Pembiayaan Mobil Listrik BRI Finance Melonjak 12,3 Kali Lipat di Tengah Lesunya Daya Beli

AKURAT.CO Pertumbuhan bisnis kendaraan listrik menghadirkan paradoks di tengah ekonomi yang belum sepenuhnya leluasa. Ketika masyarakat masih harus berhitung lebih cermat sebelum mengambil kredit kendaraan, penyaluran pembiayaan kendaraan listrik BRI Finance justru meningkat sekitar 12,3 kali lipat secara tahunan per September 2026. Lonjakan ini menarik perhatian, tetapi seberapa besar maknanya bagi industri pembiayaan dan daya beli masyarakat?
Berdasarkan keterangan Direktur Utama BRI Finance, Ignatius Susatyo Wijoyo, yang akrab disapa Satyo, perusahaan mencatat pertumbuhan positif pada segmen tersebut. Sementara itu, data OJK yang disampaikan menunjukkan pembiayaan kendaraan listrik oleh industri multifinance meningkat 34,67% secara tahunan per Agustus 2026. Kedua angka ini memperlihatkan perkembangan segmen kendaraan listrik, meskipun belum cukup untuk menyimpulkan bahwa daya beli masyarakat telah pulih.
Baca Juga: 8 Mobil Listrik Murah Oktober 2026, Harga Mulai Rp152 Juta!
Baca Juga: Apa Itu Wireless Charging Mobil Listrik? Ini Cara Kerja dan Keunggulannya
Seberapa besar pertumbuhan pembiayaan mobil listrik BRI Finance?
Satyo menyampaikan bahwa penyaluran pembiayaan kendaraan listrik BRI Finance per September 2026 meningkat sekitar 12,3 kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
“Per September 2026, penyaluran pembiayaan kendaraan listrik BRI Finance meningkat sekitar 12,3 kali lipat secara tahunan (year-on-year/YoY) dibandingkan periode yang sama tahun lalu,” ujar Satyo saat ditemui di Jagakarsa, Jakarta, Rabu, 28 Oktober 2026.
Angka tersebut menunjukkan bahwa penyaluran pembiayaan kendaraan listrik perusahaan berkembang jauh dibandingkan basis pembanding pada September 2025. Namun, tanpa nominal pembiayaan pada kedua periode, skala pertumbuhan dalam rupiah belum dapat diketahui.
Pertumbuhan 12,3 kali lipat juga tidak sama dengan kenaikan 12,3%. Jika nilai pembiayaan pada periode sebelumnya positif, angka tersebut secara matematis setara dengan kenaikan sekitar 1.130% secara tahunan.
Meski demikian, persentase pertumbuhan perlu dibaca bersama nilai awalnya. Kenaikan berkali-kali lipat dari basis yang relatif kecil dapat menghasilkan persentase tinggi, tetapi belum tentu langsung menjadikan suatu segmen sebagai kontributor utama bisnis perusahaan.
Satyo juga menjelaskan bahwa kendaraan listrik telah menjadi bagian dari portofolio pembiayaan BRI Finance. Perusahaan melihat peningkatan minat pasar dan peluang pengembangan segmen tersebut ke depan, tetapi belum mengungkapkan persentase kontribusinya terhadap total portofolio.
Informasi mengenai nominal penyaluran dan porsi portofolio menjadi penting untuk mengukur seberapa jauh kendaraan listrik telah berkembang dalam bisnis BRI Finance, bukan hanya seberapa cepat pertumbuhannya.
Pembiayaan kendaraan listrik industri multifinance tumbuh 34,67%
Pertumbuhan BRI Finance berlangsung ketika pembiayaan kendaraan listrik di tingkat industri juga menunjukkan perkembangan positif. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat pembiayaan kendaraan listrik dan hybrid oleh perusahaan multifinance mencapai Rp26,20 triliun per Agustus 2026, tumbuh 34,67% secara tahunan.
Angka tersebut menjadi konteks penting untuk membaca kinerja BRI Finance. Pertumbuhan perusahaan yang mencapai 12,3 kali lipat tidak bisa dibandingkan secara langsung dengan kenaikan industri sebesar 34,67%, sebab periode pengukuran dan cakupan datanya berbeda. Namun, keduanya menunjukkan bahwa pembiayaan kendaraan listrik menjadi segmen yang patut diperhatikan di tengah dinamika industri pembiayaan.
