Akurat

Emas Tembus USD5.000, Investor Global Ramai-ramai Cari Aman

Hefriday | 26 Januari 2026, 13:48 WIB
Emas Tembus USD5.000, Investor Global Ramai-ramai Cari Aman

AKURAT.CO Harga emas mencetak sejarah baru. Untuk pertama kalinya, emas spot menembus level USD5.000 per ons, didorong arus deras dana investor global yang beralih ke aset aman (safe haven).

Sepanjang Januari saja, harga emas melonjak lebih dari USD650, sementara kenaikan 8,5% dalam sepekan menjadi lonjakan mingguan terbesar sepanjang sejarah dalam hitungan dolar.

Kenaikan ini juga tercatat sebagai lonjakan persentase mingguan terbesar sejak kepanikan pasar pada Maret 2020, saat pandemi Covid-19 mengguncang sistem keuangan global. Tak hanya emas, harga perak menembus USD100 per ons, naik sekitar 44% sepanjang tahun berjalan.

Baca Juga: Harga Emas Dunia Bakal Tembus USD4.145 per Troy Ounce Pekan Depan Karena Ini

Reli tajam ini mencerminkan meningkatnya kecemasan pasar menghadapi kombinasi tiga risiko besar sekaligus: eskalasi perang tarif, ketidakstabilan nilai tukar utama, dan ancaman gangguan fiskal di Amerika Serikat.

Kepercayaan Global Mulai Retak

Strategist TD Securities, Daniel Ghali, menilai reli emas saat ini berakar dari melemahnya kepercayaan terhadap sistem keuangan global, meski belum sepenuhnya runtuh.

“Kepercayaan memang terguncang, tetapi belum benar-benar putus. Namun jika titik itu tercapai, reli emas bisa bertahan jauh lebih lama,” ujar Ghali dikutip dari Wall Street Journal, Senin (26/1/2026).

Tekanan terhadap dolar AS menjadi salah satu katalis utama. Pelemahan dolar terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik, tekanan politik terhadap Ketua The Federal Reserve Jerome Powell, serta ketidakpastian kebijakan tarif Presiden Donald Trump.

Baca Juga: Apa Itu Bullion Bank dan Bagaimana Perannya di Pasar Emas Dunia

Di saat yang sama, kebijakan pemangkasan suku bunga The Fed menekan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan instrumen pasar uang. Kondisi ini menurunkan biaya peluang (opportunity cost) memegang emas, sehingga logam mulia semakin menarik bagi investor.

Bank Sentral Borong Emas, Saham Dinilai Terlalu Mahal

Permintaan emas juga menguat dari sisi bank sentral. Cina tercatat membeli emas selama 14 bulan berturut-turut, sementara bank sentral Polandia baru-baru ini menyetujui pembelian emas dalam jumlah besar.

Di sisi lain, indikator valuasi pasar saham mengirim sinyal peringatan. Rasio price to earnings (P/E) yang disesuaikan secara siklus menunjukkan valuasi saham global kini berada di level tertinggi sejak gelembung dot-com tahun 2000. Kondisi ini mendorong investor mencari alternatif aset yang dinilai lebih defensif.

Tiga Risiko Besar yang Membayangi Pasar

1. Ketegangan Tarif AS, Kanada, dan Cina

Ancaman tarif kembali mencuat setelah Presiden Trump menyatakan akan mengenakan tarif hingga 100% terhadap Kanada jika negara itu melanjutkan kerja sama dagang dengan Cina. Perdana Menteri Kanada, Mark Carney, membantah adanya rencana perjanjian dagang bebas dengan Cina.

“Kami tidak berniat membuat kesepakatan dagang bebas dengan Cina atau ekonomi nonpasar lainnya,” tegas Carney.

Meski begitu, ketegangan tetap tinggi setelah Trump menyebut kebijakan Kanada sebagai “salah satu kesepakatan terburuk sepanjang sejarah” dan menuding Kanada berpotensi menjadi pintu masuk produk murah Cina ke AS.

2. Ancaman Intervensi Yen

Yen Jepang menguat 0,7% ke level 154,58 per dolar AS, memicu spekulasi intervensi di pasar valuta asing. Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi memperingatkan pemerintah siap menghadapi pergerakan nilai tukar yang tidak wajar.

Chief market strategist Miller Tabak, Matt Maley, menilai intervensi yen berisiko memicu gejolak di pasar global.

“Intervensi bisa mendorong unwinding carry trade yen, yang pada akhirnya meningkatkan volatilitas di berbagai aset berisiko,” kata Maley dikutip dari Bloomberg.

3. Peluang Shutdown Pemerintah AS

Ketidakpastian fiskal AS kembali mencuat jelang tenggat anggaran 31 Januari. Prediksi pasar menunjukkan peluang shutdown pemerintah AS melonjak hingga 78,5%. Meski tidak semua lembaga terdampak, gangguan operasional pemerintah dinilai cukup untuk memperburuk sentimen pasar.

Pasar Masuk Mode Bertahan

Kombinasi risiko geopolitik, moneter, dan fiskal ini membuat investor global semakin defensif. Lonjakan volume perdagangan Bitcoin sepanjang akhir pekan menjadi indikasi pasar mulai masuk mode panik.

Dengan agenda krusial seperti keputusan FOMC The Fed, tenggat anggaran AS, pemilu Jepang, serta rilis kinerja raksasa teknologi global, volatilitas diperkirakan masih akan tinggi dalam waktu dekat.

Rekor tertinggi emas dan perak mengirim pesan yang tegas: pasar global tengah mencari perlindungan, bukan pertumbuhan agresif.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Andi Syafriadi