OJK: Kredit Konsumtif Bakal Melonjak Jelang Nataru 2026
Hefriday | 24 November 2025, 20:57 WIB

AKURAT.CO Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memproyeksikan kredit konsumsi akan kembali menguat menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025–2026.
Selain didorong oleh peningkatan belanja musiman rumah tangga, membaiknya transmisi kebijakan moneter dinilai menjadi faktor penting yang menopang permintaan kredit.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, mengatakan penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia telah mulai direspons oleh perbankan melalui penyesuaian suku bunga kredit dan dana pihak ketiga.
Meskipun penyebarannya bertahap, transmisi tersebut berjalan lebih baik dibanding tahun sebelumnya. “Kredit konsumsi sejauh ini masih tumbuh meski termoderasi. Kinerjanya diperkirakan membaik menuju akhir 2025, ditopang permintaan domestik dan momentum belanja Nataru,” ujar Dian di Jakarta, Senin (24/11/2025).
Hingga September 2025, kredit konsumsi tumbuh 7,42% secara tahunan (year on year/yoy). Kendati demikian, OJK mencatat adanya peningkatan risiko kredit di segmen konsumsi, yang terlihat dari naiknya rasio kredit bermasalah (NPL) menjadi 2,37%, dari 1,85% pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Menurut Dian, pemulihan kredit konsumsi sangat bergantung pada daya beli masyarakat. Oleh karena itu, perbaikan pendapatan rumah tangga menjadi faktor kunci dalam mendorong permintaan pembiayaan.
Perlambatan terutama terlihat pada kredit pemilikan rumah (KPR) dan kredit kendaraan bermotor (KKB). KPR hanya tumbuh 7,26% pada September 2025, turun dari 10,89% pada September 2024. Sedangkan KKB tumbuh 0,72%, jauh lebih rendah dari 9% setahun sebelumnya. Tren penurunan penjualan kendaraan turut menekan kredit otomotif.
Meski dua segmen utama tersebut melambat, pertumbuhan signifikan terjadi pada layanan buy now pay later (BNPL). OJK mencatat BNPL tumbuh 25,49% menjadi Rp24,86 triliun, dengan rasio NPL yang relatif stabil di 2,61%.
Secara keseluruhan, kredit perbankan pada September 2025 tumbuh 7,70% yoy. Pertumbuhan ini sedikit lebih tinggi dibanding bulan sebelumnya yang sebesar 7,56%, dengan total outstanding mencapai Rp8.162,8 triliun.
Berdasarkan jenis penggunaan, kredit investasi mencatat kenaikan tertinggi sebesar 15,18% yoy. Sementara kredit modal kerja tumbuh moderat 3,37% yoy. Kredit konsumsi berada pada posisi kedua dengan performa relatif stabil di tengah penyesuaian pasar.
OJK menilai tren penurunan suku bunga global pada kuartal IV-2025 membuka peluang ruang pelonggaran lebih lanjut di dalam negeri. Namun implementasi penurunan bunga kredit akan sangat bergantung pada strategi masing-masing bank dan struktur biaya dana (cost of fund).
Dengan kombinasi faktor musiman, perbaikan transmisi moneter, dan tren penurunan bunga kredit, OJK optimistis kredit konsumsi akan berada pada jalur pertumbuhan lebih kuat memasuki 2026.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kecelakaan Maut di Afrika Selatan, 21 Orang Tewas dalam Tabrakan Tiga Kendaraan
- 2Terpukau Atmosfer Persija vs Persib di SUGBK, John Herdman: Belum Pernah Saya Rasakan
- 3Apa Itu Gempa Megathrust? Ini Wilayah Indonesia yang Berpotensi Terdampak
- 4Tokoh Partai Reformasi Britania Raya Balas Trump soal Irlandia Bersatu: Jangan Campuri Politik Inggris!
- 5Soal Kabar Jokowi-Megawati Bakal Bertemu, Said Abdullah: Kartunya Mati, Jangan Dihidupkan Lagi
- 6Suahasil Nazara Jadi Menkeu Baru, Ini Sosok dan Perjalanan Kariernya
- 7ACL Two: FC Seoul Siapkan Pemain SMA Lawan Persib Bandung, Anggap Remeh?
- 8Ismed Sofyan Puji Shin Tae-yong Usai Persija Kalahkan Persib, Putuskan Kebuntuan 3 Tahun
- 9Sidang Korupsi Kuota Haji Ungkap Marwan Dasopang Mendorong Kuota Tambahan Tidak Seluruhnya untuk Jemaah Reguler
- 10Fahd A Rafiq Bersama Tujuh Tersangka OTT Summarecon Digiring ke Mobil Tahanan KPK









