Akurat

Syawal sebagai Momentum Penguatan Silaturahmi dan Perayaan Kearifan Lokal untuk Kebersamaan

Wahyu SK | 11 April 2025, 22:52 WIB
Syawal sebagai Momentum Penguatan Silaturahmi dan Perayaan Kearifan Lokal untuk Kebersamaan

AKURAT.CO Berbagai tradisi dan kearifan lokal selalu mewarnai bulan Syawal setelah Hari Raya Idulfitri 1446 Hijriah di Indonesia.

Momentum pasca-Idulfitri dirayakan umat muslim di Indonesia dengan berbagai lanskap kebudayaan di berbagai pelosok negeri.

Misalnya, ada momentum Grebek Syawal di Yogyakarta, Perang Topa di Lombok, Lebaran ketupat dan lain-lain.

Ketua Dewan Syuro Ikatan Dai Indonesia (Ikadi), Prof. Dr. KH. Achmad Satori Ismail, menjelaskan, maraknya berbagai tradisi itu menjadi bukti keberagaman masyarakat Indonesia dalam merayakan perayaan Idulfitri.

"Inilah bentuk keberagaman identitas bangsa Indonesia yang patut dijaga dan disyukuri. Selama hal tersebut dapat bermanfaat, tidak mengandung unsur kesyirikan takhayul, maka secara agama itu diperbolehkan," ujarnya di Jakarta, Jumat (11/4/2025).

Baca Juga: Niat Puasa Sunnah Bulan Syawal Bisa Dilakukan di Siang Hari, Ini Dalilnya

"Syawal, di mana ada orang bagi-bagi makanan dan segala macam dengan tujuan, selama tidak mengandung kesyirikan, maka Insya Allah itu dibolehkan," tambahnya.

Kiai Satori mengungkapkan bahwa adanya tradisi mendoakan orang yang sudah meninggal, berziarah, mengundang orang lain untuk silaturahmi, berdoa bersama, adalah bentuk keindahan yang harus dijaga dan dihormati.

Bukan malah untuk dihujat atau dihakimi.

"Selama tujuannya bukan untuk mengagungkan si mayit atau untuk menyembah yang lain. Tetapi sebagai sarana kebersamaan untuk makan bersama, bisa membawa berkat ke rumah, itu adalah sesuatu yang sebenarnya indah," katanya.

Penulis buku "Merajut Tali Temali Ukhuwwah" itu menyerukan, momentum bulan Syawal dapat diinternalisasi untuk menyempurnakan ibadah-ibadah yang sudah dilakukan secara konsisten di bulan Ramadan dengan silaturahim dan saling memaafkan.

Baca Juga: Kapan Batas Puasa Syawal 2025? Catat Tanggalnya Ya!

Seorang muslim sejatinya memiliki keikhlasan untuk saling memaafkan maupun kelapangan dada dalam memahami perbedaan.

Inilah esensi bulan Syawal dalam menyempurnakan ibadah, yakni untuk menggapai keberuntungan dunia akhirat melalui upaya saling memaafkan.

Kiai kelahiran Cirebon, 6 Desember 1955, itu berpendapat, Syawal adalah momen yang tepat untuk saling introspkesi, saling membersihkan hati dari segala benci, perselisihan maupun perbedaan, baik perselisihan politik, mahzab atau agama.

Menurutnya, hal ini adalah bentuk aktualisasi bulan Ramadan dengan saling menghormati dam menjaga kepedulian terhadap sesama.
Membangun empati tanpa harus melihat identitas suku, ras atau agama.

"Sehingga kita kembali kepada fitrah, bersih, dalam artian jiwa dan jasmani kita bersih," kata Kiai Satori.

Baca Juga: Asal-Usul Penamaan Bulan Syawal, Ternyata Berkaitan dengan Unta!

"Karena Islam itu rahmat bagi seluruh alam, menjadi kasih sayang dan penebar kasih sayang untuk seluruh alam. Bukan hanya kepada muslim saja," Guru Besar Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu menambahkan.

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
Mukodah
W
Editor
Wahyu SK