Free Float Rendah, Risiko Manipulasi Tinggi: Investor Global Soroti Kelemahan Struktural Pasar Saham Indonesia di Tengah Freeze MSCI

Sorotan kini bergeser. Bukan lagi hanya soal pertumbuhan laba emiten atau valuasi murah, melainkan isu yang lebih mendasar: rendahnya free float, tingginya konsentrasi kepemilikan, potensi distorsi harga, hingga transparansi tata kelola perdagangan. Bagi investor global, faktor-faktor tersebut meningkatkan risiko manipulasi dan mereduksi kredibilitas price discovery di pasar.
Kenapa Freeze MSCI Jadi Alarm untuk Pasar Saham Indonesia?
Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto, menyebut pembekuan rebalancing indeks sebagai peringatan serius bagi struktur pasar.
“Dari sudut pandang investor asing, isu utamanya adalah transparansi, governance, dan konsentrasi kepemilikan. Ada saham-saham dengan kepemilikan dominan sehingga pergerakan harganya bisa menjadi terlalu ekstrem. Itu memicu kekhawatiran manipulasi harga,” kata Rully dalam acara Media Day by Mirae Asset Sekuritas, Jumat, 13 Februari 2026.
Artinya, perhatian investor global kini lebih dalam: apakah mekanisme pembentukan harga di pasar saham Indonesia benar-benar sehat dan mencerminkan kondisi fundamental?
Reli IHSG Naik, Tapi Apakah Kualitas Pasar Ikut Menguat?
Dalam beberapa pekan terakhir, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat mencatat penguatan. Namun menurut kajian internal tim riset Mirae, kenaikan indeks sepanjang 2025—yang sempat menyentuh sekitar 22% di puncaknya—tidak sepenuhnya menggambarkan penguatan pasar secara menyeluruh.
Arus dana asing masih mencatatkan net sell. Sementara kenaikan indeks dinilai terkonsentrasi pada segelintir saham, terutama yang memiliki karakteristik:
-
Free float rendah
-
Volatilitas tinggi
-
Likuiditas terbatas
-
Distribusi kepemilikan tidak merata
Rully menegaskan, jika saham-saham spekulatif tersebut dikeluarkan dari perhitungan, estimasi level indeks bisa berada jauh lebih rendah.
“Jika saham-saham spekulatif itu dikeluarkan dari perhitungan, estimasi kami level indeks seharusnya berada jauh lebih rendah. Artinya, kenaikan headline indeks tidak sepenuhnya mencerminkan kekuatan pasar yang broad-based,” ujarnya.
Kondisi ini menciptakan jarak antara kinerja headline indeks dan persepsi risiko investor institusi global yang mengutamakan kedalaman pasar serta kualitas price discovery.
Free Float Rendah: Kenapa Bisa Jadi Masalah Besar?
Istilah free float mungkin sering terdengar, tapi dampaknya sering kurang dipahami.
Free float adalah porsi saham yang benar-benar beredar di publik dan bisa diperdagangkan bebas di pasar. Jika free float kecil, berarti mayoritas saham dikuasai pemegang saham pengendali atau kelompok tertentu.
Masalahnya?
Semakin kecil free float, semakin mudah harga digerakkan oleh transaksi dalam jumlah terbatas. Pergerakan harga bisa menjadi tidak proporsional terhadap kondisi fundamental perusahaan.
“Semakin kecil free float, semakin besar potensi pengendalian harga oleh pihak tertentu. Risiko manipulasi menjadi lebih tinggi. Ini tidak sesuai dengan best practice pasar modal yang diharapkan investor internasional,” kata Rully.
Dalam kondisi free float tipis, volatilitas harga tidak selalu mencerminkan perubahan kinerja bisnis. Harga bisa terdorong oleh:
-
Ekspektasi sempit
-
Koordinasi pelaku besar
-
Narasi tematik
-
Spekulasi jangka pendek
Bagi pengelola dana global, ini meningkatkan dua risiko sekaligus: risiko likuiditas dan risiko model dalam pengelolaan portofolio.
