Ketika Pertanyaan ‘Kapan Menikah?’ Menjadi Beban, Begini Cara Menyikapinya

AKURAT.CO Tekanan keluarga untuk segera menikah bukanlah hal asing bagi banyak orang. Pertanyaan seperti “kapan menikah?” atau anggapan bahwa usia tertentu harus sudah berkeluarga kerap muncul dalam pertemuan keluarga maupun lingkungan sekitar.
Meski sering disampaikan dengan niat baik, tekanan semacam ini dapat memicu stres, kebingungan, bahkan mendorong seseorang mengambil keputusan secara terburu-buru.
Tekanan menikah biasanya muncul ketika orang tua, kerabat, atau orang terdekat terus mempertanyakan atau mendorong pernikahan pada usia tertentu, padahal individu yang bersangkutan belum merasa siap secara emosional, finansial, maupun mental.
Penyebab Tekanan Menikah Sering Terjadi
1. Ekspektasi Sosial dan Tradisi Keluarga
Dalam banyak budaya, pernikahan masih dipandang sebagai penanda kedewasaan dan fase hidup yang “wajib” dijalani pada usia tertentu.
Keluarga pun merasa berkewajiban untuk mengingatkan atau mendorong anggotanya agar segera menikah.
2. Perbandingan dengan Teman Sebaya
Ketika teman atau saudara seusia sudah menikah, hal ini kerap memicu pertanyaan dari orang tua atau lingkungan sekitar.
Tanpa disadari, kondisi tersebut dapat membuat seseorang merasa tertinggal atau kurang berhasil dalam hidup.
Baca Juga: Kasus Siswa di Ngada Bunuh Diri Jadi Evaluasi, Kepala Desa Harus Aktif Pantau Kelompok Rentan
3. Kepedulian yang Berlebihan
Tidak sedikit tekanan muncul dari rasa khawatir dan kepedulian keluarga. Namun, perhatian yang berlebihan sering kali sulit dibedakan dengan tekanan yang justru menimbulkan beban psikologis.
Dampak Tekanan Menikah Jika Tidak Disikapi dengan Baik
Tekanan menikah yang terus berulang dapat menimbulkan berbagai dampak, antara lain:
-
Tekanan emosional dan rasa bersalah karena merasa belum memenuhi harapan keluarga.
-
Stres dan kecemasan saat pertanyaan tentang pernikahan terasa seperti penilaian pribadi.
-
Keputusan tergesa-gesa, menikah bukan karena kesiapan, melainkan demi menyenangkan orang lain atau menghindari tekanan sosial.
Cara Bijak Menyikapi Tekanan Menikah
Agar tidak terjebak dalam tekanan, ada beberapa langkah bijak yang dapat dilakukan:
-
Tetap tenang dan tidak terburu-buru mengambil keputusan.
-
Jika memiliki pasangan, ajak berdiskusi secara terbuka mengenai rencana dan kesiapan.
-
Sampaikan penjelasan dengan baik dan jujur kepada keluarga.
-
Tetapkan prioritas hidup sesuai kebutuhan dan tujuan pribadi.
-
Cari dukungan dari teman, komunitas, atau orang yang dipercaya.
-
Bangun batasan yang sehat tanpa merusak hubungan keluarga.
-
Pertimbangkan berkonsultasi dengan psikolog atau konselor bila tekanan mulai mengganggu kesehatan mental.
Tekanan keluarga terkait pernikahan merupakan pengalaman yang umum dialami banyak orang.
Kunci utamanya terletak pada pemahaman diri, komunikasi yang sehat, serta kemampuan menetapkan batasan dengan tetap menjaga hubungan baik bersama keluarga.
Baca Juga: Pemerintah Dorong PLBN Papua Jadi Pusat Ekonomi Perbatasan
Dengan pendekatan yang bijak dan matang, keputusan menikah idealnya lahir dari kesadaran dan kesiapan pribadi, bukan semata karena tuntutan sosial.
Laporan: Marina Yeremin Sindika Sari/magang
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










