Uang Beredar Tumbuh Melambat di Oktober 2025, Capai Rp9.783,1 Triliun
Hefriday | 21 November 2025, 16:38 WIB

AKURAT.CO Bank Indonesia (BI) mencatat likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) tumbuh 7,7% secara tahunan pada Oktober 2025.
Pada periode ini, M2 tercatat mencapai Rp9.783,1 triliun, sedikit melambat dibanding September 2025 yang tumbuh 8% yoy.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menyampaikan bahwa perkembangan M2 tersebut menunjukkan kondisi likuiditas yang tetap terjaga di tengah dinamika perekonomian global maupun domestik.
“Posisi M2 pada Oktober 2025 berada di level Rp9.783,1 triliun dengan pertumbuhan 7,7 persen yoy,” ujarnya dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Jumat (21/11/2025).
Pertumbuhan M2 pada periode tersebut terutama didorong oleh peningkatan uang beredar sempit atau M1, yang tumbuh hingga 11% yoy. Selain itu, uang kuasi juga mengalami kenaikan sebesar 5,5% yoy, sehingga turut menopang likuiditas secara keseluruhan.
Bank Indonesia menjelaskan bahwa pergerakan M2 dipengaruhi oleh beberapa faktor utama, yaitu aktiva luar negeri bersih, kinerja penyaluran kredit, serta perkembangan tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat. Ketiga komponen tersebut memberikan kontribusi berbeda terhadap arah pertumbuhan M2.
Aktiva luar negeri bersih tercatat tumbuh 10,4% yoy pada Oktober 2025. Meski lebih rendah dibanding pertumbuhan September sebesar 12,6% yoy, peningkatan tersebut tetap memberikan dorongan positif terhadap likuiditas perekonomian.
Di sisi lain, penyaluran kredit oleh perbankan tumbuh 6,9% yoy, sedikit melambat dari bulan sebelumnya yang tercatat 7,2% yoy.
Pertumbuhan kredit tersebut hanya mencakup pinjaman dalam bentuk loans dan tidak memasukkan instrumen yang dipersamakan dengan pinjaman seperti surat berharga, tagihan akseptasi, maupun repo.
BI menegaskan bahwa kredit dari kantor bank umum di luar negeri serta penyaluran kepada Pemerintah Pusat dan pihak bukan penduduk tidak dihitung dalam komponen kredit yang digunakan untuk pengukuran M2.
Penyesuaian tersebut dilakukan agar data mencerminkan aktivitas kredit yang langsung memengaruhi perekonomian domestik.
Tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat tercatat tumbuh 5,4% yoy pada Oktober 2025. Angka ini lebih rendah dari pertumbuhan pada September 2025 yang mencapai 6,5% yoy. Penurunan tersebut ikut menahan laju pertumbuhan M2 pada periode laporan.
Selain itu, BI juga mencatat perkembangan uang primer atau M0 adjusted yang tumbuh 14,4% yoy pada Oktober 2025. Kenaikan tersebut melanjutkan pertumbuhan kuat pada September 2025 yang mencapai 18,6% yoy, sehingga posisi M0 adjusted kini berada di level Rp2.117,6 triliun.
Pertumbuhan M0 adjusted terutama dipengaruhi oleh peningkatan signifikan pada giro bank umum di BI yang naik 27,1% yoy, serta kenaikan uang kartal beredar yang mencapai 13,4% yoy. Keduanya berkontribusi terhadap meningkatnya likuiditas dasar perbankan.
BI menjelaskan bahwa pertumbuhan M0 adjusted memperhitungkan dampak dari pemberian insentif likuiditas melalui kebijakan pengendalian moneter yang disesuaikan (monetary control adjusted).
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










