Akurat

Tarik Investor Global, BEI Gandeng S&P Luncurkan 3 Indeks Baru

Hefriday | 29 Oktober 2025, 16:43 WIB
Tarik Investor Global, BEI Gandeng S&P Luncurkan 3 Indeks Baru

AKURAT.CO PT Bursa Efek Indonesia (BEI) terus memperkuat posisinya di pasar modal global dengan memperkenalkan tiga indeks baru hasil kolaborasi strategis dengan lembaga pemeringkat internasional Standard & Poor’s (S&P). 

Ketiga indeks tersebut adalah S&P/IDX Indonesia ESG Tilted, S&P/IDX Dividend Opportunities, dan S&P/IDX Sharia High Dividend, yang akan resmi diluncurkan pada 3 November 2025.

Langkah ini menjadi bagian dari upaya BEI untuk memperluas daya tarik emiten domestik di mata investor global, terutama bagi mereka yang mengelola dana secara pasif (passively managed funds). 
 
Kepala Divisi Pengembangan Bisnis 2 BEI, Ignatius Denny Wicaksono, menjelaskan bahwa keberadaan indeks baru ini diharapkan dapat memberikan lebih banyak alternatif bagi investor, baik dari dalam maupun luar negeri.
 
Baca Juga: Lewati Tenggat, 9 Emiten Belum Sampaikan Laporan Keuangan ke BEI Terancam Sanksi

“Harapannya adalah investor-investor yang memiliki investasi pasif bisa punya lebih banyak pilihan alternatif. Selain investor lokal yang menggunakan indeks kami, kami juga berharap dana global mulai melirik pasar Indonesia,” ujar Ignatius di Jakarta, Rabu (29/10/2025).

Salah satu indeks unggulan dari kerja sama ini, S&P/IDX Indonesia ESG Tilted, dirancang untuk mengukur kinerja saham-saham berkapitalisasi besar dan menengah yang memenuhi kriteria keberlanjutan (sustainability) sesuai dengan standar S&P.
 
Indeks ini berfokus pada emiten yang memiliki tata kelola perusahaan yang baik serta berkomitmen terhadap prinsip-prinsip keberlanjutan lingkungan dan sosial.

Untuk memenuhi kriteria tersebut, BEI dan S&P mengecualikan emiten yang berasal dari sektor industri yang tidak sejalan dengan prinsip keberlanjutan United Nations Global Compact (UNGC), seperti industri batu bara, tembakau, dan senjata.
 
Langkah ini sejalan dengan tren global yang semakin menekankan investasi berprinsip Environmental, Social, and Governance (ESG).

Ignatius menambahkan, melalui indeks ini BEI berharap semakin banyak perusahaan Indonesia yang dapat masuk ke indeks keberlanjutan global seperti Dow Jones Sustainability Index (DJSI). 
 
“Kerja sama ini bertujuan mendorong emiten domestik agar mampu bersaing di tingkat global. Saat ini, setahu saya, belum ada satu pun perusahaan Indonesia yang berhasil masuk ke DJSI,” ujarnya.

Selain indeks berbasis ESG, BEI juga memperkenalkan dua indeks berbasis dividen, yaitu S&P/IDX Dividend Opportunities dan S&P/IDX Sharia High Dividend.
 
Keduanya menyoroti 30 saham dengan dividend yield tertinggi di pasar Indonesia, memberikan peluang bagi investor yang mencari pendapatan pasif melalui pembagian dividen.

Menurut Ignatius, kedua indeks tersebut menawarkan diversifikasi yang baik bagi investor. “Kalau kita bisa mendiversifikasi portofolio ke 30 perusahaan dengan imbal hasil dividen tertinggi, itu artinya portofolio kita sudah cukup solid dan terdiversifikasi dengan baik,” jelasnya.

Meski sama-sama berbasis dividen, kedua indeks itu memiliki konstituen yang berbeda. S&P/IDX Dividend Opportunities beranggotakan saham-saham dari kelompok S&P Indonesia LargeMidCap #45, yang mewakili perusahaan besar dan menengah dengan kapitalisasi tinggi.
 
Sementara S&P/IDX Sharia High Dividend beranggotakan emiten yang termasuk dalam Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI), sehingga sesuai dengan prinsip investasi syariah.

Ignatius juga mengungkapkan bahwa saat ini sistem perhitungan indeks di BEI masih menggunakan metode price return, yaitu hanya menghitung kenaikan atau penurunan harga saham tanpa memperhitungkan dividen yang dibagikan. Menurutnya, hal ini menjadi salah satu keterbatasan yang sedang dikembangkan oleh BEI.

“Sistem perhitungan indeks kami saat ini belum bisa menghitung total return, yang mencakup dividen. Padahal, banyak saham yang harga pasarnya turun setelah pembagian dividen, sehingga terlihat seperti tidak memiliki performa baik, padahal sebenarnya tetap memberikan nilai tambah bagi investor,” ungkapnya.

Karena itu, BEI berkomitmen untuk terus mengembangkan sistem perhitungan yang lebih adil dengan mengakomodasi faktor dividen dalam evaluasi kinerja indeks. “Kami sedang mengembangkan sistem perhitungan total return index agar lebih merefleksikan performa riil saham, termasuk kontribusi dividen kepada investor,” tambah Ignatius.

Dengan momentum ini, pasar modal Indonesia diharapkan tidak hanya menjadi tempat bagi investor lokal, tetapi juga menjadi destinasi menarik bagi dana-dana global yang mencari keseimbangan antara pertumbuhan dan keberlanjutan. 
 
Melalui kerja sama dengan S&P, BEI berupaya membangun ekosistem investasi yang lebih kuat, inklusif, dan berdaya saing tinggi di tingkat internasional. “Ini bukan hanya soal menciptakan indeks baru, tetapi tentang memperkuat posisi Indonesia di peta investasi dunia,” tukas Ignatius.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Yosi Winosa