Hipmi: Penguatan IHSG Jangan Berhenti di Investor Besar

AKURAT.CO Penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada awal tahun 2026 dinilai menjadi sinyal positif bagi perekonomian nasional.
Namun, Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) menegaskan bahwa tren positif di pasar modal tersebut perlu segera diikuti dengan kebijakan konkret agar dampaknya benar-benar terasa di sektor riil, khususnya bagi pengusaha menengah dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Ketua Badan Pengurus Pusat Hipmi Bidang Sinergitas Danantara, BUMN dan BUMD, Anthony Leong mengatakan, penguatan IHSG tidak boleh berhenti sebagai indikator kepercayaan investor besar semata.
Baca Juga: Fiskal-Moneter Kian Akur, Purbaya Optimistis IHSG Tembus 10.000 di 2026
Pemerintah, menurut dia, perlu memastikan bahwa kebijakan ekonomi yang ditempuh bersifat inklusif dan mampu menjangkau pelaku usaha di berbagai skala.
Anthony menilai, perluasan akses pembiayaan dengan biaya yang terjangkau menjadi salah satu kunci agar pelaku usaha menengah dan UMKM dapat memanfaatkan momentum penguatan pasar modal.
Selain itu, insentif usaha serta penyederhanaan regulasi dinilai penting agar keberlanjutan usaha dapat terjaga di tengah tantangan ekonomi global.
“Pasar modal yang menguat harus diterjemahkan menjadi penguatan ekonomi riil. Di sinilah peran pengusaha kelas menengah dan UMKM menjadi sangat penting,” ujar Anthony dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Minggu (4/1/2026).
Dirinya menegaskan, Hipmi siap menjadi mitra strategis pemerintah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah dan organisasi pengusaha diperlukan agar manfaat pertumbuhan ekonomi tidak hanya dirasakan oleh kelompok tertentu, melainkan menyebar lebih merata.
Baca Juga: IHSG Cetak Rekor di 2025: Tembus ATH 8.710 dan Kapitalisasi Rp16.000
Anthony juga menyoroti pola kebijakan yang selama ini dinilai masih terpolarisasi. Perhatian pemerintah kerap terfokus pada UMKM skala mikro di satu sisi dan korporasi besar di sisi lain, sementara pengusaha menengah justru berada di wilayah abu-abu dan kurang mendapatkan dukungan yang memadai.
Padahal, kelompok pengusaha menengah memiliki peran strategis dalam perekonomian nasional. Selain menyerap tenaga kerja dalam jumlah signifikan, sektor ini juga terhubung langsung dengan rantai pasok nasional dan menjadi penghubung penting bagi UMKM untuk naik kelas.
“Pengusaha menengah ini sering berada di wilayah abu-abu. Tidak lagi kecil, tapi belum besar. Padahal mereka adalah tulang punggung ekonomi, pencipta lapangan kerja, dan jembatan penting bagi UMKM untuk naik kelas,” kata Anthony.
Lebih lanjut, ia menilai penguatan IHSG di awal 2026 mencerminkan optimisme pasar terhadap fundamental ekonomi Indonesia serta arah kebijakan pemerintah yang dinilai semakin fokus pada stabilitas dan pertumbuhan jangka menengah hingga panjang.
Optimisme ini, menurutnya, harus dijaga dengan konsistensi kebijakan yang berpihak pada penguatan sektor riil.
Anthony juga menyampaikan apresiasi kepada Menteri Keuangan atas komitmen pemerintah dalam menjaga stabilitas fiskal dan memberikan arah kebijakan ekonomi yang jelas. Fondasi tersebut dinilai penting bagi pelaku usaha untuk meningkatkan kapasitas produksi dan daya saing.
“Ini fondasi penting agar pengusaha, terutama di sektor menengah dan UMKM, berani berinvestasi dan melakukan ekspansi,” ujarnya.
Sebagai informasi, IHSG Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Jumat (2/1/2026) ditutup menguat seiring optimisme pelaku pasar di awal tahun 2026. IHSG naik 101,19 poin atau 1,17% ke level 8.748,13, sementara indeks LQ45 turut menguat 5,42 poin atau 0,64% ke posisi 852,00. Penguatan ini diharapkan dapat menjadi momentum untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata dan berkelanjutan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









