Akurat

Penutupan Selat Hormuz dan Ambruknya Pasar Saham Asia

Yosi Winosa | 2 Maret 2026, 18:39 WIB
Penutupan Selat Hormuz dan Ambruknya Pasar Saham Asia
Pasar Saham Asia

AKURAT.CO Pasar saham di kawasan Asia bergerak serempak di zona merah, sementara harga minyak mentah melonjak tajam, menyusul eskalasi konflik di Timur Tengah yang kembali meningkatkan ketidakpastian global.

Sentimen risk-off mendominasi perdagangan, mendorong investor untuk meninjau ulang eksposur terhadap aset berisiko. Konflik yang melibatkan Iran dan Amerika Serikat serta Israel, memicu kekhawatiran serius terhadap stabilitas pasokan energi global.

Situasi kian memanas menyusul laporan mengenai terganggunya aktivitas pelayaran di Selat Hormuz, jalur strategis yang mengalirkan sekitar seperlima perdagangan minyak dunia. Gangguan ini meningkatkan kekhawatiran terhadap kelancaran distribusi energi global dan memicu lonjakan harga minyak.

Baca Juga: Kemenkeu Hitung Ulang Dampak Penutupan Selat Hormuz ke Perekonomian RI

Brent sempat menguat hingga sekitar 13% sebelum memangkas sebagian kenaikan, saat ini tercatat menguat sekitar 9% dibandingkan dengan penutupan hari Jumat 27 Februari 2026 – mencerminkan sensitivitas dan volatilitas tinggi di pasar energi.

"Hingga saat ini, pelaku pasar masih memantau perkembangan di Selat Hormuz, mengingat perannya yang krusial dalam distribusi minyak global," tulis Riset Eastspring Investment dikutip Senin (2/3/2026).

IHSG Anjlok 2,6 Persen

Pasar saham Indonesia tidak terhindar dari tekanan sentimen global. Sejak pembukaan perdagangan, indeks bergerak melemah dan bertahan di zona negatif sepanjang sesi. IHSG akhirnya ditutup melemah 2,66% atau 218,65 poin di level 8.016,83 seiring meningkatnya kehati-hatian investor terhadap risiko eksternal.

Tekanan terutama datang dari saham-saham berkapitalisasi besar, dengan BREN (-5,47%), BMRI (-3,79%), ASII (-5,62%), TPIA (-10,82%), dan BBCA (-2,09%) mencatatkan penurunan terdalam. Di tengah pelemahan tersebut, sektor energi mencatatkan kinerja relatif lebih baik dibandingkan sektor lainnya.

Pada pasar keuangan lainnya, nilai tukar Rupiah melemah 0,48% ke Rp16.868 per Dolar AS di tengah dengan penguatan indeks Dolar AS. Pasar obligasi juga mengalami tekanan, tercermin dari kenaikan imbal hasil SBN tenor 5 tahun sebesar 7 bps ke level 5,85%, serta tenor 10 tahun yang naik ke level 6,46% dari 6,43%.

Dampak Eskalasi Konflik Timur Tengah ke RI

Bagi Indonesia, risiko eskalasi konflik ini ditransmisikan melalui dua saluran utama, yakni perdagangan komoditas khususnya minyak serta pasar keuangan.

1. Perdagangan Komoditas

Meningkatnya ketegangan geopolitik berpotensi mendorong kenaikan harga energi global, yang pada gilirannya dapat memperburuk tekanan inflasi domestik.

Dalam konteks Indonesia, situasi ini berisiko meningkatkan kebutuhan subsidi dan kompensasi energi untuk menjaga stabilitas harga domestik. Akibatnya, tekanan fiskal berpotensi meningkat, termasuk risiko pelebaran defisit anggaran jika beban subsidi meningkat secara signifikan.

2. Pasar Keuangan

Dalam periode meningkatnya risiko global, aset negara berkembang cenderung mengalami tekanan seiring terjadinya pergeseran investasi menuju instrumen safe haven.

Pergeseran ini berpotensi memicu arus keluar dana asing (foreign outflows) dari pasar domestik. Dinamika tersebut dapat meningkatkan volatilitas nilai tukar Rupiah serta menambah tekanan terhadap kondisi pembiayaan eksternal.

Ke Mana Arah Selanjutnya?

Sejauh ini, situasinya masih sangat dinamis dan penuh ketidakpastian. Arah perkembangan akan sangat bergantung pada beberapa variabel kunci.

Apakah Iran memilih jalur de-eskalasi melalui gencatan senjata dan perundingan? Apakah Amerika Serikat akan meningkatkan eskalasi dengan opsi invasi darat? Apakah konflik berpotensi meluas hingga melibatkan aktor regional atau global lainnya?

Dinamika interaksi faktor-faktor ini akan menentukan apakah lonjakan harga minyak saat ini bersifat sementara atau berkembang menjadi guncangan struktural yang lebih berkepanjangan.

Bagi pasar minyak, variabel yang paling krusial adalah durasi serta tingkat gangguan terhadap lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz. Lamanya penutupan jalur tersebut akan menjadi faktor penentu utama terhadap stabilitas pasokan dan volatilitas harga ke depan.

Secara historis, guncangan geopolitik sering memicu lonjakan tajam harga minyak dan aset safe haven pada fase awal. Namun, pergerakan ini cenderung mereda jika konflik tetap terkendali dan tidak meningkat menjadi krisis yang lebih luas.

Saat ini, selama belum ada tanda-tanda de-eskalasi yang jelas, volatilitas diperkirakan akan tetap tinggi, terutama pada aset berisiko, nilai tukar, dan komoditas energi.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.