Narasi Masuk Indeks Global dan Lonjakan Harga Ekstrem
Salah satu pemicu distorsi harga yang diamati adalah ekspektasi masuknya saham tertentu ke indeks global, termasuk indeks milik MSCI.
Narasi tersebut mendorong kenaikan harga ratusan persen pada beberapa emiten, terutama di sektor infrastruktur digital dan energi. Namun kenaikan itu dinilai lebih banyak dipicu ekspektasi teknikal dibanding perbaikan fundamental.
“Kami melihat ada saham yang naik sangat ekstrem karena narasi akan masuk indeks MSCI. Kami memilih tidak melakukan coverage atas saham-saham seperti itu untuk menjaga independensi dan kredibilitas analisis,” ujarnya.
Dengan adanya freeze rebalancing, ekspektasi masuk indeks pada periode evaluasi terdekat praktis batal. Namun pesan yang lebih besar adalah munculnya sinyal bahwa ada isu struktural yang masih perlu dibenahi di tingkat pasar.
Risiko Outflow Pasif hingga US$10 Miliar
Dampak berikutnya yang tak kalah krusial adalah potensi arus keluar dana pasif.
Berdasarkan simulasi bobot dan kepemilikan asing, Mirae memperkirakan potensi outflow dana pasif bisa mencapai sekitar US$10 miliar dalam skenario perubahan klasifikasi pasar atau penyesuaian besar indeks.
Dana indeks pasif bergerak mekanis. Ketika ada perubahan komposisi atau status pasar, mereka wajib menyesuaikan portofolio.
“Dana indeks pasif bergerak mekanis. Kalau ada perubahan klasifikasi atau komposisi, mereka harus menyesuaikan portofolio. Nominalnya bisa sangat besar terhadap tekanan pasar,” kata Rully.
Artinya, tekanan jual bukan lagi soal sentimen jangka pendek, tetapi konsekuensi sistemik dari struktur indeks global.
Dibandingkan Negara Lain, Indonesia Tertinggal?
Rully juga menyinggung bahwa sejumlah negara berkembang lain, seperti India, dinilai lebih progresif dalam memperbaiki standar transparansi dan kredibilitas perdagangan.
Perbaikan tersebut mencakup penguatan regulasi, keterbukaan informasi, serta kedalaman pasar yang lebih solid. Inilah yang membuat investor global menilai pasar tersebut lebih matang.
Jika Indonesia ingin tetap kompetitif dalam perebutan alokasi dana global, pembenahan struktural menjadi kebutuhan mendesak.
Reformasi Struktur Pasar Jadi Kunci Pemulihan Kepercayaan
Pembenahan yang dibutuhkan tidak hanya bersifat kosmetik atau jangka pendek. Investor global memperhatikan beberapa aspek utama:
-
Transparansi konsentrasi kepemilikan
-
Standar keterbukaan informasi yang lebih kuat
-
Pengawasan pola perdagangan tidak wajar
-
Koordinasi kebijakan fiskal dan moneter
Menurut Rully, reli jangka pendek tidak cukup untuk memulihkan kepercayaan.
“Jika pembenahan struktur pasar, transparansi, dan governance dijalankan konsisten, kepercayaan investor bisa pulih bertahap. Tapi sampai ada kejelasan final dari MSCI dan arah kebijakan global, volatilitas masih akan menjadi tema utama,” ujarnya.
Dengan kata lain, risiko manipulasi dan distorsi harga kini menjadi variabel utama dalam menilai eksposur ke pasar saham Indonesia—bukan sekadar pertumbuhan ekonomi atau laba emiten.
Apa Artinya bagi Investor Ritel?
Bagi investor ritel, situasi ini menjadi pengingat bahwa kenaikan indeks tidak selalu berarti pasar dalam kondisi sehat.
Memahami free float, likuiditas, dan struktur kepemilikan kini sama pentingnya dengan membaca laporan keuangan. Selektif memilih saham dan tidak terjebak euforia narasi indeks global bisa menjadi langkah defensif di tengah volatilitas.
Ke depan, arah keputusan MSCI serta respons regulator domestik akan menjadi faktor penentu. Jika reformasi berjalan konsisten, kepercayaan investor global berpeluang pulih secara bertahap.
