Makna Keadilan dalam Islam: Pilar Kehidupan yang Wajib Diterapkan

AKURAT.CO Keadilan adalah salah satu nilai yang sangat dijunjung tinggi dalam Islam. Tidak hanya menjadi prinsip moral, tetapi juga berperan sebagai aturan dasar dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam bermasyarakat, bernegara, maupun dalam interaksi antar individu. Islam menekankan bahwa berlaku adil bukan sekadar pilihan, tetapi kewajiban yang harus diterapkan dalam semua aspek kehidupan.
Apa Itu Keadilan dalam Islam?
Dalam bahasa Arab, keadilan disebut ‘Adl (عدل), yang berarti menempatkan segala sesuatu pada tempatnya dengan benar, tidak lebih dan tidak kurang. Keadilan dalam Islam bukan hanya soal memberikan hak kepada yang berhak, tetapi juga menjaga keseimbangan dan harmoni antara hak dan kewajiban.
Keadilan melibatkan tiga dimensi penting: terhadap diri sendiri, terhadap orang lain, dan terhadap Tuhan. Misalnya, keadilan terhadap diri sendiri berarti menjaga hak-hak tubuh dan jiwa, sedangkan keadilan terhadap orang lain berarti tidak mendzalimi, memberikan hak mereka, dan menghindari sifat sombong atau aniaya. Keadilan terhadap Tuhan diwujudkan dengan menaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Keadilan dalam Al-Qur’an dan Hadis
Al-Qur’an menekankan pentingnya berlaku adil di berbagai ayat. Salah satunya, dalam Surah An-Nisa’ (4:58):
“Sesungguhnya Allah menyuruhmu untuk menyerahkan amanat kepada yang berhak menerimanya dan apabila kamu menghukum di antara manusia, hendaklah kamu menghukum dengan adil…”
Ayat ini menegaskan bahwa setiap keputusan dan tindakan yang melibatkan orang lain harus didasari prinsip keadilan, tanpa kedzaliman atau keberpihakan yang salah.
Selain itu, Surah Al-Ma’idah (5:8) juga menekankan universalitas keadilan:
“Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan keadilan, karena Allah, sebagai saksi yang adil, meskipun terhadap dirimu sendiri, atau terhadap ibu bapak dan kaum kerabat…”
Hadis Nabi Muhammad SAW juga mengajarkan bahwa keadilan adalah kualitas penting, terutama bagi seorang pemimpin:
“Sesungguhnya Allah menyukai seseorang yang berlaku adil dalam memimpin.” (HR. Bukhari & Muslim)
Prinsip Keadilan dalam Islam
1. Keadilan Sosial
Islam menekankan kesejahteraan sosial. Setiap individu wajib menunaikan hak orang lain, termasuk pembagian kekayaan yang adil. Zakat, infak, dan sedekah menjadi instrumen untuk mengurangi kesenjangan sosial dan memastikan keadilan ekonomi.
2. Keadilan dalam Sistem Hukum
Dalam pengadilan Islam, hakim harus berlaku adil tanpa memihak. Semua orang sama kedudukannya di hadapan hukum, dan keputusan diambil berdasarkan bukti sahih, bukan kepentingan pribadi.
3. Keadilan dalam Hubungan Pribadi
Islam mengajarkan agar setiap Muslim tidak menzalimi saudaranya. Dalam hubungan keluarga, suami dan istri wajib bersikap adil, saling menghormati, dan menjalankan hak serta kewajiban secara seimbang.
4. Keadilan bagi Pemimpin
Pemimpin yang adil menegakkan hukum secara jujur dan menjaga kesejahteraan rakyat. Keadilan pemimpin menjadi fondasi keharmonisan dan kemakmuran masyarakat.
Implementasi Keadilan dalam Kehidupan Sehari-hari
Menerapkan keadilan tidak harus selalu dalam skala besar. Hal-hal sederhana dalam kehidupan sehari-hari juga mencerminkan sikap adil, seperti:
-
Menjaga kejujuran dalam interaksi sehari-hari.
-
Memberikan hak orang lain tanpa menunda atau menahan hak mereka.
-
Menghargai kontribusi orang lain di lingkungan kerja.
-
Menghindari prasangka atau diskriminasi.
Allah SWT menurunkan ajaran Islam untuk menciptakan masyarakat rahmatan lil ‘alamin (penyelamat dan pembawa rahmat bagi seluruh alam, Qs. Al-Anbiya’/21:107). Ajaran adil menjadi salah satu pilar kehidupan pribadi, rumah tangga, dan masyarakat. Sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Hadid (57:25):
“Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka al-Kitab dan mizan (neraca, keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan.”
Keadilan bukan hanya dianjurkan, tetapi juga menjadi tanda kasih Allah kepada manusia. Al-Qur’an dan Hadis secara konsisten menekankan peringatan terhadap kezhaliman. Rasulullah SAW bersabda:
“Takutlah berbuat zalim karena sungguh ia mendatangkan kegelapan-kegelapan di hari Kiamat.” (HR. Muslim)
Hakikat Keadilan: Adil Itu Apa?
