Akurat

BI: Pertumbuhan Kredit Baru di Kuartal III-2025 Melambat

Hefriday | 20 Oktober 2025, 20:56 WIB
BI: Pertumbuhan Kredit Baru di Kuartal III-2025 Melambat

AKURAT.CO Bank Indonesia (BI) mencatat penyaluran kredit baru pada kuartal III tahun 2025 menunjukkan pertumbuhan positif, meskipun sedikit melambat dibandingkan kuartal sebelumnya. 

Berdasarkan hasil Survei Perbankan BI, nilai Saldo Bersih Tertimbang (SBT) untuk kredit baru tercatat sebesar 82,33%, turun tipis dari 85,22% pada kuartal II-2025.
 
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menjelaskan bahwa meskipun terjadi perlambatan secara kuartalan, kinerja penyaluran kredit masih menunjukkan arah positif dan berada di level yang lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu atau secara tahunan. 
 
“SBT permintaan kredit baru kuartal III-2025 lebih tinggi dibandingkan kuartal III-2024 yang sebesar 80,64 persen,” ujar Ramdan di Jakarta, Senin (20/10/2025).
 
Secara rinci, perlambatan terutama terjadi pada kredit modal kerja, yang mencatat SBT sebesar 85,09%, lebih rendah dari 88,34% pada kuartal sebelumnya. Namun, dua jenis kredit lainnya, yaitu kredit investasi dan kredit konsumsi, terindikasi relatif stabil, masing-masing dengan SBT sebesar 76,97% dan 56,61%.
 
 
Sementara itu, pada segmen kredit konsumsi, permintaan menunjukkan variasi yang menarik. Kredit tanpa agunan (KTA) mengalami peningkatan dengan SBT 62,31%, diikuti kredit multiguna (60,33%) dan kredit kendaraan bermotor (35,50%). 
 
Sebaliknya, permintaan untuk kredit pemilikan rumah (KPR) dan kredit pemilikan apartemen (KPA) sedikit melemah dengan SBT 48,29%, sementara kartu kredit turun menjadi 43,57%.
 
Meski demikian, outlook ke depan masih optimistis. BI memproyeksikan bahwa penyaluran kredit baru pada kuartal IV-2025 akan meningkat tajam dengan SBT mencapai 96,40%. 
 
Pertumbuhan tersebut diharapkan didorong oleh peningkatan aktivitas ekonomi, terutama pada sektor-sektor produktif.
 
“Prioritas utama bank dalam menyalurkan kredit pada kuartal IV tetap sama, yaitu fokus pada kredit modal kerja, diikuti kredit investasi dan kredit konsumsi,” jelas Ramdan. 
 
Untuk jenis kredit konsumsi, KPR/KPA diperkirakan masih menjadi prioritas utama, disusul oleh kredit multiguna dan kredit tanpa agunan.
 
Dari sisi kebijakan, BI mencatat adanya sikap lebih berhati-hati dari perbankan dalam menyalurkan kredit selama kuartal III-2025. Hal itu terlihat dari Indeks Lending Standard (ILS) yang masih positif sebesar 5,78. 
 
“Kehati-hatian perbankan tercermin pada pengetatan aspek administrasi, agunan, biaya persetujuan kredit, plafon kredit, dan jangka waktu kredit,” ujar Ramdan.
 
Namun, memasuki kuartal IV-2025, standar penyaluran kredit diperkirakan akan lebih longgar, dengan nilai ILS sebesar -5,95, seiring meningkatnya optimisme terhadap kondisi ekonomi nasional yang tetap stabil. 
 
Pelonggaran ini diharapkan dapat mempercepat penyaluran kredit ke sektor-sektor prioritas, termasuk UMKM, industri pengolahan, dan konstruksi.
 
Secara keseluruhan, outstanding kredit hingga akhir 2025 diperkirakan masih tumbuh positif. Prospek tersebut ditopang oleh stabilitas ekonomi makro, kondisi moneter yang kondusif, dan terjaganya risiko pembiayaan. 
 
BI menilai tren ini menunjukkan keyakinan pelaku perbankan terhadap arah pemulihan ekonomi nasional yang semakin kuat.
 
Pertumbuhan penyaluran kredit baru juga diharapkan dapat mendorong aktivitas investasi dan konsumsi masyarakat, sekaligus menjadi motor penggerak ekonomi menuju akhir tahun.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Yosi Winosa