INDEF: Tanpa Trust, Stabilitas Pasar Sulit Dipertahankan

AKURAT.CO Gejolak yang terjadi di pasar keuangan Indonesia kembali memunculkan diskusi mengenai fondasi utama stabilitas ekonomi nasional.
Ekonom Senior INDEF sekaligus Rektor Universitas Paramadina, Didik J Rachbini, menilai bahwa krisis kepercayaan atau trust deficit merupakan akar dari berbagai tekanan yang terjadi, mulai dari pelemahan pasar saham hingga tekanan pada nilai tukar rupiah.
Menurut Didik, pasar saat ini tidak hanya bereaksi terhadap faktor eksternal, tetapi juga terhadap persepsi internal mengenai konsistensi kebijakan, kepastian hukum, dan kualitas tata kelola ekonomi nasional.
Ketika faktor-faktor tersebut dipertanyakan, investor cenderung mengurangi eksposur terhadap aset domestik.
Baca Juga: INDEF: APBN Harus Jadi Fondasi Utama Trust bagi para Investor
Ia menekankan bahwa dalam sistem keuangan global, kepercayaan adalah faktor penentu utama. Tanpa kepercayaan, bahkan indikator ekonomi yang relatif stabil tidak cukup untuk mempertahankan aliran modal masuk.
Didik menjelaskan bahwa investor global saat ini sangat sensitif terhadap risiko kebijakan (policy risk) dan risiko institusional (institutional risk). Kedua faktor ini, menurutnya, berkontribusi pada meningkatnya premi risiko Indonesia di mata investor.
Ia juga menyinggung pentingnya independensi lembaga ekonomi, termasuk bank sentral dan institusi pengawas pasar, sebagai bagian dari fondasi kepercayaan.
"Sebab ketika independensi tersebut dipersepsikan melemah, maka pasar akan merespons dengan cepat melalui penarikan modal. Dalam refleksi historis, reformasi ekonomi pasca-krisis 1998 menunjukkan pentingnya pembenahan institusi dalam memulihkan kepercayaan," tulisnya melalui keterangan tertulis yang diterima AKURAT.CO, Sabtu (6/6/2026).
Pada masa itu, lanjut Didik, berbagai langkah seperti penguatan bank sentral independen, reformasi hukum, hingga penataan ulang struktur ekonomi menjadi faktor penting pemulihan stabilitas.
Ia menilai bahwa pelajaran tersebut masih relevan hingga saat ini, terutama dalam konteks menjaga kredibilitas kebijakan ekonomi jangka panjang.
Selain itu, Didik juga menyoroti peran komunikasi pemerintah dalam membentuk persepsi pasar.
"Ketika komunikasi kebijakan tidak konsisten atau menimbulkan kebingungan, maka pasar akan merespons dengan meningkatkan kehati-hatian," tulisnya.
Baca Juga: INDEF Usul Zona Emisi Rendah Jadi Sumber PAD Baru, Pajak Kendaraan Listrik Perlu Dikaji Matang
Oleh karena itu, pemulihan pasar keuangan Indonesia sangat bergantung pada pemulihan kepercayaan secara menyeluruh.
"Tanpa itu, tekanan terhadap pasar dan nilai tukar akan terus berlanjut," ucapnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kecelakaan Maut di Afrika Selatan, 21 Orang Tewas dalam Tabrakan Tiga Kendaraan
- 2Terpukau Atmosfer Persija vs Persib di SUGBK, John Herdman: Belum Pernah Saya Rasakan
- 3Apa Itu Gempa Megathrust? Ini Wilayah Indonesia yang Berpotensi Terdampak
- 4Tokoh Partai Reformasi Britania Raya Balas Trump soal Irlandia Bersatu: Jangan Campuri Politik Inggris!
- 5Soal Kabar Jokowi-Megawati Bakal Bertemu, Said Abdullah: Kartunya Mati, Jangan Dihidupkan Lagi
- 6Suahasil Nazara Jadi Menkeu Baru, Ini Sosok dan Perjalanan Kariernya
- 7ACL Two: FC Seoul Siapkan Pemain SMA Lawan Persib Bandung, Anggap Remeh?
- 8Ismed Sofyan Puji Shin Tae-yong Usai Persija Kalahkan Persib, Putuskan Kebuntuan 3 Tahun
- 9Sidang Korupsi Kuota Haji Ungkap Marwan Dasopang Mendorong Kuota Tambahan Tidak Seluruhnya untuk Jemaah Reguler
- 10Fahd A Rafiq Bersama Tujuh Tersangka OTT Summarecon Digiring ke Mobil Tahanan KPK