Secara bahasa, adil berarti sama, tidak berat sebelah, berpihak pada kebenaran. Prof. Dr. M. Quraish Shihab menjelaskan dalam Wawasan Al-Qur’an bahwa tiga kata dalam Al-Qur’an terkait keadilan—al-adl, al-qist, al-mizan—memiliki makna berbeda, tetapi semangatnya sama: memerintahkan manusia untuk berlaku adil.
-
Al-Adl: menekankan kesetaraan antar pihak.
-
Al-Qist: menekankan bagian yang wajar dan pantas.
-
Al-Mizan: menekankan keseimbangan, seperti alat untuk menimbang.
Sementara itu, Prof. Dr. Yusuf Qardlawi mendefinisikan keadilan sebagai:
“Memberikan kepada segala yang berhak akan haknya, baik secara pribadi maupun berjamaah, tanpa melebihi atau mengurangi, sehingga tidak menyelewengkan hak orang lain.”
Dengan kata lain, seseorang disebut adil ketika tidak berpihak kecuali pada kebenaran, tidak menzalimi siapapun, dan selalu menegakkan keseimbangan dalam hak dan kewajiban.
Kesimpulan
Keadilan dalam Islam bukan sekadar konsep moral, tetapi prinsip universal yang harus diterapkan dalam setiap aspek kehidupan. Dari diri sendiri, hubungan pribadi, hingga kepemimpinan dan hukum, berlaku adil menjadi fondasi keharmonisan masyarakat. Dengan menegakkan keadilan, manusia tidak hanya mendekatkan diri kepada Allah, tetapi juga menciptakan kehidupan yang harmonis dan berkeadaban.
Kalau kamu ingin memahami lebih dalam tentang nilai-nilai Islam yang membawa perubahan positif dalam kehidupan sehari-hari, pantau terus update terbaru di AKURAT.CO
Baca Juga: Kumpulan Quotes Islami dalam Bahasa Inggris untuk Feed yang Lebih Bermakna
FAQ
1. Apa yang dimaksud dengan keadilan dalam Islam?
Keadilan dalam Islam disebut ‘Adl dan berarti menempatkan segala sesuatu pada tempatnya dengan benar, tidak lebih dan tidak kurang. Keadilan mencakup perlakuan adil terhadap diri sendiri, orang lain, dan Tuhan, termasuk menjaga hak, kewajiban, serta keseimbangan dalam hubungan sosial.
2. Bagaimana Al-Qur’an menjelaskan prinsip keadilan?
Al-Qur’an menegaskan pentingnya keadilan di berbagai ayat, misalnya dalam Surah An-Nisa’ (4:58) yang menyatakan:
“Sesungguhnya Allah menyuruhmu untuk menyerahkan amanat kepada yang berhak menerimanya dan apabila kamu menghukum di antara manusia, hendaklah kamu menghukum dengan adil…”
Ini menekankan bahwa setiap keputusan harus didasari oleh prinsip adil tanpa kedzaliman.
3. Mengapa keadilan penting bagi pemimpin dalam Islam?
Pemimpin yang adil menjaga kesejahteraan rakyat, menegakkan hukum secara jujur, dan tidak memihak. Hadis Nabi Muhammad SAW menekankan bahwa Allah menyukai pemimpin yang berlaku adil, karena keadilan menciptakan keharmonisan dan kemakmuran dalam masyarakat.
4. Apa saja bentuk implementasi keadilan dalam kehidupan sehari-hari?
Beberapa contoh penerapan keadilan sehari-hari antara lain:
-
Menjaga kejujuran dalam interaksi.
-
Memberikan hak orang lain tanpa menunda.
-
Menghargai kontribusi rekan kerja.
-
Menghindari prasangka atau diskriminasi.
5. Apa hubungan antara keadilan dan kesejahteraan sosial dalam Islam?
Islam menekankan keadilan sosial melalui pembagian kekayaan yang adil. Instrumen seperti zakat, infak, dan sedekah digunakan untuk mengurangi kesenjangan sosial dan memastikan hak semua orang terpenuhi.
6. Apa perbedaan antara al-adl, al-qist, dan al-mizan dalam Al-Qur’an?
-
Al-Adl: menekankan kesetaraan antar pihak.
-
Al-Qist: menekankan pembagian yang wajar dan pantas.
-
Al-Mizan: menekankan keseimbangan, seperti neraca yang menimbang hak dan kewajiban.
Ketiganya sama-sama mengajarkan manusia untuk berlaku adil dalam berbagai aspek kehidupan.
7. Apa hukuman bagi orang yang berbuat zalim menurut Islam?
Islam menegaskan bahwa perbuatan zalim mendatangkan kerugian spiritual. Rasulullah SAW bersabda:
“Takutlah berbuat zalim karena sungguh ia mendatangkan kegelapan-kegelapan di hari Kiamat.” (HR. Muslim)
8. Bagaimana cara seseorang dikatakan berlaku adil?
Seseorang dianggap adil jika ia tidak berpihak kecuali pada kebenaran, tidak menzalimi orang lain, memberikan hak yang sepatutnya, dan menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban dalam kehidupan pribadi maupun sosial.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









