Akurat Logo

Riset Zurich: Skor Ketahanan Pekerja Indonesia Hampir Tertinggi di Dunia, tapi 34 Persen Belum Punya Dana Darurat

Idham Nur Indrajaya | 3 November 2026, 20:25 WIB
Riset Zurich: Skor Ketahanan Pekerja Indonesia Hampir Tertinggi di Dunia, tapi 34 Persen Belum Punya Dana Darurat
Skor ketahanan pekerja Indonesia mencapai 4,37 dari 5, tetapi 34% responden belum memiliki dana darurat yang memadai. - dok. Zurich

AKURAT.CO Skor ketahanan pekerja Indonesia mencapai 4,37 dari 5 dalam studi global Zurich dan University of Oxford. Angka ini hanya terpaut 0,01 poin dari skor tertinggi dan berada di atas rata-rata global sebesar 4,11. Namun, tingginya skor tersebut masih menyisakan tantangan, terutama terkait kesiapan finansial pekerja menghadapi situasi darurat.

Ketahanan pekerja Indonesia menunjukkan capaian yang cukup menonjol dalam studi global The Resilient Workforce yang dilakukan Zurich bersama University of Oxford. Indonesia mencatatkan skor 4,37 dari skala 5, hanya terpaut 0,01 poin dari negara dengan skor tertinggi, yakni 4,38.

Capaian tersebut juga melampaui rata-rata global yang berada di angka 4,11. Studi yang melibatkan lebih dari 11.000 responden dari 16 negara ini mengukur kemampuan pekerja dalam menghadapi tekanan, beradaptasi terhadap perubahan, serta mempertahankan kondisi positif di tengah berbagai tantangan kehidupan dan pekerjaan.

Meski demikian, skor yang hampir menyentuh posisi tertinggi tersebut tidak serta-merta menggambarkan bahwa seluruh pekerja Indonesia telah memiliki ketahanan yang kuat dalam setiap aspek kehidupan. Salah satu persoalan yang masih perlu diperhatikan adalah kesiapan finansial ketika menghadapi kehilangan pendapatan atau kebutuhan mendadak.

Direktur Keuangan PT Zurich Asuransi Indonesia, Musi Samosir, menjelaskan bahwa Indonesia memperoleh skor ketahanan yang relatif tinggi dibandingkan negara lain dalam studi tersebut.

“Secara keseluruhan, skor resilience Indonesia mencapai 4,37,” ujar Musi dalam pemaparan hasil studi The Resilient Workforce di Jakarta, Selasa, 3 November 2026.

Dia menjelaskan, negara dengan skor tertinggi dalam survei tersebut memperoleh nilai 4,38, sedangkan rata-rata global berada di angka 4,11. Dengan demikian, skor Indonesia hanya terpaut tipis dari capaian tertinggi dalam penelitian tersebut.

Ketahanan Pekerja Indonesia Tinggi, tetapi Kesiapan Finansial Masih Menjadi Tantangan

Skor ketahanan pekerja Indonesia tersebut perlu dibaca dengan memperhatikan sejumlah dimensi yang membentuknya. Studi The Resilient Workforce mengukur ketahanan melalui lima aspek, yaitu fisik, psikologis, sosial, finansial, dan digital.

Kelima aspek tersebut saling berkaitan dalam menentukan kemampuan seseorang menghadapi tekanan dan perubahan. Pekerja yang sehat secara fisik, misalnya, belum tentu memiliki kesiapan finansial yang memadai ketika kehilangan pekerjaan. Begitu pula seseorang yang mampu beradaptasi dengan teknologi masih dapat menghadapi tekanan psikologis atau beban keluarga.

Musi menjelaskan bahwa hasil studi menunjukkan Indonesia memiliki skor di atas rata-rata global pada kelima dimensi ketahanan tersebut. Proporsi responden Indonesia yang masuk kategori thriving atau berkembang juga lebih tinggi dibandingkan rata-rata global.

Namun, capaian agregat tersebut tidak berarti seluruh responden memiliki kondisi yang sama kuat. Salah satu temuan yang perlu diperhatikan adalah masih adanya persoalan dalam ketahanan finansial pekerja.

Dalam pemaparan hasil studi, Musi menyebut hanya 43% responden yang memiliki ketahanan finansial kuat. Salah satu indikator yang digunakan untuk mengukurnya adalah keyakinan seseorang bahwa tabungan yang dimiliki cukup untuk mempertahankan standar hidup selama beberapa bulan apabila pendapatannya terhenti.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa kemampuan menghadapi perubahan tidak hanya berkaitan dengan keterampilan bekerja atau kesehatan, tetapi juga ketersediaan sumber daya keuangan untuk melewati masa sulit.

