Akurat

Memetik Berkah Lailatul Qadar di Penghujung Ramadhan

Wahyu SK | 4 April 2024, 23:58 WIB
Memetik Berkah Lailatul Qadar di Penghujung Ramadhan

AKURAT.CO Suasana Ramadhan di Indonesia selalu diwarnai dengan toleransi umat lintas agama.

Hal ini bukanlah sesuatu yang baru muncul, melainkan sudah ada sejak dulu, bahkan sebelum ramainya segregasi sosial akibat politisasi agama.

Menjelang akhir bulan Ramadhan 1445 Hijriah, keberkahan lailatul qadar semakin terasa memberikan makna mendalam bagi kehidupan masyarakat Indonesia yang toleran.

Membahas keutamaan bulan Ramadan yang sarat dengan nuansa perdamaian, Dosen Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Dr. Suhadi Cholil, menjelaskan bahwa terdapat banyak kejadian yang menggambarkan kuatnya rasa toleransi ketika bulan Ramadhan.

Baca Juga: Kapan Sholat Lailatul Qadar? Ketahui Berikut Tata Cara dan Bacaan Doanya

"Salah satu contohnya adalah adanya kelompok masyarakat di kota Solo dan beberapa kota lainnya yang saling rukun antara umat Kristiani dan muslimnya. Ketika yang beragama Islam menjalankan puasa Ramadhan, umat Kristiani di sana ikut menyiapkan kolak sebagai menu berbuka puasa dan diantarkan ke banyak rumah umat Islam," ujarnya, Kamis (4/4/2024).

Sebagai akademisi yang kerap meneliti interaksi umat lintas agama, Suhadi juga menemukan adanya umat Kristiani yang ikut membangunkan tetangganya yang muslim ketika datang waktu sahur.

Fenomena ini banyak dia temukan terjadi di Solo.

Ia bercerita, kalau misalnya hidup bertetangga dengan jarak rumah yang cukup dekat, bahkan berdampingan, sudah tidak asing lagi jika dijumpai umat Kristiani yang ikut membangunkan sahur.

Bahkan terkadang jika ada rumah yang dianggap belum bangun untuk sahur, maka tetangganya yang Kristiani ini akan ikut mendatangi dan memanggil penghuni rumah sampai mereka bangun dari tidurnya.

"Seharusnya ini bisa juga dicontoh oleh teman-teman muslim dalam bentuk partisipasi aktif ketika umat Kristiani sedang menyiapkan hari besar keagamaannya seperti Paskah atau Natal. Jika ini bisa diterapkan dengan baik, tentu kita semua bisa yakin bahwa Indonesia adalah negara yang kondusif bagi semua umat beragama," terangnya.

Ramadhan juga sering kali dirayakan dengan cita rasa budaya yang berbeda, sesuai dengan wilayah umat Islam bertempat.

Menurut Suhadi, perbedaan budaya dalam merayakan Ramadhan adalah hal yang wajar dan menjadi daya tarik tersendiri ketika mengunjungi negara-negara lain.

Baca Juga: Ini Dia Ciri-ciri Turunnya Malam Lailatul Qadar

Di Indonesia, sudah menjadi kebiasaan, baik instansi pemerintah maupun swasta, mengurangi jam kerja ketika bulan Ramadhan dengan maksud menghormati mereka yang berpuasa.

Selain itu, pengurangan jam kerja juga memungkinkan orang untuk lebih dekat dengan keluarga dan teman-temannya dengan bisa pulang lebih awal, bahkan sampai mengadakan buka puasa bersama.

"Karena Indonesia merupakan negara multikultural dan banyak agama. Buka puasa di bulan Ramadhan tidak hanya dilakukan oleh mereka yang beragama Islam, namun juga umat lainnya. Rasa toleransi yang tinggi bisa kita lihat di lingkungan publik, orang-orang yang tidak berpuasa biasanya mencari tempat tersendiri jika ingin menyantap makanan. Jam kerja pun biasanya dikurangi ketika bulan Ramadan," jelasnya.

Dirinya juga menceritakan tentang kebiasaan buka puasa di negara Australia.

Di sana, orang-orang yang tidak berpuasa malah sengaja diundang untuk mendatangi acara buka puasa bersama di berbagai tempat umum dan pusat kota.

Suguhan buka puasa di Australia tidak hanya berisi makanan lokal, namun juga jenis kuliner yang hanya bisa ditemukan di negara dengan mayoritas penduduknya beragama Islam.

Menurut Suhadi, bulan Ramadhan yang penuh ampunan ini juga tak bisa dipisahkan dengan keberkahan malam lailatul qadar.

Malam yang dikisahkan lebih baik dari seribu bulan ini datang diantara sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan.

Suhadi pun mengajak umat Islam untuk memahami esensi dari bulan Ramadhan dan malam lailatul qadar.

Dia beranggapan bahwa Al-Qur'an yang diturunkan di bulan Ramadhan sebenarnya membawa rahmat yang menyeluruh kepada semua manusia, tidak hanya umat Islam saja.

"Aspek kemanusiaan dalam Al-Qur'an yang pada akhirnya mengangkat derajat manusia, khususnya perempuan, adalah tentang peraturan pembagian harta waris. Banyak yang mengkritisi peraturan waris dalam Al-Qur'an, tentang laki-laki yang diatur untuk mendapatkan dua bagian dari harta warisan, sementara perempuan hanya satu bagian," katanya.

Baca Juga: Malam Lailatul Qadar Sampai Jam Berapa? Begini Penjelasannya!

"Padahal, sebelum datangnya Al-Qur'an, jangankan menerima harta warisan, kaum perempuan justru menjadi objek warisan itu sendiri. Misalnya seorang ayah telah meninggal, sementara dia punya istri yang masih muda, istrinya itu biasanya diwariskan kepada anak laki-laki si ayah tersebut," ujar Suhadi.

Mengakhiri penjelasannya, Suhadi menggarisbawahi besarnya peranan bulan Ramadhan yang di dalamnya juga diturunkan Al-Qur'an terhadap kemajuan peradaban manusia.

Menurutnya, Al-Qur'an tidak hanya membahas tentang ibadah semata namun juga berkontribusi pada emansipasi perempuan dan peningkatan kualitas hidup umat manusia.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
Mukodah
W
Editor
Wahyu SK