Akurat

Xdana Tutup Usaha di Tengah Pertumbuhan AUM Industri Reksa Dana

M. Rahman | 15 Januari 2026, 17:35 WIB
Xdana Tutup Usaha di Tengah Pertumbuhan AUM Industri Reksa Dana

AKURAT.CO Keputusan PT Xdana Investa Indonesia tutup usaha menjadi sorotan di industri keuangan dan investasi digital Indonesia.

Perusahaan yang berstatus sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD) sekaligus Penasihat Investasi ini secara resmi mengumumkan rencana penonaktifan operasional serta pengembalian izin usaha kepada regulator.

Langkah tersebut cukup mengejutkan, mengingat kondisi industri reksa dana nasional justru sedang berada dalam fase pertumbuhan agresif. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan aset kelolaan reksa dana mencapai level tertinggi sepanjang sejarah pada akhir 2025.

Isunya, Xdana masih menelan korban bukan dari sisi investor, melainkan dari mantan karyawan yang tak digaji sejak tahun 2020.

Baca Juga: OJK Respons Ribuan Aduan DC Fintek

Di tengah optimisme industri, kabar Xdana tutup usaha memicu pertanyaan dari investor ritel, khususnya generasi muda: apa penyebab penutupan, bagaimana dampaknya bagi pengguna, dan pelajaran apa yang bisa diambil dari kasus ini?

Xdana Tutup Usaha: Pengumuman Resmi Manajemen

PT Xdana Investa Indonesia mengumumkan rencana penonaktifan perusahaan melalui pengumuman resmi pada pertengahan pekan lalu. Dalam pernyataan yang dikutip Minggu (11/1/2026), manajemen menyatakan proses penutupan akan dilakukan sesuai ketentuan hukum yang berlaku.

Perusahaan juga menegaskan komitmen untuk menyelesaikan seluruh hak dan kewajiban kepada pihak ketiga. Pihak-pihak tersebut mencakup karyawan, kreditor, serta mitra usaha yang selama ini bekerja sama dengan Xdana.

Batas Waktu Pengajuan Kepentingan

Manajemen meminta seluruh pihak yang memiliki kepentingan dengan PT Xdana Investa Indonesia untuk segera menghubungi kantor pusat perusahaan. Batas waktu penghubungan ditetapkan maksimal 30 hari sejak tanggal pengumuman.

Langkah ini bertujuan memastikan proses penutupan berjalan tertib, transparan, dan sesuai regulasi yang berlaku di sektor jasa keuangan.

Profil Singkat PT Xdana Investa Indonesia

Mengacu pada informasi di laman LinkedIn resminya, PT Xdana Investa Indonesia berdiri sejak 2015. Perusahaan ini didirikan oleh Denny R. Thaher dan berfokus pada layanan investasi berbasis reksa dana.

Xdana menyasar investor ritel dengan pendekatan digital, sejalan dengan tren investasi online yang berkembang pesat dalam satu dekade terakhir.

Produk dan Layanan Xdana

Produk yang pernah dipasarkan meliputi layanan investment advisor, mutual fund, aplikasi reksa dana, serta investasi reksa dana berbasis digital.

Pada 2019, Xdana sempat meluncurkan sejumlah produk seperti Xdana Pro, Xdana Cash, dan Xdana Syariah untuk menjangkau segmen investor yang lebih luas.

Ironi Xdana Tutup Usaha di Tengah Boom Reksa Dana

Keputusan Xdana tutup usaha terbilang kontras dengan kondisi industri reksa dana nasional. Sepanjang 2025, industri ini mencatat pertumbuhan signifikan dan berkelanjutan.

Data OJK menunjukkan total asset under management (AUM) reksa dana mencapai level tertinggi pada Desember 2025, sekaligus menjadi rekor sejak 2020.

Sepanjang tahun 2025, AUM reksa dana tumbuh 35,94% secara tahunan (year on year) menjadi Rp658,69 triliun. Nilai aktiva bersih (NAB) reksa dana juga meningkat 35,26% menjadi Rp675,32 triliun.

Faktor Global Dorong Minat Investasi

Selain faktor domestik, ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter global turut menopang minat investor terhadap aset berisiko. Instrumen saham dan pendapatan tetap kembali diminati seiring harapan penurunan suku bunga global.

Kondisi tersebut membuka peluang besar bagi industri reksa dana, mengingat instrumen-instrumen tersebut menjadi underlying asset utama produk reksa dana. Namun, kasus PT Xdana Investa Indonesia tutup usaha menunjukkan bahwa peluang industri tidak selalu menjamin keberlangsungan setiap pelaku usaha.

Pelajaran Penting bagi Investor Muda

Penutupan Xdana menjadi pengingat penting bagi investor ritel, khususnya generasi muda. Pertumbuhan industri tidak selalu mencerminkan kesehatan setiap perusahaan di dalamnya.

Investor perlu lebih kritis dalam memilih platform investasi, dengan memperhatikan aspek legalitas, tata kelola, transparansi, dan keberlanjutan model bisnis.

Selektif Berinvestasi pada Fintek

Kasus Xdana tutup usaha menegaskan bahwa seleksi alam tetap berlaku di industri jasa keuangan. Di tengah pertumbuhan reksa dana yang impresif, hanya perusahaan dengan fundamental kuat dan tata kelola solid yang mampu bertahan.

Bagi investor muda, momentum ini menjadi ajakan untuk meningkatkan literasi keuangan dan lebih selektif memilih mitra investasi. Jangan hanya mengikuti tren, tetapi pahami risiko dan kualitas platform secara menyeluruh.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
M. Rahman
Yosi Winosa