Di sisi lain, studi tersebut juga mencatat sebanyak 34% responden Indonesia belum memiliki dana cadangan yang memadai untuk menghadapi keadaan darurat. Angka ini lebih rendah dibandingkan proporsi responden global yang tidak memiliki cadangan finansial cukup, yakni sekitar 49%.

Kedua angka tersebut perlu dipahami sebagai indikator yang berbeda. Persentase 43% merujuk pada responden dengan ketahanan finansial kuat berdasarkan pengukuran studi, sedangkan angka 34% menunjukkan responden yang belum memiliki dana cadangan memadai. Keduanya tidak dapat dipertukarkan atau dianggap sebagai ukuran yang sama.

Baca Juga: Zurich Gandeng UNICEF untuk Dukung Kesehatan Mental Generasi Muda Indonesia, Begini Caranya

Baca Juga: Tak Cuma Tanam Mangrove, Zurich Dukung UMKM Lokal di Tanjung Pasir

Mengapa Dana Darurat Penting bagi Ketahanan Pekerja?

Dana darurat menjadi salah satu fondasi penting dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi. Tanpa cadangan keuangan, pekerja berisiko lebih rentan ketika mengalami pemutusan hubungan kerja, penurunan pendapatan, gangguan kesehatan, atau kebutuhan keluarga yang tidak terduga.

Dalam situasi tersebut, seseorang mungkin harus menggunakan tabungan jangka panjang, menjual aset, atau mengandalkan pinjaman untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Keputusan finansial yang diambil dalam kondisi terdesak juga berpotensi menimbulkan beban baru apabila tidak disertai perhitungan yang matang.

Kondisi ini menunjukkan bahwa ketahanan finansial bukan sekadar kemampuan memperoleh penghasilan. Kemampuan mengelola pengeluaran, membangun tabungan, dan menjaga perlindungan keuangan ketika pendapatan terganggu juga menjadi bagian penting dari ketahanan seseorang.

Musi menjelaskan bahwa persoalan ketahanan finansial tidak hanya ditemukan di negara berkembang. Negara dengan tingkat pendapatan tinggi pun dapat menghadapi tantangan serupa akibat biaya hidup dan kewajiban keuangan yang besar.

Dengan kata lain, besarnya penghasilan tidak selalu menjamin seseorang memiliki ketahanan finansial yang kuat. Penghasilan yang tinggi dapat tetap diikuti pengeluaran besar, cicilan, tanggungan keluarga, dan kebutuhan lain yang mengurangi kemampuan membangun dana cadangan.

Bagi pekerja, kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa peningkatan pendapatan perlu berjalan beriringan dengan pengelolaan keuangan. Ketahanan finansial juga perlu dibangun secara bertahap agar seseorang tidak langsung kehilangan kestabilan ketika menghadapi perubahan kondisi pekerjaan.

Beban Merawat Keluarga Ikut Memengaruhi Ketahanan Pekerja

Selain persoalan finansial, tanggung jawab merawat anggota keluarga atau caregiving menjadi salah satu faktor yang turut membentuk ketahanan pekerja Indonesia.

Studi Zurich dan University of Oxford mencatat sebanyak 73% responden Indonesia memiliki tanggung jawab pengasuhan atau perawatan anggota keluarga. Angka ini lebih tinggi dibandingkan rata-rata global sebesar 63%.

Tanggung jawab tersebut dapat mencakup merawat anak, mendampingi orang tua, hingga memberikan dukungan fisik maupun finansial kepada anggota keluarga lainnya.

Musi menyoroti tingginya tanggung jawab pengasuhan yang dimiliki responden Indonesia dibandingkan dengan responden global.

“Indonesia itu punya proporsi caregiving yang lebih tinggi dibandingkan global, 73%,” kata Musi.

Tingginya angka tersebut memperlihatkan bahwa kehidupan pekerja Indonesia tidak selalu berhenti pada urusan pekerjaan dan kebutuhan pribadi. Sebagian pekerja juga harus membagi waktu, tenaga, dan pendapatan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Dalam konteks tertentu, tanggung jawab merawat keluarga dapat membentuk kemampuan seseorang untuk beradaptasi dan menghadapi tantangan. Namun, tanggung jawab tersebut juga berpotensi menjadi tekanan apabila tidak diimbangi dukungan sosial, kesehatan yang memadai, dan kondisi finansial yang stabil.

Bagi pekerja yang berada dalam kelompok sandwich generation, misalnya, kebutuhan membiayai anak sekaligus membantu orang tua dapat membuat pengelolaan keuangan menjadi lebih kompleks. Penghasilan yang seharusnya digunakan untuk kebutuhan pribadi dan tabungan masa depan harus dibagi dengan berbagai tanggungan keluarga.

