Akurat

Sentimen Global Kondusif, IHSG Diprediksi Uji Resistance 9.100

Hefriday | 15 Januari 2026, 07:30 WIB
Sentimen Global Kondusif, IHSG Diprediksi Uji Resistance 9.100

AKURAT.CO Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan melanjutkan tren penguatan pada perdagangan Kamis (15/1/2026), seiring kombinasi sentimen global yang kondusif dan dukungan kebijakan domestik.

Optimisme investor muncul setelah IHSG ditutup menguat 0,94% ke level 9.032,5 pada Rabu (14/1/2026), sekaligus mencetak rekor intraday tertinggi baru di 9.049.

Penguatan ini mempertegas momentum positif pasar saham domestik di awal tahun, didorong ekspektasi penurunan suku bunga global, aliran dana asing, serta penguatan nilai tukar rupiah.

Baca Juga: HSBC: IHSG Diperkirakan Tembus 9.700 di Tahun 2026, Ini Alasannya

Phintraco Sekuritas menilai berlanjutnya ekspektasi pemangkasan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) menjadi katalis utama penguatan pasar. Selain itu, kenaikan harga komoditas dan aksi korporasi emiten turut menopang pergerakan indeks.

Dari sisi makro, rupiah juga menunjukkan performa solid dengan ditutup menguat ke level Rp 16.865 per USD di pasar spot pada Rabu (14/1/2026), yang memperkuat sentimen risk-on di pasar keuangan domestik.

Secara teknikal, IHSG menunjukkan sinyal penguatan lanjutan setelah terbentuknya golden cross, disertai pelebaran histogram positif pada indikator Moving Average Convergence Divergence (MACD).

Kondisi ini mengindikasikan momentum bullish masih terjaga dalam jangka pendek. Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG berpotensi menguji area resistance di kisaran 9.070 hingga 9.100 pada perdagangan Kamis.

Meski demikian, investor tetap perlu mewaspadai potensi aksi ambil untung (profit taking), terutama menjelang periode libur panjang (long weekend). Secara historis, tekanan jual jangka pendek kerap muncul ketika indeks berada di level psikologis tinggi, meskipun tren utama masih berada dalam jalur penguatan.

Dari sisi kebijakan domestik, sentimen positif juga datang dari agenda hilirisasi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Pemerintah berencana menghidupkan kembali proyek gasifikasi batu bara menjadi dimethyl ether (DME) pada 2026 sebagai bagian dari strategi substitusi liquefied petroleum gas (LPG). Proyek ini dinilai dapat memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus meningkatkan nilai tambah sektor pertambangan.

Baca Juga: Tekanan Global Masih Membayangi, IHSG Berpotensi Konsolidasi

Sejalan dengan itu, holding industri pertambangan MIND ID bersama PT Pertamina (Persero) menjalin kerja sama untuk mempercepat hilirisasi batu bara menjadi berbagai produk energi alternatif, seperti DME, synthetic natural gas (SNG), dan metanol.

Kebijakan ini berpotensi memberikan sentimen positif bagi emiten batu bara, khususnya yang memiliki porsi penjualan domestik, karena membuka peluang permintaan baru dari sektor energi dalam negeri.

Dari kawasan regional, mayoritas indeks saham Asia ditutup menguat pada Rabu (14/1/2026). Bursa Jepang mencatatkan rekor tertinggi, didorong ekspektasi pemilu sela pada Februari serta fenomena yang dikenal sebagai “Takaichi trade”.

Kondisi ini ditandai dengan pelemahan yen Jepang, penurunan harga obligasi, dan penguatan pasar saham, seiring harapan terhadap kebijakan pro-pertumbuhan dari Perdana Menteri Jepang.

Sementara itu, China mencatat surplus neraca perdagangan sebesar USD1,19 triliun sepanjang 2025, dengan ekspor tumbuh 5,5% dan impor relatif stagnan. Di tengah tekanan tarif dari Presiden AS Donald Trump, China mengalihkan fokus ekspornya dari pasar Amerika Serikat ke Uni Eropa dan Asia Tenggara, yang berpotensi menjaga stabilitas aktivitas perdagangan regional.

Di Eropa, pasar saham dibuka bervariasi pada Rabu (14/1/2026). Investor cenderung wait and see menantikan pertemuan Menteri Luar Negeri AS dengan pejabat Greenland dan Denmark pada Kamis (15/1/2026), di tengah upaya lanjutan Presiden Trump terkait isu pengambilalihan Greenland yang menambah dinamika geopolitik global.

Untuk perdagangan Kamis (15/1/2026), Phintraco Sekuritas merekomendasikan sejumlah saham untuk strategi trading jangka pendek, yakni BRIS, BMRI, BBTN, PSAB, dan SSIA, dengan tetap memperhatikan manajemen risiko di tengah potensi volatilitas pasar.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Andi Syafriadi