Akurat

IHSG Trading Halt Lagi, Analis: Momentum Hunting

Hefriday | 29 Januari 2026, 12:38 WIB
IHSG Trading Halt Lagi, Analis: Momentum Hunting

AKURAT.CO Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mengalami koreksi tajam dalam beberapa waktu terakhir dan bahkan BEI sempat melakukan trading halt atau penghentian sementara. Kondisi ini memicu kekhawatiran investor, khususnya pelaku pasar ritel, di tengah sentimen global yang belum sepenuhnya kondusif.

Meski demikian, analis menilai koreksi pasar saham merupakan fenomena yang wajar dalam siklus pasar modal, terutama setelah IHSG mencetak rekor tertinggi sepanjang masa (all time high).

Vice President Infovesta Utama, Wawan Hendrayana, menegaskan bahwa tekanan yang terjadi saat ini lebih banyak dipicu faktor sentimen, bukan pelemahan fundamental emiten.

Dirinya menilai, secara historis, IHSG selalu mampu bangkit dan kembali ke level tertingginya. Bahkan, dalam kondisi tertentu, koreksi justru membuka peluang bargain hunting bagi investor jangka panjang, terlebih menjelang musim pembagian dividen.

Baca Juga: Apa Itu Trading Halt Saham? Ini Penjelasan Lengkap, Dampak, dan Cara Kerjanya di BEI

Dengan latar potensi aliran dana asing, evaluasi bobot Indonesia di indeks MSCI, serta respons regulator pasar modal, dinamika IHSG saat ini menjadi perhatian penting bagi investor yang mencari strategi paling rasional di tengah volatilitas.

Koreksi IHSG Dinilai Wajar, Pasar Pernah Alami Tekanan Lebih Dalam

Wawan mengingatkan bahwa koreksi pasar saham bukanlah hal baru. Bursa saham Indonesia telah beberapa kali mengalami tekanan tajam akibat sentimen global maupun domestik.

“Koreksi pada pasar saham sebetulnya sesuatu yang wajar. Bursa pernah terkoreksi dalam dengan berbagai alasan. Tahun lalu bahkan pernah terjadi trading halt saat Presiden Trump mengumumkan trade war jilid dua,” ujar Wawan saat dihubungi Akurat.co, Kamis (29/1/2026).

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa volatilitas adalah bagian dari dinamika pasar, bukan sinyal krisis permanen.

Panic Selling dan Isu MSCI Jadi Pemicu Tekanan Saham

Lebih lanjut, Wawan menjelaskan bahwa koreksi IHSG kali ini banyak dipengaruhi oleh panic selling, terutama akibat kekhawatiran investor terhadap potensi keluarnya dana asing.

“Koreksi umumnya terjadi karena panic selling. Tahun ini dipicu oleh potensi keluarnya dana asing jika MSCI menurunkan bobot Indonesia, atau bahkan downgrade ke frontier market apabila transparansi tidak ditingkatkan,” jelasnya.

Situasi ini membuat banyak saham dengan fundamental kuat ikut tertekan, meskipun kinerja bisnis emiten tetap solid.

Fundamental Saham Tetap Kuat, Peluang Bargain Hunting Terbuka

Wawan menegaskan bahwa secara historis, IHSG selalu mampu bangkit setelah koreksi signifikan. “Premisnya, secara historis IHSG selalu bisa kembali ke level tertingginya. Setelah all time high, koreksi 20 persen itu wajar,” katanya.

Dirinya menilai kondisi ini justru menarik bagi investor yang memiliki horizon investasi jangka panjang dan likuiditas memadai.

Musim Dividen Jadi Daya Tarik Tambahan Saham Big Cap

Beberapa saham perbankan besar dinilai menawarkan imbal hasil menarik di tengah pelemahan harga.

“Untuk investor jangka panjang, ini bisa jadi momentum bargain hunting, apalagi mendekati pembagian dividen. BBCA di harga sekitar 6.800 punya potensi dividen sekitar 5 persen. Saham BBRI dan BMRI bahkan bisa lebih tinggi, hingga double digit. Ini jarang terjadi,” ungkap Wawan.

Menurutnya, kombinasi harga murah dan yield dividen tinggi menjadi daya tarik yang sulit diabaikan.

Peran Regulator Krusial untuk Kembalinya Dana Asing

Wawan juga optimistis para pemangku kepentingan pasar modal akan merespons kondisi ini secara serius.

“Kami optimistis OJK, BEI, dan pihak terkait akan melakukan perbaikan serta peningkatan transparansi sesuai standar internasional. Jika itu terjadi, dana asing berpeluang kembali masuk ke pasar domestik,” jelasnya.

Langkah perbaikan tata kelola dinilai menjadi kunci menjaga kepercayaan investor global.

Investor Jangka Pendek Disarankan Tetap Wait and See

Meski peluang terbuka bagi investor jangka panjang, Wawan mengingatkan bahwa sentimen negatif belum sepenuhnya mereda.

“Di sisi lain, sentimen koreksi masih sangat kuat. Untuk investor jangka pendek, sebaiknya wait and see dulu,” tegasnya.

Pendekatan defensif dinilai lebih relevan bagi trader yang mengandalkan pergerakan harga jangka pendek.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Yosi Winosa