Karena itu, tingginya ketahanan pekerja tidak cukup dilihat dari kemampuan individu untuk bertahan. Dukungan keluarga, lingkungan kerja, dan sistem perlindungan sosial juga berperan dalam membantu pekerja menghadapi berbagai tanggung jawab tersebut.

Penggunaan AI dan Kualitas Tidur Menjadi Faktor Lain

Dimensi digital juga menjadi salah satu aspek yang menarik dari hasil studi The Resilient Workforce. Musi menyebut lebih dari separuh responden Indonesia menggunakan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) setiap hari.

Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata global yang berada di kisaran 32%. Temuan ini memperlihatkan tingginya intensitas penggunaan teknologi digital dalam kehidupan responden Indonesia.

Meski demikian, frekuensi penggunaan AI tidak otomatis menunjukkan bahwa seluruh pekerja telah memiliki kemampuan literasi digital yang memadai. Penggunaan teknologi perlu diikuti kemampuan memahami informasi, mengevaluasi hasil, menjaga keamanan data, dan memanfaatkan teknologi secara tepat dalam pekerjaan.

Selain faktor digital, kualitas tidur juga menjadi perhatian dalam pembahasan ketahanan pekerja. Musi menyebut tidur sebagai salah satu fondasi yang mendukung berbagai dimensi ketahanan.

“Berdasarkan studi The Resilient Workforce, tidur merupakan fondasi bagi resilience,” ujar Musi.

Tidur yang berkualitas berkaitan dengan kemampuan seseorang menjaga kondisi fisik dan psikologis. Kondisi tubuh yang lebih bugar juga dapat membantu pekerja menjalankan aktivitas sehari-hari, menghadapi tekanan, dan mempertahankan produktivitas.

Namun, persoalan tidur tidak bisa dilepaskan dari pola kerja dan kebiasaan hidup. Jam kerja panjang, tekanan pekerjaan, perjalanan menuju tempat kerja, serta tanggung jawab keluarga dapat memengaruhi kesempatan seseorang memperoleh waktu istirahat yang cukup.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa ketahanan pekerja tidak hanya dibangun melalui pelatihan atau peningkatan keterampilan. Kebiasaan sehari-hari, termasuk menjaga kualitas tidur, juga menjadi bagian dari upaya mempertahankan kemampuan menghadapi perubahan.

Pekerja yang Lebih Tangguh Cenderung Memiliki Kinerja Lebih Baik

Pentingnya ketahanan pekerja juga terlihat dari kaitannya dengan kinerja. Studi The Resilient Workforce menemukan bahwa pekerja dengan tingkat ketahanan tertinggi cenderung melaporkan kinerja yang lebih baik dibandingkan pekerja dengan tingkat ketahanan terendah.

Sebanyak 88% pekerja dalam kelompok dengan tingkat ketahanan tertinggi melaporkan kinerja baik atau sangat baik. Sementara itu, proporsinya hanya mencapai 44% pada kelompok dengan tingkat ketahanan terendah.

Temuan ini menunjukkan adanya hubungan yang kuat antara ketahanan individu dan kemampuan menjalankan pekerjaan. Pekerja yang mampu mengelola tekanan, beradaptasi, serta menjaga keseimbangan berbagai aspek kehidupan berpotensi memiliki kondisi yang lebih mendukung untuk mempertahankan kinerja.

Bahkan, studi tersebut menyebut hubungan antara ketahanan dan kinerja lebih kuat dibandingkan faktor pendapatan. Artinya, besarnya penghasilan bukan satu-satunya faktor yang berkaitan dengan kemampuan pekerja mempertahankan performa.

Country Manager Zurich Indonesia sekaligus Presiden Direktur PT Zurich Asuransi Indonesia Tbk, Edhi Tjahja Negara, menilai ketahanan pekerja perlu menjadi perhatian perusahaan dalam menyusun strategi jangka panjang.

“Membangun workforce resilience bukan lagi sekadar inisiatif sumber daya manusia, melainkan bagian dari strategi bisnis jangka panjang,” ujar Edhi.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa kesejahteraan pekerja tidak semestinya dipandang hanya sebagai program tambahan perusahaan. Kondisi fisik, mental, sosial, dan finansial karyawan turut memengaruhi keberlangsungan aktivitas bisnis.

Perusahaan dapat mengambil peran melalui lingkungan kerja yang lebih sehat, akses terhadap layanan kesehatan, dukungan psikologis, serta program edukasi finansial. Upaya tersebut juga perlu disesuaikan dengan kebutuhan pekerja agar tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.