IHSG Oversold, Analis: Berpeluang Rebound
Hefriday | 29 Januari 2026, 12:43 WIB

AKURAT.CO Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali berada dalam tekanan seiring kombinasi sentimen global dan domestik yang belum sepenuhnya kondusif.
Dari sisi teknikal, pergerakan IHSG menunjukkan sinyal jenuh jual atau oversold, sementara dari eksternal pasar masih mencermati arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika (The Fed) dan dinamika harga emas dunia.
Di saat yang sama, pelaku pasar domestik juga masih memfaktorkan dampak kebijakan interim freeze dari MSCI yang dinilai memengaruhi kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia.
Kondisi ini membuat volatilitas IHSG tetap tinggi, meskipun peluang pemulihan atau rebound mulai terbuka apabila sejumlah isu teknis dapat diselesaikan dengan baik.
Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas, M. Nafan Aji Gusta, CTA, CSA, menilai kombinasi indikator teknikal dan sentimen global perlu dicermati secara seimbang oleh investor, khususnya menjelang paruh kedua 2026.
Secara Teknikal, IHSG Masuk Area Oversold
Dari sisi analisis teknikal, IHSG saat ini menunjukkan kondisi jenuh jual berdasarkan indikator Relative Strength Index (RSI). Hal ini terjadi setelah indeks mengalami pelemahan dan menembus sejumlah level teknikal penting.
“Secara teknikal, IHSG mulai oversold berdasarkan indikator RSI setelah breakdown dari MA20 dan MA60 yang masih berada dalam positive crossover,” ujar M. Nafan Aji Gusta dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Kamis (29/1/2026).
Kondisi oversold secara historis kerap membuka peluang terjadinya technical rebound. Namun, realisasi penguatan tetap sangat bergantung pada sentimen lanjutan yang berkembang di pasar, baik dari global maupun domestik.
Sentimen Global: Suku Bunga The Fed dan Lonjakan Harga Emas
Dari faktor eksternal, pasar global saat ini memfaktorkan keputusan The Fed yang menahan suku bunga acuan di level 3,75%. Kebijakan tersebut muncul di tengah tekanan politik serta isu independensi bank sentral AS, terutama menjelang berakhirnya masa jabatan Ketua The Fed Jerome Powell pada Mei 2026.
“Market memfaktorkan terkait penahanan suku bunga The Fed pada 3,75 persen di tengah tekanan politik dan isu independensi The Fed, apalagi menjelang berakhirnya masa jabatan Jerome Powell pada Mei 2026,” jelas Nafan.
Situasi ini turut mendorong penguatan aset lindung nilai. Harga emas dunia tercatat menguat signifikan dan berada di atas level USD 5.400 per ons. Di sisi lain, pelaku pasar juga mulai mengantisipasi peluang pemangkasan suku bunga.
“Market juga memperkirakan terdapat maksimal dua kali pemangkasan suku bunga, khususnya pada H2-2026,” tambahnya.
Sentimen Domestik: Dampak Kebijakan Interim Freeze MSCI
Dari dalam negeri, tekanan terhadap IHSG masih dipengaruhi oleh sentimen kebijakan interim freeze MSCI. Selama isu ini belum sepenuhnya mereda, koreksi indeks dinilai masih berpotensi berlanjut.
“Dari domestik, selama sentimen dampak kebijakan interim freeze MSCI masih kuat, maka IHSG akan terus terkoreksi,” kata Nafan.
Dirinya menekankan pentingnya koordinasi antarlembaga untuk meredam gejolak pasar sekaligus memulihkan kepercayaan investor.
“Koordinasi BEI, OJK, dan KSEI dengan MSCI harus terus ditingkatkan demi mengurangi gejolak serta meningkatkan kepercayaan pasar, transparansi struktur kepemilikan dan free float pasar modal Indonesia,” ujarnya.
Peluang Rebound IHSG Masih Terbuka
Meski tekanan masih terasa, peluang pemulihan IHSG tetap ada apabila persoalan teknis yang menjadi perhatian investor dapat diselesaikan secara komprehensif. Perbaikan kepercayaan pasar dinilai menjadi kunci utama.
“Bila terjadi pemulihan keyakinan pasar ketika isu teknis ini bisa terselesaikan dengan baik, maka IHSG berpeluang rebound,” tukas Nafan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










