BTN Bidik Pertumbuhan Laba Bersih 22 Persen di 2026

AKURAT.CO PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) atau BBTN memasang target pertumbuhan kinerja yang agresif pada 2026. Bank spesialis pembiayaan perumahan ini menargetkan laba bersih tumbuh 20–22% secara tahunan (year on year/yoy), seiring dengan ekspansi kredit yang tetap terjaga dan perbaikan kualitas aset.
Target tersebut disampaikan manajemen BTN di tengah dorongan regulator agar industri perbankan meningkatkan penyaluran kredit untuk menopang pertumbuhan ekonomi nasional.
Direktur Utama BTN, Nixon LP Napitupulu menegaskan, pertumbuhan laba akan ditopang oleh kredit yang tumbuh 8–9%, efisiensi biaya dana (cost of fund), serta rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) yang dijaga di bawah 3%.
Baca Juga: Perkuat Bisnis Beyond Mortgage, BTN Expo 2026 Siap Digelar
Dengan masalah kredit masa lalu yang dinilai sudah terselesaikan, BTN optimistis memasuki 2026 dengan fundamental yang lebih solid. Strategi ini juga diperkuat oleh pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK), khususnya dana murah atau current account and saving account (CASA).
BTN Targetkan Kredit Tumbuh 8–9 Persen pada 2026
Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi VI DPR RI, Direktur Utama BTN, Nixon LP Napitupulu, menyampaikan bahwa pertumbuhan kredit perseroan pada 2026 ditargetkan berada di kisaran 8–9% yoy. Angka ini dinilai realistis dengan tetap memperhatikan kualitas kredit.
“Kita merencanakan sampai tahun depan, loan growth mungkin masih 8–9 persen, tapi ini OJK terus terang minta dinaikkan, karena 12 persen tahun lalu,” ujarnya di Kompleks DPR RI, Jakarta, Senin (26/1/2026).
Menurut Nixon, meski regulator mendorong pertumbuhan yang lebih tinggi, BTN memilih menjaga keseimbangan antara ekspansi dan risiko agar kualitas aset tetap sehat.
Laba Bersih 2026 Didukung Perbaikan Kualitas Kredit
Optimisme BTN terhadap target laba 2026 didasarkan pada perbaikan struktur kredit yang sudah dilakukan dalam beberapa tahun terakhir. Nixon menyebut, persoalan kredit masa lalu telah diselesaikan sehingga menjadi landasan kuat untuk mencetak pertumbuhan laba yang lebih tinggi.
“Net profit kita masih berani tulis 20–22 persen, karena memang masalah-masalah kredit masa lalunya sudah selesai. Jadi sudah bersih,” kata Nixon.
Selain itu, BTN menargetkan NPL berada di bawah 3%, yang menjadi level terendah perseroan dalam beberapa tahun terakhir.
Cost of Fund Turun, Efisiensi Jadi Kunci
Dari sisi pendanaan, BTN juga fokus menekan biaya dana agar margin tetap terjaga. Perseroan menargetkan cost of fund di bawah 3,6%, sementara biaya kredit (cost of credit) diperkirakan berada di kisaran 1–1,2%.
“Cost of fund-nya juga kita turunkan di bawah 3,6 persen. Cost of credit-nya bisa naik sedikit jadi 1–1,2 persen, dan NPL pertama kali nanti kita di bawah 3 persen,” ujar Nixon.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi efisiensi untuk menjaga profitabilitas di tengah persaingan likuiditas perbankan.
Kinerja 2025: Laba BTN Tembus Rp2,91 Triliun
Hingga November 2025, kinerja BTN tercatat solid. Perseroan membukukan laba bersih sebesar Rp2,91 triliun, tumbuh 21,10% yoy dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp2,40 triliun.
Pertumbuhan laba tersebut ditopang oleh penyaluran kredit dan pembiayaan yang mencapai Rp386,47 triliun per 30 November 2025, atau naik 8,74% yoy dari Rp355,42 triliun pada periode sebelumnya.
DPK Tumbuh Dua Digit, CASA Jadi Andalan
Dari sisi pendanaan, BTN mencatat pertumbuhan dana pihak ketiga yang kuat, seiring fokus perseroan meningkatkan porsi dana murah. Per November 2025, DPK BTN tumbuh 15,77% yoy menjadi Rp423,96 triliun, dibandingkan Rp366,22 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Peningkatan DPK, khususnya CASA, menjadi faktor penting dalam menekan cost of fund dan menjaga daya saing BTN di sektor pembiayaan perumahan.
Fundamental Lebih Bersih, Target 2026 Kian Realistis
Dengan kualitas kredit yang membaik, efisiensi pendanaan, serta pertumbuhan kredit yang terukur, target BTN untuk mencetak laba tumbuh hingga 22% pada 2026 dinilai semakin realistis. Fokus pada dana murah dan pengendalian risiko menjadi kunci agar pertumbuhan tetap berkelanjutan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










