Accenture Bagikan 6 Tren Utama Industri Perbankan di 2026

AKURAT.CO Industri perbankan kini memasuki babak baru, seiring memudarnya berbagai batasan yang selama ini dianggap tak terelakkan. Selama puluhan tahun, keterbatasan teknologi, struktur organisasi, toleransi risiko, bahkan cara berpikir, kerap menjadi justifikasi tak tertulis untuk mempertahankan kondisi yang ada.
Hari ini, kemampuan untuk meningkatkan kapasitas tanpa menambah tenaga kerja, mempercepat pengembangan tanpa lonjakan biaya, serta mengoperasikan proses inti dengan dukungan AI turut mendorong industri perbankan beralih dari sekadar wacana masa depan menjadi realitas yang dapat diwujudkan saat ini. Momentum ini menuntut bank untuk tidak lagi menunda, melainkan berani mengambil keputusan.
Era Baru Penuh Peluang
Berbagai tren yang membentuk tahun 2026 menandai sebuah titik perubahan yang jelas bagi industri perbankan. Bagi sebagian institusi, perubahan ini mungkin terasa datang secara tiba-tiba. Namun, bagi para pemimpin, momen ini justru menghadirkan peluang langka untuk mendefinisikan ulang arah dan masa depan industri.
Fondasi perbankan akan tetap kokoh, bertumpu pada kepercayaan, keamanan, dan hubungan antarmanusia. Sementara itu, cara bank beroperasi, berinovasi, dan melayani nasabah akan terus berkembang. Masa depan yang terbentuk adalah perbankan yang lebih cepat, lebih cerdas, dan yang terpenting, lebih berorientasi pada manusia.
Baca Juga: OJK Rampungkan Penyidikan Tindak Pidana Perbankan di BPR Panca Dana
Di tengah skala perubahan yang begitu besar, budaya organisasi, bukan semata teknologi atau kekuatan neraca, berpotensi menjadi keunggulan yang paling menentukan. Bank yang mampu menyeimbangkan rasa ingin tahu dengan disiplin eksekusi, inovasi dengan ketahanan, serta otomatisasi dengan empati akan menjadi institusi yang kelak memandang tahun 2026 sebagai titik keberhasilan penting.
Menurut Banking Lead, Accenture Indonesia, Tri Hindriasari, industri perbankan tengah memasuki era baru yang ditandai oleh runtuhnya berbagai batasan yang selama ini membentuk cara bank beroperasi. Selama puluhan tahun, keterbatasan teknologi, struktur organisasi, dan pendekatan pengelolaan risiko menentukan ruang gerak bank. Kini, konvergensi generative AI, agentic AI, aset digital, dan model bisnis baru tidak hanya menantang batas-batas tersebut, tetapi juga membentuk ulang industri secara mendasar.
Sebagaimana tercermin dalam berbagai tren yang kami amati, perubahan ini menuntut bank untuk memisahkan kapasitas pertumbuhan dari ketergantungan pada jumlah tenaga kerja dan infrastruktur fisik. Bank juga dapat memperoleh pemahaman risiko yang lebih menyeluruh dan bersifat real-time, sekaligus mengubah pengalaman nasabah menjadi rangkaian interaksi yang berkesinambungan.
"Bagi perbankan di Indonesia, inilah saatnya melampaui perubahan yang bersifat inkremental dan mulai membayangkan kembali bagaimana pekerjaan dilakukan, bagaimana kepercayaan dibangun, dan bagaimana manfaat dapat diciptakan, sehingga industri perbankan dapat tumbuh secara tangguh dan inklusif dalam masa depan yang semakin terbuka," tuturnya.
6 Tren Utama Industri Perbankan
Berikut adalah 6 tren utama industri perbankan 2026 menurut Accenture, yang disusun berdasarkan ratusan keterlibatan dengan klien global serta diskusi intensif dengan pimpinan perusahaan sepanjang satu tahun terakhir. Tren-tren ini menggambarkan tantangan sekaligus peluang yang akan dihadapi industri perbankan dalam menapaki masa depan; sebuah masa di mana teknologi legacy dan pola pikir tradisional tidak lagi menjadi penghambat skala, efisiensi, maupun inovasi.
1. Evolusi Uang di Era Digital
Uang kini memasuki fase baru yang tidak lagi ditentukan oleh bentuknya, melainkan oleh cara ia bergerak dan bekerja untuk kepentingan pemiliknya. Mata uang digital seperti stablecoin, Central Bank Digital Currencies (CBDC), dan deposit yang ditokenisasi turut bergerak dari tahap eksperimen menuju penerapan berskala besar.
Pada saat yang sama, pembayaran terprogram atau programmable payments menjadikan transaksi lebih cerdas, di mana uang tidak hanya berpindah nilai, tetapi juga membawa data, konteks, dan sinyal kepatuhan (compliance signal) secara otomatis. Menurut riset Accenture, hingga USD 13 triliun nilai transaksi berpotensi bermigrasi ke metode pembayaran alternatif sebelum dekade ini berakhir. Tanpa langkah yang tepat, industri perbankan berisiko kehilangan pendapatan berbasis biaya hingga miliaran dolar.
