Akurat

7 Cara Mengatur Keuangan Keluarga Menurut Islam agar Rezeki Tetap Berkah

Eko Krisyanto | 10 Oktober 2025, 17:15 WIB
7 Cara Mengatur Keuangan Keluarga Menurut Islam agar Rezeki Tetap Berkah

AKURAT.CO Pengelolaan keuangan keluarga tidak hanya tentang bagaimana membagi pendapatan, tetapi juga bagaimana menjaga keberkahannya.

Dalam ajaran Islam, harta adalah amanah dari Allah SWT yang harus digunakan secara bijak dan sesuai dengan syariat.

Jika dikelola dengan benar, keuangan keluarga bukan hanya cukup, tapi juga membawa ketenangan dan kebahagiaan.

Berikut panduan mengatur keuangan keluarga berdasarkan nilai-nilai Islam agar rezeki yang diperoleh senantiasa berkah.

Baca Juga: Coba 4 Tips Ini Biar Keuangan Keluarga Kian Harmonis

Pastikan Pendapatan dari Sumber yang Halal

Islam menekankan pentingnya mencari rezeki yang halal dan baik. Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبً

“Wahai manusia, makanlah dari apa yang ada di bumi yang halal lagi baik.”

(QS. Al-Baqarah: 168)

Setiap rupiah yang diperoleh akan membawa pengaruh pada kehidupan keluarga. Pendapatan yang berasal dari sumber halal akan menumbuhkan keberkahan, sementara yang haram dapat menjadi sebab hilangnya ketenangan. Karena itu, penting bagi setiap kepala keluarga untuk memastikan pekerjaan dan usaha yang dijalani sesuai dengan prinsip syariah.

Baca Juga: Masalah Keuangan Keluarga yang Paling Sering Terjadi, Apa Saja?

Rencanakan Anggaran Keluarga

Rasulullah SAW mengajarkan umatnya untuk hidup teratur dan tidak berlebihan. Dalam hal keuangan, perencanaan adalah kunci agar pengeluaran tidak melebihi pemasukan.

Langkah sederhana yang bisa dilakukan antara lain:

  • Catat seluruh pendapatan dan pengeluaran keluarga.

  • Bedakan antara kebutuhan pokok dan keinginan.

  • Tetapkan prioritas seperti kebutuhan harian, pendidikan, kesehatan, dan tabungan.

Dengan perencanaan yang baik, keluarga akan lebih mudah mencapai keseimbangan dan terhindar dari pemborosan.

Hindari Gaya Hidup Berlebihan

Allah SWT mengingatkan dalam Al-Qur’an:

وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا ۝ إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ

“Janganlah kamu menghambur-hamburkan hartamu secara boros. Sesungguhnya orang-orang yang boros adalah saudara-saudara setan.”

(QS. Al-Isra: 26–27)

Hidup sederhana bukan berarti menolak kenyamanan, melainkan menempatkan kebutuhan pada porsi yang semestinya. Islam mengajarkan wasathiyah atau keseimbangan agar seseorang tidak memiliki sifat kikir dan boros.

Tunaikan Zakat, Infaq, dan Sedekah

Setiap harta memiliki hak orang lain di dalamnya. Dengan menunaikan zakat, infaq, dan sedekah, seseorang bukan hanya membersihkan hartanya tetapi juga menumbuhkan keberkahan.

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka.”

(QS. At-Taubah: 103)

Selain menjadi kewajiban, berbagi rezeki juga dapat memperkuat solidaritas sosial dan menghindarkan hati dari sifat kikir.

Sisihkan untuk Tabungan dan Investasi Halal

Islam tidak melarang umatnya untuk menabung atau berinvestasi. Justru, hal ini dianjurkan agar keluarga siap menghadapi kebutuhan di masa depan. Namun, pastikan investasi dilakukan pada instrumen yang halal, seperti tabungan syariah, sukuk, emas, atau bisnis yang sesuai prinsip Islam.

Menabung bukan berarti menimbun harta, melainkan bentuk perencanaan untuk menjaga kesejahteraan keluarga di masa mendatang tanpa melanggar ketentuan syariah.

Hindari Utang yang Mengandung Riba

Riba termasuk dosa besar dalam Islam. Karena itu, berhati-hatilah dalam berutang, apalagi jika utang tersebut mengandung bunga. Gunakan utang hanya untuk kebutuhan mendesak, dan niatkan untuk segera melunasinya.

Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ أَخَذَ أَمْوَالَ النَّاسِ يُرِيدُ أَدَاءَهَا أَدَّى اللَّهُ عَنْهُ

“Barang siapa mengambil harta orang lain dengan niat untuk melunasinya, maka Allah akan menolongnya untuk melunasi.”

(HR. Bukhari)

Jaga Keterbukaan dan Evaluasi Bersama

Dalam keluarga, keterbukaan antara suami dan istri dalam hal keuangan sangat penting.

Musyawarah tentang penggunaan uang akan menumbuhkan rasa saling percaya dan menghindari konflik. Lakukan evaluasi secara berkala untuk menilai apakah pengeluaran sudah sesuai dengan prioritas yang disepakati.

Mengatur keuangan keluarga menurut Islam bukan sekadar soal hitung-hitungan, tapi juga bentuk ibadah dan tanggung jawab moral.

Dengan pendapatan halal, perencanaan yang matang, sedekah yang rutin, dan hidup sederhana, keluarga akan merasakan ketenangan dan keberkahan dalam rezekinya.

Sebagaimana prinsip Islam, harta yang dikelola dengan baik bukan hanya mencukupi kebutuhan dunia, tetapi juga menjadi jalan menuju rida Allah SWT.

Nadira Maia Arziki (Magang)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

E
R