Jumlah Investor Ritel Lokal Dominan Tapi Kenapa IHSG Masih Gampang Goyang?

AKURAT.CO Jumlah investor pasar modal Indonesia terus mencetak rekor baru. Sayangnya, ini belum diikuti oleh "kedaulatan" atas arah gerak pasar modal Tanah Air itu sendiri.
Mengacu kepada hasil data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) menunjukkan jumlah single investor identification (SID) pasar modal hingga akhir April 2026 mencapai 26,49 juta.
Dari jumlah tersebut, SID saham dan surat berharga lain tercatat sebanyak 9,56 juta.
Pertumbuhan investor domestik tersebut kerap digunakan sebagai indikator bahwa pasar modal Indonesia semakin kuat dan semakin mandiri.
Baca Juga: Investor Ritel Lokal Dominasi Pasar Saham, Dasco Optimistis IHSG Segera Menguat
Bahkan dalam beberapa kesempatan, pejabat otoritas pasar modal juga menekankan bahwa dominasi investor lokal membuat pasar keuangan nasional lebih tahan terhadap tekanan global.
Namun sayangnya kondisi di lapangan menunjukkan situasi berbeda.
Dalam beberapa bulan terakhir, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru tetap mudah terkoreksi ketika terjadi tekanan geopolitik global, pelemahan rupiah, maupun aksi jual investor asing.
Pada April 2026 lalu, IHSG ditutup di level 6.956,80 atau turun 1,30% secara bulanan dan melemah 19,55% sejak awal tahun.
Sehingga kondisi tersebut memunculkan pertanyaan besar di pasar, yakni apabila investor domestik benar-benar dominan, lalu mengapa IHSG masih sangat sensitif terhadap arus keluar modal asing?
Merespon hal tersebut, Ekonom Senior Permata Bank, Josua Pardede menilai lonjakan jumlah investor ritel memang menunjukkan partisipasi masyarakat di pasar modal semakin luas.
Namun pertumbuhan jumlah akun investor belum otomatis berarti pasar saham Indonesia telah mandiri dari pengaruh investor global.
“Dominasi investor ritel lokal saat ini lebih tepat disebut dominasi jumlah akun, belum sepenuhnya dominasi daya beli dan daya stabilisasi pasar,” ujar Josua kepada Akurat.co, Selasa (19/5/2026).
Sebab menurut dia, pasar saham tidak ditentukan oleh jumlah akun investor semata, melainkan oleh kekuatan modal, likuiditas, dan kepemilikan pada saham-saham berkapitalisasi besar yang menjadi penopang utama indeks.
Modal Masih Terkonsentrasi Walau Jumlah Investor Besar
Data KSEI menunjukkan total aset di Central Depository and Book Entry Settlement System (C-BEST) per April 2026 mencapai Rp8.929 triliun dengan kapitalisasi pasar sebesar Rp12.382 triliun.
Kepemilikan investor lokal tercatat sebesar 64,42%, sementara investor asing 35,58%.
Secara tidak langsung, angka tersebut menunjukkan investor domestik memang lebih dominan dibanding investor asing.
Namun struktur pasar saham Indonesia tidak sesederhana melihat jumlah akun atau porsi kepemilikan secara total.
Josua menjelaskan pergerakan harian IHSG lebih banyak ditentukan oleh transaksi pada saham-saham besar dan likuid yang menjadi acuan indeks global.
Saham sektor perbankan, komoditas, telekomunikasi, dan emiten berkapitalisasi jumbo masih menjadi ruang utama aktivitas investor asing.
Akibatnya, investor asing tidak harus menjadi mayoritas pemilik saham untuk dapat menggerakkan arah indeks.
“Cukup menjadi penjual besar di saham-saham paling likuid, maka harga indeks bisa terdorong turun,” kata Josua.
Mengutip data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperlihatkan investor asing masih mencatat jual bersih saham sebesar Rp17,02 triliun pada April 2026 setelah sebelumnya juga melakukan net sell Rp23,34 triliun pada Maret 2026.