Kalau kamu ingin mengikuti perkembangan terbaru pasar saham Indonesia dan dampaknya terhadap investor, pantau terus update selanjutnya di AKURAT.CO.
Baca Juga: Tanpa Saham Spekulatif, IHSG Bisa 1.500 Poin Lebih Rendah
Baca Juga: Target Harga Saham BBTN Naik Jadi Rp 1.800 Usai Laba 2025 Lampaui Estimasi, Masih Layak Dibeli?
FAQ
1. Apa yang dimaksud dengan freeze rebalancing MSCI?
Freeze rebalancing adalah penundaan sementara penyesuaian komposisi indeks oleh MSCI. Dalam periode ini, saham baru tidak dimasukkan dan perubahan bobot tidak dijalankan sesuai jadwal normal. Kebijakan ini biasanya diambil ketika ada isu struktur pasar, likuiditas, atau tata kelola yang perlu ditinjau.
2. Mengapa keputusan freeze MSCI penting bagi pasar saham Indonesia?
Karena banyak dana global—terutama dana indeks pasif—mengikuti indeks MSCI sebagai acuan alokasi aset. Jika ada penundaan atau perubahan status, arus dana masuk dan keluar bisa berubah signifikan, memicu volatilitas harga saham.
3. Apa itu free float dan mengapa dianggap krusial?
Free float adalah porsi saham yang beredar dan dapat diperdagangkan publik, tidak dikunci oleh pemegang saham pengendali. Free float rendah membuat likuiditas tipis dan harga lebih mudah digerakkan oleh transaksi pihak tertentu, sehingga meningkatkan risiko distorsi dan manipulasi harga.
4. Mengapa free float rendah dikaitkan dengan risiko manipulasi?
Ketika jumlah saham yang beredar di publik kecil, transaksi dalam volume terbatas bisa mendorong kenaikan atau penurunan harga yang tajam. Struktur ini memudahkan pengaruh terpusat dan melemahkan proses price discovery yang sehat.
5. Apa dampaknya terhadap Indeks Harga Saham Gabungan?
Indeks bisa tampak menguat meski kenaikan hanya ditopang segelintir saham dengan free float kecil dan volatilitas tinggi. Ini membuat reli indeks tidak mencerminkan kekuatan pasar secara luas (broad-based rally).
6. Mengapa investor asing menyoroti governance dan transparansi?
Investor global menilai tata kelola, keterbukaan informasi, dan struktur kepemilikan sebagai fondasi integritas pasar. Kurangnya transparansi dan tingginya konsentrasi kepemilikan meningkatkan risiko praktik tidak wajar dan menurunkan kepercayaan.
7. Bagaimana pandangan riset broker terhadap kondisi ini?
Menurut riset internal Mirae Asset Sekuritas, kenaikan indeks sebelumnya banyak ditopang saham spekulatif dengan konsentrasi kepemilikan tinggi. Mereka menilai penguatan pasar belum sepenuhnya solid karena arus dana asing masih keluar dan partisipasi saham besar tidak merata.
8. Apa risiko arus dana keluar (outflow) terkait isu indeks global?
Jika terjadi perubahan komposisi atau klasifikasi indeks, dana pasif global bisa melakukan penyesuaian portofolio secara otomatis. Nilainya bisa mencapai miliaran dolar dan memberi tekanan besar pada harga saham domestik.
9. Apakah freeze MSCI berarti saham Indonesia akan dikeluarkan dari indeks global?
Tidak otomatis. Freeze berarti penyesuaian ditunda. Namun, ini menjadi sinyal bahwa penyedia indeks sedang mengevaluasi kualitas struktur dan mekanisme pasar sebelum melanjutkan perubahan.
10. Apa yang perlu dibenahi agar kepercayaan investor pulih?
Peningkatan free float, transparansi struktur kepemilikan, pengawasan perdagangan tidak wajar, keterbukaan risiko konsentrasi, serta konsistensi kebijakan regulator. Reformasi struktural ini dinilai lebih penting daripada sekadar mendorong reli jangka pendek.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









