat sebelum penghentian komunikasi oleh The Fed, sebagai antisipasi pertemuan dua hari pada tanggal 19 dan 20 September. Bank sentral diperkirakan akan mempertahankan suku bunganya, di tengah tanda-tanda menurunnya aktivitas ekonomi baru-baru ini," kata Ibrahim dikutip Rabu (6/9/2023).

Baca Juga: Rupiah Turun 30 Poin Ke Rp15.270 Di Tengah Berbagai Isyarat Suku Bunga The Fed

Namun The Fed diperkirakan masih akan mempertahankan retorika hawkishnya, mengingat inflasi masih stabil dan pasar tenaga kerja kuat. Gagasan ini diperkirakan akan membebani emas dan logam lainnya untuk sisa tahun ini.

Di Asia, China akan merilis angka perdagangan pada hari Kamis, dengan para analis memperkirakan penurunan impor dan ekspor yang lebih kecil. Namun fokus utamanya adalah pada impor komoditas di negara ini hingga bulan Agustus, mengingat aktivitas ekonomi lokal dan pasar properti menunjukkan sedikit tanda-tanda pemulihan.

"Data yang dirilis awal pekan ini menunjukkan bahwa sektor jasa Tiongkok tumbuh pada laju paling lambat dalam delapan bulan pada bulan Agustus. Meskipun data sebelumnya menunjukkan adanya ketahanan di sektor manufaktur, aktivitas bisnis secara keseluruhan masih memburuk," kata Ibrahim.

Sentimen Internal Rupiah

Dari internal, Indonesia perlu mewaspadai gejolak global walaupun perekomian RI tetap tumbuh 5% di 7 kuartal berturut-turut. Tahun depan pertumbuhan ekonomi diperkirakan bisa mencapai 5,2%, dengan tetap megawasi beberapa isu jangka menengah dan jangka

"Maksud dari isu jangka menengah dan jangka panjang adalah fragmentasi global, perubahan iklim, dan digitalisasi. Selain itu tetap berjaga-jaga jika ada pandemi di masa mendatang yang kemungkinan akan muncul kembali  dan akan menjadi prahara barubaik di Indonesia maupun dunia," jelas Ibrahim.

Kemudian, perekonomian global yang tumbuh diangka 6,3% pada 2021, hingga mengalami perlambatan ke 3,5% dibarengi dengan tingkat inflasi yang menurun. Namun pernah sangat tinggi di tahun 2022 hampir seluruh bank sentral menaikkan suku bunga untuk menanggulangi inflasi dan diperkirakan akan tumbuh 3% pada 2023 dan 2024.

Sehingga ada beberapa tantangan jangka pendek, Indonesia harus tetap mengawasi tekait dampaknya ke perekonomian Indonesia, serta memitigasi dampak yang ditimbulkan dari suku bunga yang tinggi di dunia dalam waktu yang lama terhadap perekonomian Indonesia. 

Di saat bersamaan, perang Rusia dan Ukraina yang masih berlanjut yang menunjukkan tensi geopolitik masih akan berlanjut, dan perlambatan ekonomi China yang masih berlangsung serta ketegangan yang bisa saja muncul di permukaan antara Korea Utara dan Korea Selatan yang sampai saat ini masih siaga perang dan ketegangan antara China dan Taiwan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
M. Rahman
Yosi Winosa