Di saat yang sama, rata-rata nilai transaksi harian di bursa justru turun dari Rp20,66 triliun pada Maret menjadi Rp18,51 triliun pada April. P
enurunan likuiditas transaksi tersebut membuat kemampuan pasar domestik menyerap tekanan jual asing menjadi lebih terbatas.
Kondisi itu memperlihatkan bahwa jumlah investor domestik yang besar belum otomatis mampu menjadi penyangga pasar ketika tekanan eksternal meningkat.
Arah Pasar RI Mengekor Pergerakan Global
Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, pasar modal Indonesia pada dasarnya tetap terhubung dengan pergerakan pasar global.
Menurut dia, hubungan antarbursa membuat IHSG akan tetap bergerak mengikuti sentimen global meskipun jumlah investor domestik terus meningkat.
“Pasar modal itu mekanisme pasar. Bursa di Indonesia terkoneksi dengan Amerika, Eropa, Jepang, Korea Selatan, sampai China. Pada saat di Amerika merah, semua akan merah,” ujar Ibrahim kepada Akurat.co, Selasa (19/5/2026).
Ibrahim menilai narasi bahwa jumlah SID domestik yang besar otomatis membuat IHSG kuat tidak sepenuhnya tepat.
Sebab keberadaan SID hanya mencerminkan jumlah akun investor, bukan besarnya modal maupun kemampuan memengaruhi harga saham.
“SID begitu banyak itu tidak ada pengaruhnya terhadap arah IHSG. SID itu akun untuk melakukan transaksi,” katanya.
Menurut Ibrahim, arah pasar saham Indonesia masih sangat dipengaruhi sentimen global, terutama melalui keputusan investor institusi asing dan indeks provider global seperti Morgan Stanley Capital International (MSCI).
MSCI memiliki pengaruh besar karena menjadi acuan investasi banyak dana global, termasuk passive fund dan exchange traded fund (ETF).
Ketika suatu saham dikeluarkan dari indeks MSCI atau bobotnya dikurangi, dana asing yang mengikuti indeks tersebut biasanya ikut melakukan penjualan.
Dalam tinjauan MSCI Mei 2026, Indonesia tidak memperoleh tambahan saham baru pada MSCI Global Standard Index dan justru mengalami enam penghapusan saham.
Pada MSCI Small Cap Index, hanya terdapat satu tambahan saham dan tiga belas penghapusan.
Berbeda dengan Ibrahim, Josua Pardede menilai keputusan MSCI tersebut memberikan tekanan ganda bagi pasar saham Indonesia.
Selain memicu arus keluar langsung dari dana berbasis indeks, penghapusan saham juga menurunkan persepsi kualitas pasar di mata investor global.
“Ini menimbulkan tekanan ganda: arus keluar langsung dari dana berbasis indeks dan penurunan kepercayaan terhadap kualitas pasar,” ujar Josua.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Jokowi Muncul di Kertanegara, Prabowo Pergi Tak Lama Setelah Pertemuan
- 2Dulu Minta Gibran Diganti, Kini Syahganda Bilang Sikapnya Berubah: Sekarang Saya di Pemerintahan
- 3Soal Gugatan Syarat Pendidikan Gibran ke MK, Margarito Kamis: Saya Tak Mengerti Kenapa Disidangkan
- 4Link Live Score Indonesia vs Thailand Final FIFA ASEAN Cup 2026, Cek Skor dan Susunan Pemain Sekarang!
- 5Link Live Streaming Indonesia vs Thailand di Final FIFA ASEAN Cup 2026, Nonton di Sini!
- 6Kalender Jawa 5 Oktober 2026: Watak Weton Senin Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 7Link Live Streaming Indonesia vs Thailand Final FIFA ASEAN Cup 2026: Jam Berapa dan Tayang di Mana?
- 8Jokowi Temui Prabowo di Kertanegara Bersamaan dengan Putusan MK soal Gibran, Ada Apa?
- 9Febrie Adriansyah Didakwa Memeras Tan Kian Rp55 Miliar agar Tidak Jadi Tersangka Korupsi Jiwasraya
- 10Sidang Perdana Kasus Asabri-Jiwasraya, Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Ikuti Pembacaan Dakwaan









