Akurat

ETF Bitcoin dan Altcoin Masih Tertekan

Hefriday | 2 November 2025, 14:17 WIB
ETF Bitcoin dan Altcoin Masih Tertekan

AKURAT.CO Pasar kripto global kembali menghadapi periode stagnasi. Setelah sempat menunjukkan tanda-tanda pemulihan di awal kuartal keempat 2025, kini suasananya berubah drastis.

Arus masuk dana ke produk Exchange-Traded Fund (ETF) kripto mengering, sementara kepercayaan investor ritel perlahan terkikis.

Kelesuan ini menciptakan jeda yang tak hanya bersifat teknis, melainkan juga psikologis. Para analis menilai, stagnasi harga dan lemahnya sentimen menunjukkan kelelahan struktural di pasar aset digital. 

Bitcoin (BTC) dan Ethereum (ETH) yang biasanya menjadi penggerak utama, kini kehilangan momentum dan tertinggal dari saham-saham besar di Wall Street.

Dikutip dari BeInCrypto, Minggu (2/11/2025) menurut analis pasar kripto Miles Deutscher, kondisi ini disebabkan oleh kombinasi beberapa faktor, mulai dari berkurangnya minat institusional hingga pelepasan posisi oleh Digital Asset Trust (DAT).
 

“Permintaan ETF telah mengering dalam beberapa minggu terakhir. Selain itu, terjadi pelepasan posisi DAT pada Bitcoin dan Ethereum,” ujar Deutscher.

Dirinya juga menyoroti bahwa sebagian besar lembaga investasi besar masih menahan posisi, namun lembaga-lembaga kecil mulai mengurangi eksposur terhadap aset digital.
 
Hal ini memperlihatkan adanya upaya perlindungan nilai (hedging) di tengah ketidakpastian arah pasar.

Deutscher mengingatkan bahwa gejolak besar pada 10 Oktober 2025, yang menyebabkan likuidasi massal di pasar kripto, masih meninggalkan dampak psikologis mendalam.

“Peristiwa 10 Oktober benar-benar merusak kepercayaan. Secara psikologis, itu menjadi pukulan berat bagi investor, terutama karena kripto sudah tertinggal dari saham selama beberapa minggu,” ujarnya.

Selain kerugian material, likuidasi besar itu juga memaksa market maker melakukan penyesuaian posisi besar-besaran. Proses ini masih berlangsung hingga kini, yang membuat volatilitas pasar tetap tinggi meski volume perdagangan menurun.

Stagnasi harga yang berkepanjangan tidak hanya berdampak pada investor besar. Trader ritel, yang biasanya menjadi motor penggerak pasar kripto kini menunjukkan tanda-tanda kelelahan emosional.

Aktivitas perdagangan menurun tajam di sejumlah bursa utama. Menurut Deutscher, kondisi ini sepenuhnya dapat dimengerti. Dengan ETF spot mencatat arus keluar bersih dan harga cenderung datar, banyak trader memilih menepi sementara.

Meski demikian, Deutscher menilai pasar kripto masih memiliki peluang untuk bangkit dalam waktu singkat.

“Satu hal yang bisa mengubah semuanya hanyalah satu hal: lonjakan Bitcoin. Bahkan tanpa alasan kuat, reli Bitcoin mampu membalikkan sentimen pasar secara drastis. Ini bukan hal baru itu Bitcoin,” tulisnya dalam laporan terbaru.

Di sisi lain, altcoin adalah aset kripto di luar Bitcoin dan Ethereum juga mengalami kelesuan. Menurut analis Daan Crypto Trades, hanya sekitar 29% dari 50 altcoin teratas yang berhasil mengungguli performa BTC sepanjang tahun ini.

Angka tersebut jauh lebih rendah dibanding siklus 2020–2021, ketika altcoin mendominasi dan memberikan imbal hasil besar bagi investor. Daan menilai, tren saat ini menunjukkan penurunan minat spekulatif dan meningkatnya aversi risiko di kalangan pelaku pasar.

“Selama enam bulan terakhir, tidak pernah ada periode di mana lebih dari 39% altcoin mengungguli Bitcoin. Periode outperformance pun hanya bertahan dua hingga tiga bulan,” jelasnya.