Transformasi yang sesungguhnya terjadi ketika kecerdasan berpadu dengan nilai digital. Melalui uang terprogram, dana dapat bergerak secara otomatis berdasarkan aturan dan kebutuhan nasabah, seperti pengelolaan imbal hasil, penjadwalan penyelesaian transaksi, dan eksekusi instruksi tanpa intervensi manusia. Perubahan ini menuntut bank untuk tidak lagi bergantung pada simpanan bersifat pasif atau pola arus pembayaran yang selama ini relatif stabil.
Ke depan, pimpinan industri perbankan perlu menetapkan strategi mata uang digital yang jelas, selaras dengan kebutuhan nasabah yang terus berkembang, sekaligus membangun fondasi aman untuk mendukung pembayaran berbasis agen atau agentic payments.
2. Pengalaman Nasabah di Era Baru Perbankan
Seiring antarmuka AI berkembang dari sekadar alat otomatisasi menjadi asisten yang mampu berkomunikasi sesuai konteks, ekspektasi nasabah pun berubah secara mendasar. Perubahan ini setara dengan pergeseran besar yang terjadi pada gelombang awal digitalisasi. Perbankan kini tak lagi terbatas di aplikasi dan situs web, karena asisten AI mulai menjadi titik awal utama dalam interaksi dengan nasabah.
Nasabah berharap bank dapat hadir dan relevan di mana pun mereka berada, termasuk di dalam platform berbasis AI seperti ChatGPT. Mereka juga menginginkan panduan secara real time melalui pengalaman yang terasa personal dan mulus, menyerupai interaksi dengan seorang bankir yang memahami kebutuhan mereka. Ketika bank gagal untuk mengenali nasabah atau mengingat preferensi yang sudah ada, pengalaman tersebut justru menimbulkan jarak dan ketidaknyamanan.
Di sisi lain, kemampuan AI juga membuka peluang bagi pihak ketiga untuk berada di antara bank dan nasabah, sehingga meningkatkan risiko disintermediasi. Situasi ini mencerminkan tantangan yang pernah dihadapi industri perbankan saat kemunculan dompet digital. Meski demikian, kehadiran fisik tetap memiliki peran penting sebagai sumber kepercayaan, terutama dalam situasi kompleks yang membutuhkan penjelasan dan kepastian.
Ke depan, pengalaman nasabah akan dibentuk oleh perpaduan antara kemudahan berbasis AI dan hubungan manusia yang bermanfaat. Bank yang unggul adalah mereka yang mampu mengelola dan menjaga kesinambungan pemahaman atas kebutuhan nasabah di setiap titik interaksi, baik melalui kanal milik sendiri maupun melalui platform pihak ketiga.
3. Dunia Kerja dan Talenta di Era Agentic AI
Agentic AI mendorong perubahan mendasar dalam cara kerja dengan menghilangkan keterbatasan kapasitas yang selama ini dianggap wajar. Konsep “10x bank”, di mana satu pegawai dapat mengoordinasikan berbagai kapabilitas AI untuk menghasilkan dampak yang jauh lebih besar, mulai terlihat dalam praktik di lapangan.
Implementasi awal menunjukkan hasil nyata, termasuk peningkatan produktivitas pengembangan software, percepatan proses Know Your Customer (KYC), serta pengambilan keputusan risiko yang lebih adaptif.
Skala perubahan ini sebanding dengan transformasi yang dipicu oleh kehadiran teknologi spreadsheet atau internet. Namun, manfaat tersebut tidak akan tercapai hanya melalui teknologi. Para pimpinan perlu mendorong perubahan nyata dalam cara kerja, bukan sekadar mengadopsi teknologi baru.
Sejarah menunjukkan bahwa ketika bank menerapkan teknologi baru dengan kepemimpinan yang kuat, perubahan tersebut justru membuka peluang kerja baru, bukan menguranginya. Bank yang menata ulang peran kerja, membekali karyawan dengan pemahaman AI yang memadai, serta membangun cara kerja yang jelas antara manusia dan AI akan lebih siap mengubah disrupsi menjadi keunggulan jangka panjang.
Dalam konteks ini, budaya kepemimpinan menjadi faktor pembeda yang krusial. Pada masa awal internet, banyak karyawan menyambut perubahan peran dengan antusias. Sebaliknya, kemunculan generative AI memicu kekhawatiran di kalangan pekerja.
Pemimpin perlu menempatkan teknologi ini sebagai peluang untuk berkembang, bukan sebagai ancaman, serta menumbuhkan rasa ingin tahu dan kepercayaan di dalam organisasi. Satu hal yang perlu dicermati adalah perbedaan antara efisiensi dan pertumbuhan. Setiap organisasi dapat memperoleh manfaat dari penghematan biaya, tetapi peluang pendapatan hanya dapat dimenangkan satu kali.