Di sisi lain, penyaluran pembiayaan kendaraan bermotor secara keseluruhan oleh multifinance justru mengalami kontraksi 0,68% secara tahunan menjadi Rp403,02 triliun per Agustus 2026. Perbedaan arah ini memperlihatkan bahwa perkembangan pembiayaan tidak merata di seluruh segmen kendaraan.
Dengan kata lain, pertumbuhan kendaraan listrik dapat menjadi peluang diversifikasi bagi perusahaan pembiayaan ketika segmen kendaraan bermotor secara umum menghadapi tantangan. Meski demikian, data agregat tersebut belum cukup untuk menyimpulkan bahwa konsumen sepenuhnya beralih dari kendaraan konvensional ke kendaraan listrik.
Mengapa pembiayaan kendaraan listrik tumbuh ketika daya beli tertekan?
Tekanan daya beli tidak selalu menghentikan seluruh aktivitas konsumsi. Dalam kondisi ekonomi yang menuntut pengeluaran lebih selektif, konsumen tetap dapat melakukan pembelian bernilai besar apabila kebutuhan, kemampuan finansial, dan skema pembayaran dinilai sesuai.
Kendaraan listrik juga memiliki karakteristik pasar tersendiri. Keputusan pembelian tidak hanya dipengaruhi kemampuan membayar uang muka dan cicilan, tetapi juga harga kendaraan, ketersediaan fasilitas pengisian daya, serta kebijakan pemerintah yang memengaruhi keterjangkauan produk.
Satyo menjelaskan bahwa ketiga faktor tersebut turut menentukan permintaan konsumen dan perkembangan persaingan dalam industri pembiayaan kendaraan listrik.
“Di tengah kondisi daya beli masyarakat, pembiayaan kendaraan listrik masih dipengaruhi oleh sejumlah faktor, antara lain harga kendaraan, ketersediaan infrastruktur pendukung, serta kebijakan pemerintah, termasuk insentif,” ujar Satyo.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa prospek pembiayaan kendaraan listrik tidak bisa dilepaskan dari perkembangan ekosistemnya. Perusahaan multifinance mungkin memiliki produk pembiayaan yang kompetitif, tetapi keputusan konsumen tetap dipengaruhi biaya kendaraan dan kemudahan penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagai contoh, calon pembeli mobil listrik yang tinggal di kawasan perkotaan dengan akses pengisian daya memadai mungkin memiliki pertimbangan berbeda dari konsumen yang tinggal di daerah dengan fasilitas pengisian terbatas. Konsumen pertama dapat menilai kendaraan listrik lebih praktis, sedangkan konsumen kedua mungkin masih perlu mempertimbangkan akses pengisian daya dan pola perjalanan rutin.
Ilustrasi ini bukan bukti bahwa lokasi tempat tinggal menjadi penyebab pertumbuhan pembiayaan BRI Finance. Namun, contoh tersebut menggambarkan mengapa pertumbuhan pasar kendaraan listrik dapat berlangsung tidak merata dan mengapa perusahaan pembiayaan perlu memahami kebutuhan calon konsumennya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Demo BEM UI 28 Oktober 2026: Cek Lokasi, Jadwal, dan Informasi Terbaru
- 2Cara Daftar BLT Kesra Rp900 Ribu Akhir Oktober 2026, Cek Tahapannya
- 3UMKM Indonesia Bidik Pasar Global, LPEI Tawarkan Pembiayaan hingga Konsultasi Ekspor
- 4Lineup Jazz Goes to Campus 2026 Lengkap, Ada Kahitna hingga Maliq & D'Essentials
- 5Survei IPO: Gerindra Memimpin, PSI yang Diperkuat Jokowi di Posisi Sembilan
- 6KPK Tegaskan Tak Sita atau Terima Pengembalian Rp40 Juta dari PCNU Terkait Muktamar NU
- 7Link Live Streaming Garudayaksa vs Persib Bandung Malam Ini, Klik di Sini!
- 8Kalender Jawa 28 Oktober 2026: Watak Weton Rabu Pon, Benarkah Dikenal Pekerja Keras?
- 9DPR Ajak Semua Pihak Merawat Persatuan Lewat Kerja Nyata di Hari Sumpah Pemuda
- 10Auditor BPK Ungkap Enam Penyimpangan Yaqut Cholil Qoumas dalam Penetapan Kuota Haji Tambahan