Dalam kondisi seperti ini, ia menyarankan agar investor tidak tergesa-gesa melakukan trading jangka pendek, melainkan fokus pada riset proyek-proyek yang memiliki fundamental kuat. 
 
Tema-tema yang tengah naik daun seperti kecerdasan buatan (AI agent), Real World Assets (RWA), dan pasar prediksi (prediction markets) bisa menjadi area yang layak dipantau.

Menariknya, stagnasi pasar kripto terjadi bersamaan dengan rekor baru di bursa saham global. Saham-saham teknologi besar di AS mencatatkan lonjakan signifikan, membuat aset digital terlihat semakin tertinggal.

Para analis menilai kondisi ini bukan sekadar kebetulan. Investor institusional lebih banyak menempatkan dananya ke pasar saham yang dianggap lebih stabil di tengah ketidakpastian kebijakan moneter AS.

Akibatnya, Bitcoin terkonsolidasi di bawah level resistensi utama, sementara Ethereum belum menunjukkan kekuatan untuk memimpin reli baru.
 
Dalam situasi ini, pergerakan harga kripto lebih banyak ditentukan oleh sentimen dan psikologi pasar ketimbang faktor fundamental.

Laporan terbaru menunjukkan ETF Bitcoin di Amerika Serikat mencatat arus keluar lebih dari US$490 juta dalam sepekan terakhir.
 
Kondisi ini terjadi bersamaan dengan kabar skandal penipuan yang melibatkan salah satu manajer aset besar, BlackRock, yang semakin menekan persepsi investor terhadap ETF kripto.

Bersamaan dengan itu, trust aset digital (DAT) juga mengurangi eksposur mereka terhadap BTC dan ETH untuk menyesuaikan nilai aset bersih. Dampaknya, pasar kripto semakin kehilangan dukungan dari arus modal baru.

Sejumlah analis menilai, kondisi saat ini adalah fase transisi. Tidak ada sinyal kuat dari sisi teknikal maupun fundamental yang menunjukkan potensi reli jangka pendek.

Trader berpengalaman menafsirkan ini sebagai masa “tenang sebelum badai”. Namun tanpa pemicu signifikan, seperti kebijakan moneter baru atau adopsi institusional besar-besaran, sulit berharap pasar akan kembali bergairah dalam waktu dekat.

Satu-satunya katalis positif yang mungkin muncul adalah lonjakan harga Bitcoin spontan, yang kerap terjadi tanpa alasan fundamental jelas namun cukup untuk memicu efek domino terhadap altcoin.

Para pengamat sepakat bahwa kepercayaan pasar menjadi faktor utama yang perlu dipulihkan.
 
Setelah serangkaian kejadian negatif mulai dari likuidasi massal, penurunan ETF, hingga skandal di sektor keuangan digital pelaku pasar masih berhati-hati.

Namun, pola historis menunjukkan bahwa ketika sentimen mencapai titik terendah, justru di sanalah awal fase akumulasi baru dimulai.
 
Banyak investor besar memanfaatkan kondisi seperti ini untuk menambah posisi jangka panjang.

Meski suasana jangka pendek tampak suram, sejumlah analis tetap melihat peluang jangka menengah.
 
Dengan Bitcoin halving yang diperkirakan terjadi tahun depan dan makin banyak negara melonggarkan kebijakan aset digital, pasar kripto masih menyimpan potensi pertumbuhan besar.

Sejumlah perusahaan besar seperti Coinbase, Galaxy Digital, dan MicroStrategy bahkan mencatat kenaikan harga saham di pra-perdagangan (pre-market) pada 31 Oktober 2025.
 
Hal ini menunjukkan minat investor terhadap sektor kripto belum benar-benar padam.

Kelesuan yang kini menyelimuti pasar kripto mungkin hanya sementara. Dalam industri yang sangat dipengaruhi oleh sentimen dan kecepatan informasi, satu pergerakan besar Bitcoin saja bisa mengubah arah permainan.

Bagi investor, momen ini menjadi waktu yang tepat untuk berpikir strategis, meninjau ulang portofolio, dan memperdalam riset terhadap aset yang diyakini memiliki masa depan cerah. 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Yosi Winosa