Bappenas: Indonesia Bisa Geser China, Jadi Pemilik Geopark Terbanyak

AKURAT.CO Indonesia berpeluang menjadi negara dengan jumlah geopark terbanyak di dunia jika seluruh kawasan potensial berhasil mendapatkan status UNESCO Global Geopark (UGGp).
Hal itu disampaikan Menteri PPN/Kepala Bappenas, Rachmat Pambudy, dalam sebuah forum geopark nasional di Jakarta, Rabu (3/12/2025).
Rachmat menyebut Indonesia saat ini memiliki 12 geopark berstatus global dari total 241 UGGp di seluruh dunia. Jumlah itu sudah menempatkan Indonesia sejajar dengan Italia dan hanya tertinggal dari China (49 UGGp) dan Spanyol (18 UGGp).
Baca Juga: Gap Pendanaan Iklim RI Sentuh USD757,6 Miliar, Bappenas Luncurkan ITF
Menurutnya, kekayaan geologi dan karakteristik geografis tropis menjadi modal besar bagi Indonesia untuk terus menambah daftar geopark. Banyak situs geologi yang belum tersentuh pendataan formal dan belum diajukan menjadi UGGp.
Rachmat bahkan menyatakan bahwa Indonesia dapat menjadi negara nomor satu di dunia apabila seluruh geopark tropis berhasil didaftarkan. Ia menilai bahwa negara-negara dengan jumlah geopark besar saat ini mayoritas berasal dari kawasan non-tropis.
“Kalau geopark yang kita daftarkan berasal dari wilayah tropis saja, kita bisa nomor satu. Apalagi jika situs-situs yang belum ditemukan juga masuk daftar, maka Indonesia akan menjadi yang terbanyak di dunia,” ujarnya.
Namun, ia mengingatkan bahwa proses menuju status tersebut tidak hanya bergantung pada kekayaan alam. Pengembangan geopark harus diiringi dengan model pengelolaan yang berkelanjutan, berbasis konservasi, dan melibatkan masyarakat lokal.
Geopark, kata Rachmat, tidak sekadar sarana wisata alam. Ia merupakan kawasan terpadu yang menekankan konservasi, edukasi, dan pemberdayaan ekonomi secara simultan.
Pendekatan ini diyakini membuat geopark lebih tahan terhadap tekanan industri pariwisata yang cenderung masif.
Baca Juga: Bappenas Ingin Program Penguatan Pangan dan Gizi Nasional Lebih Komprehensif
Contoh keberhasilan implementasi model tersebut terlihat di Raja Ampat UNESCO Global Geopark. Selain mencatat pendapatan lebih dari Rp22 miliar dari jasa lingkungan pada 2024, kawasan itu juga menyerap ratusan tenaga lokal melalui homestay, resort, dan pemandu wisata.
Dari sisi konservasi, masyarakat terlibat dalam SMART Patrol yang berfungsi menjaga kelestarian satwa endemik. Peran masyarakat dalam menjaga dan mengelola kawasan inilah yang menjadi faktor krusial penilaian UNESCO.
Rachmat menilai keberhasilan geopark tidak hanya memberikan manfaat ekonomi, tetapi juga memperkuat ketahanan lingkungan dan budaya.
Ini sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045, khususnya pilar transformasi ekonomi dan ketahanan sosial-ekologi.
Dengan kekayaan alam yang besar serta peluang yang masih terbuka, Bappenas menilai Indonesia berada pada pijakan yang tepat untuk menjadi pemimpin global dalam pengembangan geopark.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Denmark Terbuka: Kena Kartu Merah di Semifinal, Fajar/Fikri Minta Peraturan Baru Time Clock Ditinjau Ulang
- 2Tumbang Lawan Lazio, Juventus Mulai Pertimbangkan Depak Luciano Spalletti dan Bidik Antonio Conte
- 3Dorongan Hak Angket Ijazah Gibran Menguat, Jokowi Mulai Panik?
- 4Prediksi Skor Roma vs Genoa 18 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan
- 5Korlantas Polri Gelar Bakti Sosial Jumat Sedekah di TPS Rawajati Jakarta Selatan, ke Depannya Akan Dilaksanakan Rutin
- 6Kalender Jawa 17 Oktober 2026: Weton Sabtu Pahing Memiliki Semangat Hidup yang Tinggi
- 7BCA dan BI Gelar Kompetisi QRIS di Royal Plaza Surabaya, Libatkan 475 Tenant
- 8Adira Finance Perkuat Ekspansi Daerah Usai Merger Mandala, Bidik Pasar Indonesia Timur
- 9Prabowo Disarankan Ambil Langkah Taktis Ini Demi Cegah Indonesia Rusuh Seperti Eropa
- 10MAKI Desak KPK Cegah Nusron Wahid ke Luar Negeri






