Akurat

Menurut Psikologi, 8 Double Standard yang Mesti Dilawan Demi Hidup yang Lebih Baik!

Tim Redaksi | 23 Desember 2024, 18:11 WIB
Menurut Psikologi, 8 Double Standard yang Mesti Dilawan Demi Hidup yang Lebih Baik!

AKURAT.CO Pernah merasa diperlakukan berbeda dibandingkan orang lain di sekitar?

Ternyata, perasaan itu bukan hal yang jarang terjadi. Double standard seringkali muncul dalam kehidupan sehari-hari, dan bisa membuat kita merasa bingung, marah, bahkan lelah. Seringkali, kita dipaksa untuk memenuhi ekspektasi yang terasa tidak adil atau tidak konsisten, yang biasanya dipengaruhi oleh gender, usia, atau identitas seseorang.

Baca Juga: VIRAL Curhat Wanita Baru 2 Bulan Nikah Ngeluh Suami tak Sesuai Ekspektasi, Apa Respons Islam?

Menghadapi double standard bukanlah masalah pribadi semata, melainkan masalah sosial yang lebih besar. Meskipun cara setiap orang menghadapinya bisa berbeda-beda, situasi seperti ini seringkali sulit untuk ditanggapi dan bisa mempengaruhi kesejahteraan kita.

Psikologi memberikan banyak wawasan tentang fenomena ini, dan mengenali adanya double standard dalam hidup kita bisa menjadi langkah pertama untuk menolaknya dan membebaskan diri dari perlakuan yang tidak adil.

Dikutip dari situs resmi Global English Editing, Senin (23/12/2024), berikut ini adalah 8 double standard yang sebaiknya tidak kita toleransi dalam kehidupan sehari-hari:

1. “Terasa Berlebihan”

Seringkali ketika seseorang ingin berbicara tentang perasaan, malah dianggap berlebihan. Kalimat seperti “aku cuma jujur” atau “terlalu sensitif” digunakan untuk meremehkan perasaan orang. Padahal, ini bukan soal berlebihan, tetapi lebih pada upaya untuk mengendalikan perasaan seseorang dan meragukan perasaan itu. Tidak ada salahnya merasa tidak dihargai jika sedang merasa tidak nyaman, dan perasaan itu layak untuk dihormati.

2. Disebut ‘Ambisius’ atau ‘Sombong’

Pernah melihat seseorang memimpin sebuah proyek dan mendapatkan pujian atas keberhasilannya? Tapi saat orang lain melakukan hal yang sama, dia malah disebut sombong. Ini adalah contoh double standard yang umum terjadi. Kepemimpinan seharusnya dihargai tanpa memandang siapa yang melakukannya. Label semacam ini bisa memengaruhi rasa percaya diri dan perkembangan karier seseorang.

3. Ekspektasi Emosional Berdasarkan Gender

Emosi adalah hal yang dialami semua orang, tapi seringkali ada perbedaan dalam siapa yang diperbolehkan untuk mengekspresikan emosi tertentu. Misalnya, wanita lebih sering diizinkan menangis di depan umum, sementara pria cenderung diharapkan menahan air mata. Kemarahan pun lebih sering diterima jika datang dari pria. Ini adalah double standard yang sebaiknya dihindari, karena setiap orang berhak untuk mengekspresikan perasaan tanpa merasa dihakimi.

4.  Penilaian Berdasarkan Penampilan

Seringkali penampilan seseorang dinilai terlebih dahulu sebelum berbicara. Apakah itu soal berat badan, pakaian, atau warna rambut, penilaian semacam ini tidak adil dan tidak mencerminkan siapa seseorang. Setiap orang lebih dari apa yang tampak di luar, dan nilai sejati terletak pada sifat, usaha, dan karakter seseorang.

5. Tugas Rumah yang Tidak Seimbang

Setelah seharian bekerja, terkadang sebagian orang mendapati diri mereka yang lebih banyak menangani pekerjaan rumah. Ini adalah contoh double standard yang sering terjadi. Meskipun kedua pasangan bekerja, seringkali satu pihak harus menanggung sebagian besar pekerjaan rumah tangga. Pekerjaan rumah harusnya dibagi adil, tergantung pada jadwal dan tingkat kelelahan masing-masing.

6. Ekspektasi di Media Sosial

Di media sosial, seringkali tampak kehidupan orang lain sempurna, seperti saat liburan atau acara spesial. Namun di balik itu, ada banyak momen yang tidak sempurna seperti kehilangan bagasi atau sakit. Double standard di media sosial ini mendorong orang untuk menunjukkan sisi terbaik mereka, padahal kenyataannya sering jauh dari itu.

7. Sukses dan Kegagalan

Seringkali orang menghubungkan kesuksesan dengan usaha dan keterampilan mereka, tetapi saat gagal, mereka cenderung menyalahkan faktor eksternal. Ini adalah double standard yang melindungi ego, namun menghalangi pertumbuhan pribadi. Mengakui kegagalan sama pentingnya dengan merayakan kesuksesan, karena dari kegagalan itu kita bisa belajar dan berkembang.

Baca Juga: Aturan Plain Packaging Dinilai Double Standard, Ekonom Minta PrabowoDengarkan Kebutuhan Industri Tembakau

8. Penghormatan yang Tidak Merata

Pada akhirnya, rasa hormat adalah dasar dari keadilan. Setiap orang berhak diperlakukan dengan baik dan dihormati, tanpa memandang usia, gender, atau status sosial. Sayangnya, double standard seringkali menyebabkan sebagian orang mendapatkan lebih banyak penghormatan hanya berdasarkan faktor-faktor sepele yang tidak relevan. Ini tidak adil dan bertentangan dengan hak asasi manusia, karena setiap orang berhak mendapatkan penghormatan yang sama.

Menolak double standard adalah langkah penting untuk mencapai kehidupan yang lebih adil dan bermakna. Setiap orang memiliki pengalaman dan perjalanan yang unik, namun yang terpenting adalah mengenali nilai diri sendiri.

Jangan biarkan perlakuan yang tidak adil merusak kepercayaan diri atau memengaruhi cara kita menjalani hidup. Kita berhak dihargai dan diperlakukan setara tanpa harus menyesuaikan diri dengan standar ganda yang ada.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

T
Reporter
Tim Redaksi
R