INDEF: APBN Harus Jadi Fondasi Utama Trust bagi para Investor

AKURAT.CO Di tengah tekanan pasar keuangan global dan domestik, kebijakan fiskal kembali menjadi sorotan utama oleh seluruh kalangan masyarakat di Indonesia.
Merespon hal tersebut, Ekonom Senior INDEF sekaligus Rektor Universitas Paramadina, Didik J Rachbini menegaskan bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tidak bisa dipahami hanya sebagai dokumen teknokratis fiskal, melainkan sebagai “dokumen kepercayaan” yang sangat menentukan arah persepsi investor.
Menurut Didik, pasar keuangan global membaca APBN sebagai representasi langsung dari kredibilitas negara dalam mengelola ekonomi.
"Oleh karena itu, setiap perubahan kebijakan fiskal, ekspansi belanja, atau ketidakkonsistenan implementasi dapat langsung memengaruhi sentimen investor," ucapnya melalui keterangan tertulis yang diterima di AKURAT.CO, Sabtu (6/6/2026).
Baca Juga: Tokenisasi Aset: Kunci Masa Depan Pasar Keuangan Digital di Indonesia?
Sebab, tambah Didik, APBN yang sehat bukan hanya soal besaran defisit atau tingkat belanja negara, tetapi lebih pada bagaimana proses penyusunannya dilakukan secara kredibel, transparan, dan konsisten dengan aturan yang berlaku.
“Pasar akan percaya jika pengelolaan APBN terukur, terkendali, dan prosesnya dijalankan dengan baik dan sahih di parlemen,” ujarnya.
Dalam pandangannya, risiko utama yang dapat mengganggu kepercayaan pasar adalah ekspansi fiskal yang tidak terkontrol, munculnya program-program baru tanpa evaluasi memadai, serta lemahnya disiplin fiskal dalam jangka menengah.
Didik juga menyoroti pentingnya peran lembaga legislatif dalam menjaga kualitas APBN. Jika proses politik anggaran hanya menjadi formalitas tanpa evaluasi yang ketat, maka persepsi risiko akan meningkat di mata investor global.
Ia menjelaskan bahwa pasar internasional sangat memperhatikan bagaimana sebuah negara menjaga keseimbangan antara belanja negara dan penerimaan.
"Sebab, ketika defisit dianggap tidak terkendali, maka risiko negara (sovereign risk) akan meningkat, yang pada akhirnya berdampak pada nilai tukar dan arus modal," tegasnya.
Dan juga, lanjut Didik, APBN harus dipahami sebagai instrumen komunikasi ekonomi kepada pasar global. Setiap kebijakan fiskal mengirimkan sinyal mengenai arah ekonomi, stabilitas politik, dan kemampuan pemerintah menjaga disiplin kebijakan.
Dalam konteks Indonesia, Didik menilai bahwa menjaga konsistensi fiskal menjadi semakin penting di tengah dinamika global yang penuh ketidakpastian.
Ketika kepercayaan pasar melemah, dampaknya dapat langsung tercermin pada arus modal keluar dan tekanan pada mata uang.
Baca Juga: Apa yang Mendorong Volatilitas di Pasar Keuangan Global?
Karena itu, ia menegaskan bahwa penguatan tata kelola APBN menjadi bagian penting dari upaya membangun kembali kepercayaan investor.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kecelakaan Maut di Afrika Selatan, 21 Orang Tewas dalam Tabrakan Tiga Kendaraan
- 2Terpukau Atmosfer Persija vs Persib di SUGBK, John Herdman: Belum Pernah Saya Rasakan
- 3Apa Itu Gempa Megathrust? Ini Wilayah Indonesia yang Berpotensi Terdampak
- 4Tokoh Partai Reformasi Britania Raya Balas Trump soal Irlandia Bersatu: Jangan Campuri Politik Inggris!
- 5Soal Kabar Jokowi-Megawati Bakal Bertemu, Said Abdullah: Kartunya Mati, Jangan Dihidupkan Lagi
- 6Suahasil Nazara Jadi Menkeu Baru, Ini Sosok dan Perjalanan Kariernya
- 7ACL Two: FC Seoul Siapkan Pemain SMA Lawan Persib Bandung, Anggap Remeh?
- 8Ismed Sofyan Puji Shin Tae-yong Usai Persija Kalahkan Persib, Putuskan Kebuntuan 3 Tahun
- 9Sidang Korupsi Kuota Haji Ungkap Marwan Dasopang Mendorong Kuota Tambahan Tidak Seluruhnya untuk Jemaah Reguler
- 10Fahd A Rafiq Bersama Tujuh Tersangka OTT Summarecon Digiring ke Mobil Tahanan KPK