Bank yang hanya berfokus pada peningkatan produktivitas berisiko, akan tertinggal dari mereka yang memanfaatkan AI untuk mendorong pertumbuhan pendapatan. Ironisnya, untuk menangkap peluang tersebut, bank justru akan membutuhkan lebih banyak talenta, bukan lebih sedikit.
4. Masa Depan Teknologi: Saat Efisiensi Semu Jadi Beban Biaya
Selama beberapa dekade, bank berfokus pada investasi besar pada pengalaman digital nasabah, sementara modernisasi teknologi inti yang lebih kompleks sering kali ditunda.
Solusi cepat yang awalnya dirancang untuk memenuhi kebutuhan jangka pendek kemudian berubah menjadi ketergantungan jangka panjang. Akibatnya, utang teknis terus menumpuk dan struktur biaya meningkat jauh lebih cepat dibandingkan dengan pendapatan, karena sebagian besar anggaran teknologi terserap hanya untuk menjaga sistem lama tetap beroperasi.
Pendekatan yang dulu dianggap paling efisien kini justru menjadi beban yang mahal. Kondisi ini membatasi ruang gerak bank dan meningkatkan risiko operasional. Perbedaan utama saat ini adalah bahwa modernisasi teknologi akhirnya dapat dilakukan dengan kecepatan dan struktur biaya yang selaras dengan kebutuhan industri. Generative AI mempercepat berbagai tahapan, mulai dari memahami sistem dan kode inti hingga menghasilkan kode langsung dari spesifikasi bisnis.
Di saat yang sama, bank semakin memanfaatkan open source, arsitektur modular, dan platform bersama untuk menekan biaya dan mengarahkan investasi pada area yang benar-benar menciptakan keunggulan kompetitif. Dalam era di mana ketahanan, kemampuan beradaptasi, dan kepercayaan menjadi penentu daya saing, modernisasi tidak lagi bersifat opsional, melainkan sebuah keharusan.
5. Masa Depan Risiko dan Regulasi dalam Perspektif Menyeluruh
Dalam praktiknya, manajemen risiko di perbankan masih sering terfragmentasi. Bank memiliki visibilitas yang sangat kuat pada masing-masing jenis risiko, namun kerap kehilangan pemahaman atas gambaran keseluruhan.
Risiko keuangan, operasional, siber, dan geopolitik kini saling berkaitan dan berkembang secara bersamaan, menciptakan kompleksitas yang bahkan sulit ditangkap oleh institusi yang paling siap sekalipun. Padahal, setiap tahun bank mengalokasikan puluhan miliar dolar untuk fungsi risiko dan kepatuhan. Namun, banyak diantaranya masih mengelola risiko secara terpisah, tanpa memahami secara utuh bagaimana satu risiko dapat memicu atau memperbesar risiko lainnya.
Tahap selanjutnya adalah orkestrasi. Bank perlu membangun arsitektur risiko yang terintegrasi, yang mampu menghubungkan data di seluruh organisasi, didukung oleh model AI yang dapat mengidentifikasi pola secara real-time, serta budaya kerja di mana setiap karyawan memahami bahwa pengelolaan risiko merupakan bagian dari tanggung jawabnya.
Institusi yang mampu memadukan teknologi, wawasan, dan penilaian manusia untuk melihat gambaran secara menyeluruh akan berada pada posisi terbaik untuk mengubah ketidakpastian menjadi keputusan dan tindakan yang tepat.
6. Masa Depan Persaingan dalam Perebutan Neraca
Selama berabad-abad, simpanan dan penyaluran kredit menjadi fondasi utama perbankan sekaligus sumber pendapatan terbesar industri. Dalam beberapa dekade terakhir, neobank dan perusahaan fintech berhasil membangun ceruk bisnis yang menguntungkan dengan mengambil sebagian aliran pendapatan di area pendukung perbankan, seperti layanan pembayaran. Kini, fokus persaingan bergeser langsung ke neraca bank.
Di sisi lain, stablecoin mulai bersaing dalam menarik dana simpanan, perusahaan kripto dan pembayaran memperoleh izin perbankan, pembiayaan swasta menantang pasar kredit tradisional, dan antarmuka berbasis AI memungkinkan nasabah mengelola serta mengoptimalkan keuangan mereka secara instan.
Perkembangan ini menempatkan lebih dari USD200 triliun simpanan dan pinjaman yang sebelumnya dianggap relatif aman dalam posisi terancam. Tantangan utamanya adalah bagaimana bank dapat mempertahankan kekuatan neraca mereka, sekaligus memanfaatkan dinamika yang sama untuk membuka peluang di pasar baru.
Untuk itu, para pemimpin perbankan perlu melampaui pendekatan berbasis produk terpisah dan membangun proposisi nilai yang terintegrasi, sehingga tidak mudah dilewati oleh agen AI yang semata-mata membandingkan penawaran terbaik. Prinsip dasar perbankan akan tetap bertahan, namun cara bank beroperasi dan bersaing akan berubah secara mendasar.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










